Memperebutkan dan Mempertaruhkan Buleleng dalam Pilkada Gubernur 2013

Secara pribadi, Pilkada Gubernur Bali kali ini cukup menarik. Bukan karena kandidatnya, melainkan karena  pentingnya posisi masyarakat Buleleng dalam percaturan politik Bali sebagai asset yang diperebutkan sekaligus dipertaruhkan.

Karakter masyarakat yang dikenal berwatak keras, bersuara lantang, tanpa tedeng aling-aling, to the point, tanpa basa-basi,  kini suaranya diperebutkan untuk memperkuat “koor” bagi kemenangan para kandidat. Steriotipe yang dilabelkan pada Orang Buleleng ini mirip-mirip orang Batak-lah, dan mirip bonek Surabaya.

Masyarakat Buleleng, tak masalah disebut semacam masyarakat dari ras K9 : buldog (Buleleng Dogen, just Buleleng-nese, Orang Buleleng), Pitbull (pemuda intelek Buleleng). Seruan “Cicing Nani!” (Anjing, Kau!) pun bukan masalah. Itu adalah bentuk bahasa cinta, persahabatan dan solidaritas.

Selain itu,  dalam metafora kehidupan, se-ekor anjing biasanya dianggap   berharga ketika menjadi penjaga tuan dan propertinya (watchdog),  dan pintar menggonggong dan ‘bise makerah’ (pandai bertarung). Selain itu, anjing dipelihara sepanjang tidak menggigit tuan yang memberinya makan dapat ditafsirkan sebagai kesetiaan abdi pada sang Tuan sepanjang tidak berlaku sebaliknya.

Jadi, Mengapa Orang Buleleng menjadi penting dalam politik pilkada Gubernur Bali?

Di sadari atau tidak,  karakter  liar (dalam bahasa yang lebih sopan : liberal), nekad dan mudah diprovokasi untuk berkelahi  ini juga menjadi nilai penting untuk melibatkan Orang Buleleng dalam ‘arena gladiator’ Politik Pilkada Gubernur 2013.

Ya, karena suara lantang mereka! Karena mereka begitu tegas meneriakkan sesuatu tanpa selubung. Suara masyarakat Urban Buleleng di perkotaan pun cukup masif dan tidak sedikit  darinya membaur sebagai bagian dalam ormas-ormas ‘pengamanan’, sebagai bentuk solidaritas Buleleng perantau, sama halnya budaya rantau  masyarakat  Bali Timur (Karangasem).

Namun di sisi lain, suara kasar yang langsung meluncur bebas tanpa selubung dan rahasia ini juga seringkali menjadikan kehadiran Orang Buleleng kurang disukai untuk memimpin kaum priyayi yang membutuhkan etika, sopan santun, kelemah-lembutan, rasa hormat dan tata krama semacam itu. Persoalan karakter budaya yang normatif semacam ini ternyata bukan persoalan sepele apalagi dalam kultur budaya masyarakat Bali selatan yang dikitari peradaban puri-puri, cita rasa primordialisme yang begitu mengental dan tidak dapat diabaikan begitu saja.

Bagi orang Buleleng ‘keratuan’ bisa jadi wacana ‘meboye’ alias wicara nostalgia, nonsense dan tidak penting. Sebaliknya, bagi masyarakat Bali Selatan (khususnya dalam steriotipe karakter Orang Badung dan Denpasar), unggah-ungguh bahasa  yang mengedepankan kesantunan bahasa wicara dan bahasa tubuh merupakan nilai penting dalam kehidupan mereka. Seringkali, orang Bali selatan menyalahtafsirkan kelugasan Orang Buleleng sebagai kekasaran dan kehinaan. Ini steriotipnya dan ini faktual. Dari perspektif kebudayaan, karakter masyarakat yang khas melahirkan keunikan kultural  dalam bahasa, merupakan aspek penting peradaban sosial dan politik.

Asumsi adanya kegalauan politik yang bersumber akibat terjadinya  gegar budaya dalam  memahami perbedaan dan karakter budaya (khususnya bahasa) dapat terlihat dari kegagalan koalisi Gubernur dan Wakil Gubernur yang lalu. Kok Bisa?

Kinerja kedua tokoh penting nomor satu Bali Pastika-Pupayoga ini tidak perlu diragukan secara sosial. Siapa sih yang meragukan program  Bali Mandara yang digaungkan kedua tokoh itu di masa lalu? Namun faktanya, budaya komunikasi diantara keduanya menjadi penghalang  terbesar harmonisasi internal birokrasi dalam pemerintahan provinsi Bali.

Sehingga, kehadiran kaum aristokrat Buleleng, Dewa Sukrawan dibutuhkan dan kini telah hadir untuk mengimbangi komunikasi Puspayoga, kandidat Gubernur Bali yang juga bangsawan Denpasar.  Saya  pribadi berharap komunikasi kaum bangsawan ini  berlangsung abadi sehingga koalisi partai dan  puri ini menjadi medan kuasa yang benar-benar solid.

Pilkada kali ini faktanya memang memperebutkan kuasa-kuasa Buleleng dan menyisakan kecemasan di masyarakat karena beredarnya rumor akan terjadi semacam ‘makar’ jika salah satu kandidat menang. Rumor ini sudah beredar sejak sebulan lalu. Saya tidak cemas dengan rumor ini melainkan, saya cemas dengan politik adu jangkrik yang mungkin terjadi sebagai ekses dari kampanye politik.

Buleleng, diperebutkan bukanlah tanpa alasan.

Buleleng masih menjadi kuda hitam permainan catur politik. Buleleng, kota yang sewaktu-waktu menjadi magma panas dan repetisi sejarah kekerasan Politik 65 (gestok) yang menghancurkan persaudaraan, solidaritas masyarakat Buleleng di masa lalu, hendaknya tidak terjadi sebagai ekpresi dendam sejarah karena ‘isu kerusuhan’ dan intimidasi yang mengulik-ngulik kuping kaum muda Buleleng.

Politik sering kali menggiring Buleleng yang keras, menjadi ringkih dan selalu mudah untuk disulut bara-bara politik dan menjadi instrumen penting untuk menekan lawan-lawan politik.

Ingat!

Siapapun gubernur dan wakil gubernurnya, belum tentu berhasil menurunkan harga minyak, listrik, dan kebutuhan masyarakat yang semuanya tergantung dari sistem politik yang lebih luas. Meskipun demikian, masyarakat dapat menggunakan hak suara dengan baik untuk memilih dan untuk tidak memilih sesuai dengan asas demokrasi.Kehancuran kehidupan tidaklah diperlukan untuk kampanye pilkada, sebab kehidupan ini masih panjang dan bermakna. Harapan saya, Buleleng tetap waspada agar tidak mudah di adu jangkrik dalam pilkada agar tidak  terjadi repetisi kekerasan politik yang merenggut seluruh nafas kehidupan.

Note:
mari jaga Buleleng tetap damai

This entry was posted in Keraton Bali, MULTIKULTURALISME, peradaban, politik, Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Memperebutkan dan Mempertaruhkan Buleleng dalam Pilkada Gubernur 2013

  1. Made Kris says:

    situasi kini memang mirip situasi gestok dengan media sebagai propaganda . Yang mana dulu juga sebuah media juga menjadi alat propaganda dari lingkar kekuasaan…..

  2. buas nan mengigit tulisan mbk gayatri.🙂 refleksi pilgub bulan ini mencemaskan dengan tutur tulisan ditas makin sadis dan bernas . saya harus berguru nulis dengan siempunya blog. salam.

  3. bagus sekali mbog,, ben echt trots op je,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s