BUDAWATI MELAWAN KEKERASAN PATRIAKI

budawati, direktur LBH APIK BALI

Perempuan  ayu, modis dan berkulit langsat ini bernama Ni Nengah Budawati. Eksistensi perempuan yang kerap dipanggil Buda ini, identik dengan LBH APIK. Lembaga bantuan hukum ini baru didirikan 20 Mei  2009 didedikasikan untuk membantu kaum perempuan. LBH APIK Bali merupakan salah satu  kantor perwakilan Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) yang  tersebar di Indonesia.  Dan, Budawati didaulat menjadi Direktur LBH APIK Bali dan memimpin 7  anggota untuk periode tahun 2009-2013.

Bicara soal kekerasan pada perempuan,  Budawati menumpahkan keprihatinanannya terhadap sejumlah kasus yang dialami perempuan Bali. Menurutnya, tidak sedikit perempuan yang diperlakukan secara buruk di rumah-rumah tangga. Dari 50 kasus yang ditangani LBH APIK , ada istri yang ditusuk hingga ususnya terburai hanya karena suaminya tidak diijinkan menikah lagi.

Ketidaktahuan atas hukum dan HAM seringkali menempatkan perempuan dalam sudut penderitaan dan kesengsaraan termasuk dalam perceraian. Keadaan ini jika dibiarkan dampaknya akan mengerikan. Perceraian yang ditangani LBH APIK banyak karena kekerasan yang dilakukan suami, juga ekses dari campur tangan yang berlebihan dari mertua. Jumlah ini tampaknya semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Perempuan tangguh kelahiran 11 Desember ini berbagi, satu dari sekian banyak kasus yang pernah ditangani LBH APIK.  Budawati menceritakan, ada seorang istri, yang tinggal di rumah suami dan mertua, serta mengurus putra satu-satunya  di tempat itu selama 16 tahun. Perempuan ini selama hidupnya aktif melayani banjar tempat ia tinggal. Tiba-tiba ia mendapatkan surat bahwa dirinya telah diceraikan suaminya. Perceraian itu  bahkan dinyatakan telah terjadi sejak setahun pernikahan mereka. Namun, istri ini sama sekali tidak  tahu menahu dirinya telah diceraikan suaminya. Ibu malang ini tidak pernah menerima pemberitahuan untuk bersidang di pengadilan tentang perceraiannya. Identitas dirinya pun dipalsukan suaminya  untuk melancarkan aksi agar bisa menikah dengan perempuan lain. Dalam kasus hukum ini  disebut verstek.

Ibu tiga putri ini menjelaskan  “ Dalam kasus ini, verstek dalam hukum perceraian terjadi,  jika tergugat   (orang yang digugat cerai) tidak datang  tiga kali atas panggilan pengadilan,  maka  hakim dapat membuat putusan cerai secara langsung. Seringkali, perempuan  membisu dan mendiamkan diri ketika digugat cerai suaminya karena menolak diceraikan. Padahal, kediaman ini  bisa berlanjut menjadi verstek” .

Budawati dengan tutur katanya yang halus menduga, Ibu-ibu yang menolak diceraikan suaminya ketika menerima surat panggilan pengadilan banyak yang memilih tidak hadir sidang. Para istri  itu mengira, dengan tidak hadir pada sidang maka rencana perceraian itu  bisa dibatalkan. Ternyata fakta hukumnya tidak begitu. Hal ini justru menjadi bumerang bagi diri perempuan itu sendiri. Perceraian bisa diputus secara sepihak oleh pengadilan.

Karena inilah, LBH Apik yang dipimpin Budawati berusaha untuk melawan kasus  ‘verstek’. Tujuan dari perlawanan ini, agar ibu-ibu tidak ditipu dan dirugikan suami sendiri. Perlawanan ini juga ditujukan sebagai media perjuangan agar putusan pengadilan tidak hanya mempertimbangkan kehendak sepihak dari penggugat.

Kegigihan  Direktur LBH APIK ini untuk menyosialisasi dan memberikan perlindungan hukum patut diacungi jempol. Pengalaman telah mematangkan  diri aktivis perempuan yang  telah malang melintang  di lapangan untuk memperjuangkan demokrasi dan anti kekerasan ini. Pengalamannya sebagai aktivis telah ditempa sejak menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Udayana angkatan 93, sudah mumpuni.

Istri dari I Nengah Wiartana dari Kekeran Penebel Tabanan ini pernah aktif di GMNI dan Srikandi Indonesia.  Pasangan Budawati dan I Nengah Wiartana termasuk pasangan muda yang sukses dalam meniti biduk rumah tangga. Keluarga ini terasa lengkap  dengan kehadiran tiga dara buah hati mereka yaitu Diah dan Gadis  masih di sekolah dasar dan Baba sekolah di taman kanak-kanak.  Ketiga putrinya ini sangat beruntung memiliki orang tua yang sadar dengan talenta dan kemampuan anak-anaknya.

Budawati sebagai seorang ibu mengarahkan anak-anaknya untuk bersikap positif dengan menekuni hobi mereka dengan maksimal. Putri tertuanya selain selain pandai memainkan gitar klasik, kini menjadi atlet di bidang atletik. Sedangkan, Gadis dan Baba jago dalam dunia fashion show. Budawati selain sebagai ibu, juga memainkan peran sebagai manager artis bagi anak-anaknya.

“Saya terjun di dunia kesenian karena anak. Saya berpikir, sebagai orang tua tugas saya adalah mengembangkan bakat dan bukan mengeksploitasi anak. Sehingga, segalanya saya urus sendiri dari menyiapkan desain pakaian, jadwal, dan mendampingi anak-anak ikut perlombaan menyanyi, fashion, membuat video klip dan sebagainya” demikian penuturannya dengan penuh semangat dan mata berbinar.

Pengacara muda ini juga mengingatkan anak-anaknya, berkesenian itu bukan hanya untuk mengejar prestasi dan popularitas. Karena itulah, Budawati mengarahkan dua dari ketiga putrinya untuk ikut dalam Yoga Musik Maha Bajra Sandhi, pimpinan Ida Wayan Granoka Gong.  Budawati  secara bersahaja  menuturkan “ Di Maha Bajra Sandhi  anak  tidak hanya mendapatkan pengetahuan musik klasik Bali tetapi juga dalam pengajarannya tata etika budaya Bali”.

Budawati dan Keluarga

Eksistensi Budawati dalam menjalankan kehidupan menjadi seorang ibu sekaligus aktifis  LBH APIK tak lepas dari dukung suami tercintanya “Saya tidak akan pernah ada di LBH APIK tanpa dukungan suami saya, Bli Nengah dan mertua. Suami saya adalah pendamping hidup yang sangat pengertian dan mendukung karir saya. Beruntung memiliki suami dengan keluarganya yang memberikan kepercayaan  besar  untuk mendukung gerak hidup saya. Tanpa suami, hidup saya menjadi tidak lengkap” demikian pengakuan perempuan asal Desa Kedisan Kintamani Bangli.

Kedisan dalam lintasan kenangan Budawati bukan saja sebagai rumah asal tetapi juga guru yang  mengajarkannya banyak hal tentang kehidupan. Kedisan 30 tahun yang lalu adalah desa tertinggal di bawah kaki Gunung Batur. Listrik dan air bersih baru menjangkau desa pada tahun 1985an. Semasa kecil, kesulitan air membuat  Budawati semasa anak-anak terbiasa menjunjung air di atas kepala dengan ‘Blek’ yaitu ember air dari kaleng. Air  untuk mandi dan minum harus diambil dari Danau Batur yang ada di dekat rumahnya.

Saking sulitnya mencari air, Budawati remaja bahkan sampai berangan-angan kelak kalau menikah akan mencari suami yang  memiliki ledeng dan air PAM. Hal  terakhir inilah yang ditanyakan pada Sang Pacar yang kini menjadi suaminya. Dan syukurlah suami  yang kontraktor ini tidak saja bisa menyiapkan ledeng dan PAM tetapi juga rumah mungil untuk istrinya. Kini rumah itu selain digunakan sebagai kantor suami, juga dipinjamkan sebagai  kantor LBH APIK yang terletak di Jalan Muding Indah VIII Nomor 1. LBH APIK dapat dihubungi juga pada 0817351803 dan selalu siap membantu kaum perempuan yang membutuhkan bantuan hukum.

Kepeduliannya tentang nasib perempuan, sesungguhnya  berasal dari pengalaman hidup Budawati yang kaya. Banyak inspirasi hadir dari kehidupan masa kanak-kanak sebagai Orang Kedisan. Menurut cerita  Budawati, Perempuan Kedisan pada masa kecilnya menikah dalam usia yang sangat belia. Mereka hanya bersekolah dasar. Itupun banyak yang tidak menamatkan sekolahnya dan langsung menikah. Kebanyakan dari mereka sekarang ada yang sudah memiliki cucu.

Sewaktu Budawati kecil, ia seiring dituntun bapaknya Mangku Debel mendekati perempuan-perempuan Kedisan yang  menjunjung keranjang bambu. “Hidup akan lebih baik jika kamu bersekolah” demikian Mangku Debel. Bapaknya mengajari perempuan berambut sebahu ini pentingnya arti pendidikan agar tidak bernasib seperti penjunjung keranjang itu. Mangku Debel meskipun hanya tamatan SMP di Singaraja, adalah figur yang  disegani sebagai Penyarikan Desa dan kakeknya Dangke Tindih, adalah seorang Dangke, semacam pemimpin (pemangku) keagamaan orang-orang Kedisan. Kedua lelaki inilah yang mewariska bakan kepemimpinan pada Budawati,

Budawati setelah menyelesaikan sekolah di SD Kedisan, ia dibawa orang tuanya ke kota Bangli untuk menyelesaikan pendidikan SMP 2 Bangli dan SMA 1 Bangli. Setiap mudik, Budawati sering merasa dikucilkan dan digunjingkan  sebagai bajang tua, perawan tak laku. Dialah satu-satunya gadis yang tak menikah di kampung pada usia kanak-kanak. Terlebih lagi setelah menginjak  bangku kuliah, kesibukannya sebagai mahasiswi , juga aktivis  menjadikan  Budawati tak sempat memikirkan untuk mencari pendamping hidup. Gunjingan tetangga tak digubris apalagi keluarganya mendukung kegiatan Budawati hingga menjadi sarjana.

Budawati merantau untuk menempuh pendidikan dan merasa kehilangan banyak nostalgia tentang desanya. Berkuda sebagai keterampilan yang dimiliki masyarakat Kedisan, kini dirasakan telah lenyap sejak adanya jalan aspal. Berkuda terakhir kali dinikmatinya  pada saat kelas dua SD. “Medan jalan yang sulit, menjadikan kuda menjadi transportasi penting. Orang-orang Kedisan menunggang kuda dan kuda Kedisan waktu itu dikenal sebagai salah satu kuda terbaik” demikian kenang Budawati.

Optimisme dalam karirnya hari ini  banyak dipengaruhi pengalaman kerja yang pernah digeluti sebelumnya. Selain menjadi SPG (sales promotion girl) dan agensi agensi SPG, Budawati juga sempat bekerja untuk perusahaan Malaysia,  dan mengurus villa dengan jabatan manager sembari menjadi agen asuransi dan menjadi penyelenggara berbagai event (EO). Semua itu  memberikan motivasi positif dalam diri Budawati. “Kerja itu memperkaya pengalaman hidup” demikian kata Budawati ringan.

Selain menjadi wanita karir, Budawati juga memiliki talenta sebagai seorang cerpenis. Beberapa cerpen berbahasa Bali dan berbahasa Indonesianya telah menghiasi beberapa media cetak dan media internet. Sebagai besar inspirasi cerita merupakan pengembangan dari  kasus yang ditangani  dan mitos yang hidup di desa kelahiran, Kedisan. Contoh karya cerpennya berjudul Cawet (Celana Dalam) dan Belingan (kehamilan). Sebagai penulis dan ahli hukum, Budawati  pernah mendokumentasikan larangan inses dalam perspektif orang-orang Kedisan dalam skripsi  kuliahnya. Inses termasuk perkawinan Gamia Gamana, perkawinan larangan yang ditabukan.

Menurut penuturan Budawati, Di Kedisan pernah ada seorang bibi menikah dengan keponakannya. Keponakan ini adalah anak tunggal. Bibi ini sangat kaya lagi cantik, dan saling mencintai dengan ponakannya. Pernikahan ini merupakan pernikahan larangan dan harus dilewati dengan upacara yang mengerikan.

Pengantin harus merangkak di sepanjang jalan dari rumah mempelai menuju halaman Bale Agung tempat upacara dilakukan. Mereka tidak diijinkan melakukan upacara di areal utama. Dan upacara tidak boleh disahkan oleh Paduluan pemimpin upacara di desa, tetapi oleh Balian Keteben yaitu pemimpin upacara khusus untuk kematian.  Pengantinpun harus makan dari palungan babi (tempat makan babi) karena secara adat mereka dianggap bermoral seperti babi.

Tiga bulan setelah pernikahan, Si Suami meninggal dan anak tunggal yang dilahirkannya pun meninggal. Budawati mengikuti perjalanan kehidupan Bibi tersebut, yang akhirnya meninggal dalam keadaan gila. Ni Wayan Midin, ibunyalah yang sering memberikan makanan karena pada masa tuanya Bibi ini menjadi miskin dan terlantar.

Perbincangan ini menjadi menarik terlebih lagi kisah ini diceritakan para tetua Kedisan kepada Budawati yang menjadi saksi mata perkawinan seperti itu. Apakah kisah itu menjadi perkawinan kutukan? Ataukah karena tekanan dari masyarakat yang begitu keras, sehingga perkawinan tersebut berakhir secara tragis? Hal pasti, kisah nyata itu menegaskan pantangan menikah inses bagi orang-orang Kedisan.

Begitulah Budawati, pengalaman hidup dan kepiawaiannya bertutur menjadikan cerita pendeknya mendapat tempat di hati pembaca perempuan.Tulisan dan berkas hukumnya kelak akan membuka lembaran sejarah hitam kekerasan rumah tangga Bali. Tentu saja harapannya hal itu bisa segera dihentikan dengan mengajak perempuan Bali untuk sadar tentang ilmu hukum.

This entry was posted in pendididkan, peradaban, wanita dan anak-anak and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to BUDAWATI MELAWAN KEKERASAN PATRIAKI

  1. deyana says:

    Saya ingin sekali bergabung sebagai relawan di LBH Apik Bali, krn saya ingin sekali menyuarakan hak-hak wanita bali untuk setara dengan kaum pria terutama bagi wanita bali. Saya tidak memiliki basic ilmu hukum, apakah memungkinkan utg bergabung sebagai relawan disini. Terima kasih.

    • dayugayatri says:

      silakan ke lbh bali jalan plawa no 57

      ibu yastini direkturnya 085935374495

      kebetulan no telpon ibu buda ilang . bisa gabung dengan lbh bali atau bisa tanay no ibu budawati di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s