THE POWER OF POETRY READINGS COMPETITION

Puisi (poetry) sebagai bagian dari sastra menarik dicermati. Eksistensinya dalam  kurikulum pendidikan kesusastraan khususnya dalam pelajaran Bahasa Indonesia, acapkali dipandang remeh dibandingkan pendidikan science dan bahasa Inggris. Namun, keberanian pendiri dan pengurus Sanggar Rare perlu mendapat apresiasi dan penghargaan tinggi. Dalam 12 tahun terakhir, mereka  menjadikan puisi sebagai medan pembentukan karakter anak bangsa, dengan menyelenggarakan lomba baca puisi (poetry readings competition)  untuk anak tingkat sekolah dasar.  

 

Puisi dan Anak-Anak Yang Luar Biasa

Puisi hadir memberikan “panggung” bagi anak-anak untuk belajar menghayati kata dan menghargainya, lalu menampilkan dirinya secara terhormat. Antologi puisi anak begitu polos menyingkap alam pikir dan kehidupan anak yang sederhana: kasih anak pada ibu, atau ekspresi gaya hidup  urban-metropolis yang hadir dalam karya dengan judul yang tak bisa: Ayam Goreng dan Burger. Orang dewasa mungkin tertawa dengan judul dan isi puisi ini. Tetapi, anak membuat karya tersebut sebagai tugas yang dilakukan dengan sungguh dan membawakannya dihadapan penonton dengan sepenuh hati.

Melalui lomba baca puisi, anak belajar berujar dengan benar, jelas, lantang, ekspresif dan bertarung di panggung sendirian untuk menghadapi peserta dan penonton dari berbagai kalangan. Dapat dibayangkan tingkat tekanan psikologis anak  usia 7-12 tahun yang tampil dihadapan ratusan penonton, dengan membawa serta beban kehormatan bagi sekolah dan kebanggaan bagi orang  tuanya. Keberanian dan semangat anak dalam lomba baca puisi se-Bali yang diselenggarakan Sanggar Rare di Bale Banjar Kedaton 16-17 Februari lalu, telah menunjukkan potensi anak sekolah dasar yang luar biasa.

 

Puisi dalam Pertarungan Kata dan Kuasa

Dalam proses lomba baca puisi tingkat sekolah dasar, juri telah bertugas maksimal menilai peserta yang diperkenalkaan berdasarkan angka undian, tanpa nama dan asal-usul sekolah apalagi silsilah keluarganya dan kekuasaan orang tuanya. Namun, medan pertarungan kata dan kuasa tampak mengeras, tidak saja diantara peserta tetapi juga dikalangan orang dewasa. Sekolah dan orang tua menuntut anak untuk tampil menjadi kebanggaan. Kekuasaanpun turut bermain dalam pendidikan duplikasi anak menjadi “diri” yang diinginkan guru  atau pelatihnya, untuk kesuksesan anak dalam lomba. Namun, kompetisi lomba puisi anak tidak luput dinodai hasrat para orang dewasa dengan dasar pemikiran “anak saya tampil paling bagus” juga “sekolah kami mesti ada dalam daftar pemenang”. Apapun caranya!

Bahkan ada orang tua yang protes dan mengancam akan menganalisa kembali proses kompetisi dengan sastrawan hebat lainnya, untuk membuktikan bahwa penampilan anaknyalah yang terbaik. Seringkali orang-orang dewasa semacam ini tidak menyadari bahwa mereka berpartisipasi ‘merusak’ kepribadian anak dengan menuntut  anaknya  menjadi yang terbaik. Namun, orang tua seringkali abai untuk menyiapkan mental anak, ketika dihadapkan pada kekalahan apalagi kegagalan. Mungkin memang banyak sastrawan yang dapat menjadi juri membaca puisi yang benar, namun sebagai salah satu juri lomba baca puisi anak, karakter dasar anak-anak yang alamiah dan riang merupakan landasan penilaian yang penting selain keberanian, kemampuan membaca dan mengekspresikan teks. Kekuatan puisi justru lahir dari ekspresi kata dan pesona-personal (karakter diri) anak.

Dalam kompetisi ini, tidak sedikit anak tampil dengan kehilangan sifat naluriahnya menghayati setiap kata yang diucapkannya. Tidak jarang anak yang berusia 7-10 tahun merubah nada bicaranya menjadi bariton, intonasinya seperti orang dewasa yang berusia 40 tahunan (memiripkan dengan suara pelatihnya). Dan yang lebih aneh sekali, sebagian besar dari 580 peserta menampilkan puisi dengan nada seperti orang menahan tangis, ekpresi kemarahanan dan teriakan serta pembacaan yang penuh ketergesaan. Ini menunjukkan minimnya pengajaran penghayatan teks dan konteks untuk pilihan puisi anak yang dilombakan, dengan judul : Ayam Goreng, Buger , Bunda, Dalam Kenangan, Kumbang, Pantai Sanur, Teknologi, dan Ujian Sekolah.

Militerisasi dalam gaya pendidikan sastra apalagi dalam teknik membaca puisi tampak ketika karakter anak yang polos, kemudian membawakan puisi dengan gaya, ekspresi wajah dan gerak tangan yang seragam, khususnya bagi yang  berasal dari satu sekolah atau satu pelatih yang dipersiapkan untuk anak berlomba. Mungkin dengan bergaya bak orang dewasa dihadapan penonton, anak tampak tampil profesional. Sayangnya, menghilangkan kepribadian anak untuk menghadirkan dirinya sendiri  telah memasung kreativitas, menggerus sifat alamiah  anak, dan memandulkan penghayatan anak tentang kata dan bahasa  yang dibaca dan didengarnya sendiri. Puisi seperti halnya syair atau lirik dalam lagu, perlu dihayati sesuai dengan teks dan konteksnya.

Kontemplasi

Dunia anak adalah wajah keriangan dunia. Kehidupan anak seperti halnya puisi, mengalir dalam kata dan waktu. Ada atau tidaknya kompetisi lomba baca puisi, anak akan semakin dewasa dan permainan kata akan semakin terasah. Orang tua diharapkan mendukung partisipasi dan potensi anaknya dengan membiarkannya tumbuh secara wajar tanpa intervensi termasuk menghargai keputusan dan kredibilitas juri lomba. Perlu dicatat, lomba baca puisi anak tidaklah sama seperti kompetisi orang dewasa. Anak sekolah dasar yang berlomba ditujukan untuk berproses dan memahami bahwa konsep kemenangan ada dalam banyak rupa, seperti: mau dan mampu tampil di hadapan publik, adaptif, menghargai diri sendiri dan orang lain. Dengan mengikuti kompetisi, anak mengikuti proses belajar dari orang lain, memperkaya pengalaman kehidupan serta meningkatkan kepercayaan diri untuk mampu melewati berbagai tantangan.

Sesungguhnya, seluruh peserta lomba baca puisi telah menjadi pemenang, jauh sebelum juri mengumumkan nama-nama sang Juara. Sebab, keberanian tidaklah bisa diukur dengan deret angka absolut. Sang Juara terpilih adalah anak bangsa terbaik yang hadir diantara yang terbaik, dan puisi telah mengantarkan mereka menjadi pemenang. Mereka sesungguhnya telah menjadi “pemenang” dalam menaklukkan dirinya, merubah ketakutan menjadi keberanian dan  mengolah kemauan  menjadi kemampuan.  Gagasan lain, perlu adanya workshop kesusastraan bagi para pembina sastra sekolah (guru atau pembina) untuk mendapatkan kesatuan persepsi memahami  kompetisi lomba baca puisi, khususnya dalam hal penghayatan bahasa, teks dan konteksnya bagi anak. Apalagi, kompetisi tingkat anak sekolah dasar ini diselenggarakan setiap tahun untuk kesuksesan kompetisi berikutnya.

Panggung Lomba Baca Puisi anak ini mungkin dampaknya tidak dapat dapat dilihat hasilnya oleh orang tua dan anak secara kilat. Lomba baca puisi anak untuk anak tingkat sekolah dasar ini, memiliki makna yang mendalam. Puisi dan kompetisi selain memberikan ruang ekspresi bagi anak untuk mengembangkan talenta di bidang kesenian dan spiritual, menyalurkan emosi,  mengasah jiwa kepemimpinan, sikap  suportif dan  mengembangkan nilai kebajikan sosial. Kompetisi membaca puisi menjadi sebagai pengalaman hidup yang berharga. Dengan demikian, puisi faktanya dapat menjadi salah satu basis pembentukan moral dan karakter  bangsa yang penting dan berguna.

 

 

Gayatri Mantra

Pengamat Sastra dan Juri Lomba Baca Puisi Tingkat Sekolah Dasar se- Bali 16-17 Februari 2013

Mahasiswa S3 Kajian Budaya Universitas Udayana

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s