JALUR HIJAU KAFE BINAL

Perdebatan rencana revisi Perda 16/2009 tentang Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) belakangan ini semakin memanas. Para Bupati  berkonspirasi mengajukan protes atas kemauan Gubernur Bali untuk mempertahankan ‘Bisama Radius Kawasan Suci’  pada Perda RTRW. Masyarakat bersikap membaca birahi kubu-kubu penguasa yang berselingkuh dengan para pemilik modal untuk memperluas ekspansi kerajaan bisnisnya di berbagai media. Pertempuran  kapitalisme dengan spiritualisme telah ditabuh dan tak dapat dielakkan lagi.

Visi tentang Bali kini tengah dipertaruhkan di atas kerajaan kepentingan (the reign of interest) penguasa dan pemodal. Mereka ingin merevisi dan bila perlu menghapus bahasa langit ‘kawasan kesucian’  dalam teks Perda itu.   Jika pembangunan Bali terus dikendalikan investor maka lambat laun,  masyarakat Bali akan mati seperti semut di gudang gula.

Akan jadi milik siapakah Bali di masa depan? Akankah Bali bisa mempertahankan dirinya sebagai Pulau Dewata jika semua  tempat suci dijual, dilacurkan untuk kepentingan kapitalis? Ataukah nasib  situs-situs pura keramat  terus menjadi halaman hotel dan restoran mereka?  Timbangan keadilan para penguasa menjadi berat sebelah dan rupanya lebih berpihak pada sang pemilik modal. Gagasan para kapitalis membuat segala sesuatu menjadi mungkin dan serba ‘bisa’.  Demikianlah pekikan para tokoh agama didukung para aktivis lingkungan membela Pastika menggugat janji-janji politisi tersebut.

Fakta-fakta lapangan memang telah memberikan banyak gambaran perubahan wajah pulau Bali belakang ini. Agresivitas pembangunan dan penjarahan wilayah memang tak terbendung lagi. Sejumlah kawasan ‘jalur hijau’yang di peruntukkan untuk pertanian  diam-diam merubah rupa. Di atas tanah persawahan, mula-mula  dibangun rumah bedeng berdinding gedek. Kemudian bangunan itu malu-malu mempersolek diri menjadi bangunan permanen. Dan kini,  jalur hijau di Jalan Sandat  berada  di perbatasan Desa Sanur dan Kesiman  tidak malu-malu lagi berpenampilan ganjen. Sejumlah rumah, tempat bisnis kini telah ditegakkan, termasuk maraknya pembangunan kafe illegal.

Biasanya, kafe identik dengan  kedai  kopi dan sajian penganan kecil.  Orang bisa memesan espresso, capucino, kopi hitam, kopi putih, minuman bersoda, koktail, sambil memanfatkan wifi gratis untuk sekedar membuka facebook atau email. Kafe secara umum biasanya  dijadikan tempat kumpul-kumpul keluarga, atau para kolega untuk menikmati waktu luang.  Atau, di tempat ini orang-orang membicarakan proyeksi bisnis mereka  dengan memulai obrolan ringan sambil cuci mata. Pada prinsipnya, kafe menjadi media interaksi formal untuk membuka sekat-sekat komunikasi untuk bisnis, kencan, mencuci mata, hiburan keluarga dan sebagainya. Lagipula kafe seperti ini buka sejak pagi hingga malam. Jadi semakin banyak waktu, semakin banyak pilihan.

Tidak jarang kafe semacam ini menyiapkan penampilan life music dengan lagu-lagu yang enak didengar sebagai selingan. Kafe semacam ini banyak bertaburan di kawasan wisata seperti jalan Danau Tamblingan Sanur, Kuta sekitarnya dan di Kota Denpasar. Tempatnyapun cozy, nyaman dan semakin banyak dilengkapi dengan pilihan ruang terbuka (outdoor) dan ruangan ber-ac (in door).  Tata ruang, pencahayaan semuanya didesain untuk kenyamanan pengunjung.

Namun konsep ‘kafe’ jadi berbeda seiring dengan adanya akses pembangunan jalan-jalan raya. Kafe remang-remang hampir dipastikan tumbuh bak jamur di musim hujan di pinggir jalan. Kafenya berdinding batako, suasana murung dan ruangan sangat gelap  sehingga wajah pengunjung menjadi sulit dikenali. Kafe ini hanya buka pada malam sampai dini hari. Sebenarnya kafe semacam ini merupakan perpaduan antara tempat karaoke dengan bar yang menjual minuman keras (miras).

Biasanya orang  ke-karaoke untuk menyalurkan bakat menyanyi dengan kawan-kawan atau dengan keluarga dalam sebuah ruangan yang di desain khusus dengan audio visual yang canggih. Karaoke keluarga banyak terdapat di sekitar jalan Teuku Umar keluarga dengan  sewa ‘kamar-studio’ sekitar Rp.35.000/jam.

Demikian pula halnya di Kafe remang-remang. Hanya bedanya, pengunjung dapat juga ber-karaoke sembari menegak miras atau narkoba dan tidak membawa keluarga. Pengunjungnya sebagian besar pria, duduk-duduk berkelompok  di aula gelap yang hanya di sekat-sekat  pembatas kursi.  Setiap sekat dijaga seorang atau beberapa waitress yaitu pelayan seksi yang berfungsi sebagai pemandu lagu dan juga  marketing bar.

Dengan mendendangkan lagu dangdut, dan lagu-lagu popular Indonesia, wanita penghibur bertubuh sintal ini bertugas menghibur pelanggan dengan menyanyi, menjual rokok dan miras. Dengan profesinya  ini mereka  sering disebut Cewek Kafe.  Di  Buleleng  pedagang kopi seksi pinggir jalan seperti ini disebut dengan dakocan alias dagang kopi cantik. Tidak melulu soal wajah cantik, bodi semok aduhai juga  menjadi modal dagangan multilevel dari kopi, tuak hingga arak ber-methanol.

Penampilan seksi cewek kafe biasanya dibalut gaun kaus ketat dan mini, rambut di-rebonding, rambut dicat warna bak trio macan dan bersepatu high heels, hak tinggi. Para waitress dengan usia 16-30 tahun ini wajib merokok dan minum alkohol.  Label Cewek Bandung  kini tengah naik dalam bisnis dugem kafe-kafe binal.

Pekerja kafe-karaoke semacam ini rentan dengan isu trafficking, perdagangan perempuan dan anak, pelacuran dan AIDS. Mereka juga sering menjadi target buser kepolisan untuk kasus narkoba dan bulan-bulanan Tibum. Kebanyakan cewek kafe menolak disebut pelacur, meskipun di luar jam kerja tidak sedikit yang bergonta ganti pasangan atau “pacar”.

Di ruang kafe gelap itu, saking gelapnya yang bisa terlihat hanya siluet tubuh orang-orang dan bara dari rokok yang disulut para lelaki dan si Cewek Kafe. Bonus yang  diterima pelanggan dari cewek kafe ini berupa ‘ijin mencium dan sekedar menggerayangi tubuh cewek-cewek kafe’. Minimal bekal jajan ke kafe seperti ini Rp.300.000 mesti sudah ada didompet. Pertemuan jam-jaman ini tidak sedikit yang berlanjut dengan hubungan yang lebih intim. Semakin larut pagi, semakin banyak miras yang terjual, semakin besarlah komisi yang diperoleh waitress ini.

‘Kafe-Karaoke’  seperti ini berjejer di sepanjang jalan Sandat dekat Sanur dan Kesiman. Ibu Made (nama samaran) asal Nusa Penida adalah pedagang makanan di Jalan Sandat dan warungnya tepat berdiri di sebelah jejeran kafe. Para  ‘cewek kafe’ sering memesan makanan di tempat ibu ini.  Ibu Made mengatakan “Waitress dapat komisi dari prosentase penjualan alkohol. Komisinya bisa mencapai Rp.50.000 per botol. Kebanyakan cewek Bandung dan ada juga cewek Bali dan rumah kos mereka agak jauh dari tempat kerja”.

Ganesha dan kepala Budha di atas Bandung Cafe

Dari sekian banyak jejeran kafe-karaoke  di Jalan Sandat, Bandung cafe memiliki desain yang lain dari pada yang lain. Kafe  dengan cat dinding biru langit ini di atas pintu masuknya terdapat sebuah patung Ganesha dan dua buah kepala Budha. Di sudut timur laut terdapat tempat pemujaan pelinggih  dilengkapi  patung “Sang Budha”  dalam posisi tidur miring dengan kepala di sangga tangan kanan. Dan sebuah botol miras yang kosong di sebelahnya.

Sleeping Budha dan botol miras

Mungkin sang pemilik hendak meniru konsep kafe dengan tema ‘Budha Bar’ yang sempat diprotes umat Buddha fundamentalis di Jakarta. Aktivis Budha telah memprotes pemilik kafe atas penyalahgunaan nama “Budha” untuk kafe apalagi dengan menjual miras.

Bandung cafe di Jalan Sandat Kesiman-Sanur

Kelian Adat Banjar Buana Anyar Kesiman-Dentim, I Nyoman Masdana saat dikonfirmasi membenarkan menjamurnya kafe-kafe di lingkungan banjarnya. “Saya pribadi dan saya rasa masyarakat sekitar sini agak risih dan tidak nyaman dengan adanya kafe-kafe itu. Cewek-cewek kafe jam 8 malam sudah  méjéng sambil merokok menjajakan dirinya di depan kafe tempat kerja mereka. Mereka bekerja sampai pagi” demikian komentar ayah 3 putra dan putri ini.

I Nyoman Masdana, Klian Adat Banjar Buana Anyar Kesiman-Dentim

Jebolan IKIP Saraswati Denpasar ini juga mengungkapkan jika pembangunan kafe-karaoke itu ada yang berada di atas tanah jalur hijau dan tidak jelas apakah ada ijin IMB atau tidak. Terkait dengan alih fungsi jalur hijau ini, I Nyoman Masdana mengatakan “ Pengawasan pertanahan semacam ini sangat lemah. Masyarakat memanfaatkan kelengahan dan  aji mumpung ramai-ramai membangun di atas jalur hijau”.

Saat dikonfirmasi tentang Kafe yang menggunakan simbol-simbol yang dipercaya disakralkan  oleh umat Hindu dan Budha ini Nyoman Masna cukup kaget. Meskipun setiap hari melewati kafe-karaoke yang jaraknya tidak kurang 500 meter dari kediamannya, ia mengakui tidak cermat melihat hal tersebut.

“ Hal seperti itu sangat tidak pantas” demikian komentarnya. Lantas apa yang dilakukan prajuru adat jika melihat ada indikasi pada pelecehan simbol-simbol keagamaan seperti yang terdapat pada desain  kafe-karaoke seperti itu? Pria yang juga berprofesi sebagai guide ini berujar “ Majelis Pekraman harus menertibkan hal ini. Pembangunan kafe-karaoke seperti itu harus dikaji kembali apakah memiliki ijin atau tidak. Saya rasa banyak kafe yang illegal dan berkedok warung makan seperti yang berdiri di sebelah rumah saya. Pembangunan kafe-karaoke ilegal seperti  ini harus disikapi dengan tegas oleh pemerintah”. Demikianlah harapan dari Prajuru Banjar Buana Anyar ini menutup perbincangan.


This entry was posted in Pelacuran, wanita dan anak-anak and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to JALUR HIJAU KAFE BINAL

  1. Pingback: Jalur Hijau Kafe Binal « Bale Bengong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s