TARU PRAMANA : ENERGI HIDUP DAN KEHIDUPAN

Masyarakat Bali mengenal konsepsi pramana, energi kosmis yang menggerakkan setiap mahluk hidup. Manusia memiliki tri pramana, yakni: bayu, sabda lan idep. Energi bertumbuhkembang, kemampuan komunikasi, dan budi pekerti. Hewan dinyatakan  memiliki dwipramana, bayu dan sabda. Mereka bertumbuh-kembang dan berkomunikasi tanpa budi pekerti. Sementara, tetumbuhan  diyakini hanya memiliki eka pramana, bayu pramana yaitu kemampuan untuk bertumbuh-kembang. Indikator ini hanyalah memudahkan untuk memilah kuasa dalam kerajaan semesta ini. Sudah pasti manusia yang menciptakan diskriminasi ini semata-mata untuk unjuk, bahwa kerajaan manusia lebih kuasa dibandingkan dengan yang lainnya. Meski pada kenyataannya, tidak sedikit manusia yang beringas dan buas bahkan mampu lebih kejam dari binatang. Memangsa spesies sendiri. Bapak ‘memangsa’ anak gadisnya, ibu-anak saling membantai. Sumanto menggali kuburan untuk menyembelih mayat. Padahal makanan berlimpah di dunia ini. Jeruk kok makan jeruk, kata iklan. Homo homini lupus, manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya. Begitulah kenyataannya, asal jangan digeneralisasi.
 
Taru, tetumbuhan hidup apakah sesederhana itu? Bukankah pengetahuan modern juga telah mengakui bahwa tetumbuhan tak beda dengan manusia. Mereka memiliki kerajaan (kingdom), spesies, genus, saudara, sepupu dan kerabat dekat. Taru memiliki jenis kelamin, bereproduksi, bersetubuh, berkembang biak. Taru memiliki organ tubuh, memiliki nama dan pekerjaan. Sifat baik dan jahat juga melekat.  Sama saja seperti manusia. Taru di dunia adalah saudara umat manusia dan spesies binatang. Eksistensinya esensial bagi hidup dan kehidupan. Hanya saja, pada  evolusi pengetahuan, sepertinya kemampuan berkomunikasi manusia dengan Sang Taru nyaris lenyap. Jelas kenyataan ini mengikuti  penurunan tingkat kesadaran dan pemahaman manusia pada hakikat tetumbuhan hidup bertumbuh. Padahal, beberapa cerita rakyat, kemampuan manusia bercakap dan memahami bahasa binatang dan tetumbuhan cukup banyak diulas. Katakanlah, Angling Dharma, Shakuntala, bahkan Rsi Astika pada cerita Parikesit, Prabu Rama yang bercakap dengan raja kera Hanuman, bahkan hingga di jaman milenium Harry Porter dikisahkan bisa bicara dalam bahasa  ular. Percaya atau tidak terserah anda.   
 
Filosofi hidup tetumbuhan sangat menarik jika direnungkan. Diantara manusia dan binatang hanya taru yang tidak lari dari penderitaan hidup. Ketika akarnya mulai tertancap di dalam tanah, bergelut diantara bebatuan, menumpang nasib pada karib lain sebagai parasit, detik itu juga tetumbuhan menghadapi hidup dan kehidupannya. Pasrah dan berserah pada suratan alam. Hingga saat ini belum ada bukti tetumbuhan bunuh diri tak kuat menghadapi hidup, seperti yang dilakukan paus raksasa atau manusia pengecut. Berani mati tak berani hidup. Tetumbuhan tertancap sembari tetap menjalankan dharmanya. Ia memberi hidup bagi dirinya dan hidup dan kehidupan lain. Sang Taru juga guru yang berjasa.
 
Tidak sedikit kiasan  bermanfaat bagi pengetahuan manusia yang diambil dari  cara hidup sang Taru. Seperti padi, makin berisi makin merunduk diperuntukkan bagi mereka yang tengah mencapai puncak kejayaan agar tetap eling dan rendah hati. Buah kedondong, luarnya licin dalamnya nyelekit, untuk manusia penjilat. Dalam Bahasa Bali, misalnya: Mekayu di natah, lelor (pohon kelor) yang diperuntukkan  untuk seseorang yang tengah jatuh cinta. Aengan ken kepasilan yang artinya bahagia di atas penderitaan orang lain. I Babakan pule,orang yang menyerahkan dirinya untuk membantu orang lain dan sebagainya. Asal jangan meniru pohon kayu cendana. Ia bertumbuh menjadi parasit, menghisap saripati kehidupan tetumbuhan yang lain. Maka jangan heran jika mereka yang tinggal di Jalan Cendana kerap dituding seperti Cendana, wangi menjadi pujaan  namun menghisap kehidupan.
 
Taru Pramana adalah energi hidup. Taru menjadi menarik diulas karena eksistensinya mulai terabaikan. Ada indikasi manusia menganggap tetumbuhan tak lebih dari sekedar onggokan batang kayu mati, tak beda dengan sebongkah batu. Bisa dilihat sepanjang jalan di kota Denpasar. Trotoarisasi yang diikuti penghijauan dilakukan para sarjana intelektual berotak udang bisa jadi contoh. Mereka pikir, tunas pohon hanya tumbuh selutut. Saat tetumbuhan tumbuh membesar, akarpun mulai membentang. Mengoyak trotoar semen berwarna merah. Trotoar bolong jebol, got mampet sana-sini. Padahal kuasa  rerumputan menjaga aliran got, aliran air persawahan (subak) telah bertahan ratusan tahun. Murah meriah, praktis. Manusia tampaknya mulai lebih dungu dari keledai. Sudah tahu pohon makin besar, tetap saja keras kepala membeton sang Taru. Trotoarisasi dan penghijauan jadi proyek sekumpulan manusia bebal. Bikin lagi, jebol lagi. Ujung-ujungnya ya duit. Penting proyek jalan terus.
 
Hakikat tumbuh tetumbuhan. Menjatuhkan dedaunan dari tubuhnya untuk makanan sehari-hari. Begitu terus mendaur hingga bertumbuh. Mereka saling  bercakap dengan tetumbuhan lainnya lewat bisikan angin. Entah untuk sekedar bergosip atau bercinta. Angin senantiasa menjadi perantara kisah cinta tetumbuhan jantan dan betina. Menjadi saksi persetubuhan putik dan serbuk sari. Kupu-kupu dan serangga bagaikan comblang atau biro jodoh yang bergerak centil dan lincah. Tetumbuhan bisa patah hati dan mati meranggas.
 
Ini kisah nyata.
Di sekolah dasar SD 6 dan SD 4 Pemecutan Denpasar, Jalan Setiabudi hidup sepasang beringin Ancak, jantan dan betina.Pasangan in hidup berjejer di tengah halaman sekolah yang menjadi batas kedua sekolah itu. Sekian generasi masyarakat desa bersekolah di tempat itu dan bermain di bawah naungan pohon rindang. Gelap namun nyaman. Anak-anak SD bermain riang seperti diselimuti kasih sepasang pohon tua. Kepala sekolah dan orang tua anak-anak  mengingatkan pohon itu angker, tenget. Makanya anak-anak tidak boleh bicara bohong dan berkata-kata kotor dan kasar di sekolah. Ketika kecil, anak-anak desa   percaya. Setelah dewasa, mereka memahami cerita dibuat untuk memelihara kehidupan sepasang pohon itu dan mengajarkan etika lingkungan bagi diri mereka.
 
Suatu ketika Kepala sekolah baru datang. Terganggu dengan gelap dan dedaunan kering sepasang pohon beringin Ancak. Katanya: itu Kotor! Maka ditebanglah sebatang pohon angker agar pembetonan halaman tempat upacara bendera terlaksana. Halaman menjadi terang dan bersih, pikirnya. Sebatang pohon ditebang rebah. Sebatang pohon beringin ancak yang masih tersisa nelangsa. Tak kuat menahan kesepian dan kesendirian, akhirnya rebah mencium tanah. Mati!
 
Penduduk desa yang pernah bersekolah, beranak cucu terkejut. Kehilangan rindang, kehilangan kenangan. Sang kepala sekolah membuat upacara permohonan maaf pada jasad sepasang pohon itu dan masyarakat yang resah, ngaturang guru piduka. Orang semacam itu sudah pantas menerima pastu kutuk Sang Taru juga betara embang. Kepala sekolah idiot tak mampu mengembalikan usia, kehidupan, cerita, kenangan masa kanak-kanak yang tumbuh diantara kedua kaki sepasang pohon beringin ancak itu. Sekolah itu kini begitu terang namun terasa garing. Semenjak saat itu, anak-anak SD di sana tak pernah lagi merasakan menjejakkan kakinya di dingin tanah dan lekukan akar pohon. Karena semuanya telah dibeton sang kepala sekolah berotak beton.
 
Pohon ancak itu hanyalah satu contoh kekejaman manusia dengan melakukan tindakan pembunuhan      berencana.Tak punya rasa pri pertaruan. Banyak tindakan manusia yang tanpa disadarinya telah merenggut kehidupan Sang Taru. Para perokok membuang puntung rokok di setiap pot-pot bunga, dan rerumputan. Asbak besar, katanya! Tumbuhan di pot keracunan hingga daunnya menguning, who cares?
 
Betonisasi telah merambah situs spiritual di pura-pura. Pura dalam hegemoni beton atas tanah. Demi  konsepsi kebersihan yang ngawur, demi kenyaman para pemedek, umat yang kian manja. Komunitas tetumbuhan di pura-pura resah. Mereka tak lagi bisa makan dan minum. Dedaunan kering yang mereka jatuhkan untuk persediaan makanan sehari-hari, juga minuman dari tetes embun pagi dan hujan musiman tak lagi bisa mereka nikmati. Para pemangku menyapu dedaunan kering hidangan utama Sang Taru. Para pangempon, pengurus pura, membeton tanah areal pura. Tetumbuhan hidup dengan tidak wajar karena permukaan tanah dilapisi beton. Lantas dari mana mereka harus mendapatkan sumber makanan dan minuman? Maka dapat diprediksi dalam waktu singkat pohon-pohon besar dan angker di pura-pura akan rebah, mati resah tak dapat makan dan minum. Dan umat hanya peduli mencakupkan tangan sembari  berdoa agar arwah yang bersemayam di pohon mendapat tempat yang nyaman. Andaikan arwah itu bisa bicara, tentu dia akan protes dengan betonisasi di atas jasad mereka. Sang arwah terlanjur jengkel, bungkam sembari membuat salah seorang penjaga pura kerawuhan. Kesurupan, rasain!
 
Ini masih lebih baik nasibnya dengan pohon palem di sepanjang Jalan Sudirman. Berpuluh-puluh paku tertancap, melubangi dan melukai mereka. Hanya untuk bertenggernya sepanduk iklan yang tak seberapa estetik. Manusia tak peduli betapa perih dan pedihnya hidup dengan luka yang  semakin parah menjadi rumah serangga pengerat tubuh mereka.Bagi para pebisnis advetorial, batang pohon itu tak beda dengan tiang listrik kali ya? Mereka tak peduli suatu ketika pohon itu rebah karena sakit menimpa manusia, mengambil jiwa orang. Padahal pohon yang hidup dengan wajar, mati tua dengan tanda dan penanda yang bisa dimengerti secara universal.Pastilah orang akan berpikir O.. pohon itu sudah renta dan sakit, sebentar lagi akan mati, maka mari kita berjaga-jaga.
 
Suatu ketika seseorang berinteraktif di radio menyalahkan pohon sebagai penyebab penyakit sanak saudaranya. Menyalahkan si pohon mangga yang tumbuh di tengah halaman. Menyalahkan si kembang jepun yang sekarang menjadi trend, mestinya tumbuh di kuburan.Begitu menurutnya. Oh, my god. Aduh ratu betara. Sebaiknya orang itu menyalahkan si empunya pohon. Mungkin salah menempatkan pohon itu, tidak merawatnya. Sudah tahu tinggal di BTN tipe rumah dara, kalau menanam beringin raksasa, ya pastilah menjebol rumah tetangga.Pohon hanya tahu hidup dan tertancap seperti paku. Kalau dia bisa pindah, mungkin pepohonan itu akan memilih hidup di hotel saja.Ada gardener yang merawatnya. Kasus ini memang sederhana, tapi ini menunjukkan fakta kesadaran manusia tentang hakikat tumbuh tetumbuhan bertumbuh memang minim.
 
Jelas. Taru energi hidup dan kehidupan. Tetumbuhan kerja menghisapkan racun yang mengambang dipermukaan karena karbon dioksida dan gas freon.Taru menjaga pertiwi dan sumber air lewat akar-akar serabutnya. Kerja Sang Taru  begitu berat tanpa kontribusi yang sepantasnya dari manusia.Tiru taru untuk bertumbuh. Menjadi mandiri, menghidupi  diri dan menjaga kehidupan. Taru memberi rindang, rasa aman dan keseimbangan hidup.Taru memberikan berkah kehidupan, meningkatkan roda perekonomian masyarakat, obat tubuh dan jiwa. Tubuh tetumbuhan tumbuh memberikan hidup bagi masyarakat. Begitu besar jasa Sang Taru dalam kehidupan ini, tidakkah sudah sepantasnya mereka mendapatkan kesempatan hidup dengan aman dan wajar?. Tanpa betonisasi dan illegal logging, semisal? Biarkan mereka tumbuh di dalam rumah mereka dengan damai, yang kita sebut hutan. Biarkan mereka menjaga dan manafkahi satwa liar dengan tubuh mereka. Menjadi penjaga hidup dan kehidupan.
 
Menebangnya tanpa nurani menumbangkan pilar kesimbangan hidup semesta ini. Taru pramana, energi hidup dan kehidupan mesti ditata dan dijaga. Om taru pramana Om, semoga segala energi hidup dan kehidupan menyemangati dunia dan semesta.
 
 
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s