MATINYA POLISI, RUNTUHNYA PILAR NEGARA

September patut diwaspadai sebagai “Bulan Terorisme” karena praktik terorisme seringkali dilakukan pada awal bulan September. Polisi tewas bertugas ditembak teroris menunjukkan kinerja intelijen, stabilitas, sistem keamanan serta pengamanan  negara yang lemah. Matinya polisi mengawali keruntuhan pilar Negara. Pelaku terorisme hendaknya tidak dipelihara sebagai instrumen politik di Indonesia, ibarat pepatah: memelihara anjing, dapat menggigit tuan yang memberinya makan.

Terorisme dan Kejahatan yang Bercita-Cita

Terorisme dapat dikatakan extra ordinary crime, kejahatan luar biasa. Kejahatan mereka bercita-cita, berdaulat dengan strategi yang matang. Pelakunya terlatih secara militer, bernyali dan bermodal. Pasokan senjata lengkap, well supply dan taktik menyerang yang well management. Belakangan ini pelaku teroris berusia semakin muda, bahkan anak-anak  siap menjadi “pengantin”, mati syahid untuk cita-cita kelompok.

Penanaman ideologi radikal semacam ini merupakan bentuk eksploitasi dan mobilisasi  anak-anak.  Anak-anak dijadikan  instrumen politik, mesin pembunuh dan nyawa mereka menjadi pion permainan orang dewasa. Menggunakan anak-anak merupakan strategi terorisme yang cerdas dan aman. Kalaupun, anak-anak pelaku terorisme ditahan karena tindakannya, hukuman yang diterima  tidaklah seberat orang dewasa.  Suatu saat mereka akan bebas dengan kematangan yang lebih baik, namun dengan mental yang mungkin tidak mudah berubah. Dan, kalaupun ada yang tewas sebagai teroris, impian tentang surga sudah cukup menyenangkan anak-anak ini. Radikalisasi telah ditanam, disemai secara kognitif dan mendalam.

Da’i Bactiar (TVone, 1 September 2012) mengatakan, gerakan terorisme mengelola ideologi, mengangkat isu solidaritas dan cerita tentang orang-orang muslim yang teraniaya. Ditingkat global target sasaran bersifat rasial dengan menyerang orang-orang kulit putih yang dianggap Amerika. Di tingkat regional muncul dalam gerakan solidaritas muslim untuk Afganistan dan Moro (Filipina). Pada tingkat lokal, aksi bom dilakukan terorisme  yang menyasar gereja, pusat perbelanjaan (mall), termasuk  pariwisata Bali. Isu fundamental seperti melawan kemiskinan dan perjuangan untuk kemanusiaan, tidaklah sepenting cita-cita membentuk negara Islam yang berdaulat di berbagai tempat. Terorisme memang tidak dapat dilepaskan dari gerakan ideologis.

Matinya Polisi, Pelecehan Institusi Kepolisian

Belakangan ini, targetan  terorisme menyasar institusi Kepolisian. Polisi tewas ditembak teroris di Solo dan daerah lain.Kepolisian dihajar teroris anak-anak bersenjata. Ada rumor mengatakan, penyerangan merupakan aksi balas dendam karena penangkapan beberapa orang terduga teroris dilakukan kepolisian. Ada pula yang mengatakan penyerangan bukan dilakukan teroris, melainkan aksi individual yang bermotif balas dendam dan premanisme. Apapun motivasi di balik penyerangan ini, polisi tewas diserang saat bertugas merupakan pelecehan institusi Kepolisian Republik Indonesia. Penyerangan ini juga menjadi teror kehidupan masyarakat dan menunjukkan betapa lemahnya sistem intelijen, pertahanan dan keamanan Indonesia.

Kesanggupan Kepolisian untuk menjaga kedaulatan NKRI dan perlindungan nyawa rakyat Indonesia dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara benar-benar harus dipertanyakan. Jika polisi yang berada dalam pos pelayanan mereka saja sudah begitu mudah diserang gerombolan teroris, bagaimana nasib pertahanan di perbatasan Indonesia? Jika Institusi Kepolisian saja sudah diperlakukan seperti lalat, bagaimana nasib nyawa rakyat Indonesia? Masihkah rakyat bisa mencari perlindungan kepada Kepolisian?

Menyangga  Pilar Negara yang Runtuh

Pemerintah sebaiknya tidak mentolerir gerakan anarki yang mengarah pada terorisme apalagi dengan mengeksploitasi anak-anak. Wajah anak-anak adalah wajah masa depan bangsa.  Tentunya kekerasan dan eksploitasi anak  berbasis politik dan ideologi harus diakhiri dan diperangi. Proses pendidikan anak-anak dipantau agar anak tidak rentan untuk dieksploitasi. Kegiatan anak sekolah yang kumpul-kumpul  tidak produktif di jalanan harus ditindak tegas untuk mengurangi potensi kekerasan, tawuran, anarki dan mobilisasi anak-anak. Anak Indonesia patut dilindungi dari segala bentuk kejahatan.

Saat ini, kendali Presiden SBY terhadap pilar pertahanan negara, tampak lemah. Pilar pertahanan negara ini harus diperkuat dan dipersatukan untuk menjamin stabilitas negara. Institusi pertahanan negara, termasuk kepolisian harus bangkit dan mempertegas gerakan pemberantasan terorisme sampai ke akar-akarnya.

Jika terorisme merupakan perang ideologi, maka Ideologi Pancasila  harus ditegakkan, sebagaimana Indonesia memerangi komunisme. Solidaritas sebagai perekat sosial sebaiknya diarahkan untuk mempersatukan bangsa, justru bukan untuk menggerus Indonesia menjadi  reruntuhan melalui aksi terorisme. Ataukah, kita tengah merepetisi sejarah September berdarah? Para Jenderal asik bertikai secara politis dan ideologis, rakyat jua yang dikorbankan. Dendam pun menyejarah on Black September.

Ida Ayu Made Gayatri

Mahasiswa Program Doktor (S3) Kajian  Budaya Universitas Udayana.

This entry was posted in pendididkan, terorisme, wanita dan anak-anak and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s