Kasih Sayang Kunci Menangani Anak berkebutuhan Khusus

“Jika anak anda tampak sangat cerdas,fokus dengan suatu objek jangan berbangga dulu! Jika Si Cerdas  tidak menunjukkan adanya kontak mata dengan keluarga, hidup menyendiri dengan dunianya, sering marah-marah tanpa alasan, mengamuk tanpa sebab, mengganggu kawan-kawan secara keterlaluan,tidak tahu etika, kencing dimana-mana, waspadalah dengan gangguan mental anak anda. Mungkin saja dia seorang autis, maka ia anak berkebutuhan khusus yang perlu mendapatkan sekolah yang tepat “

nasihat Ibu Atik dari Seminyak dan Ibu Ngurah Wiadnyana dari Puri Kukuh Tabanan yang memiliki keluarga autis.

 

Doni adalah anak semata wayang dari Ibu Atik. Saat balita, Doni sangat fokus dan termasuk sangat cerdas dibandingkan anak sebayanya. Namun beranjak besar, tingkah lakunya semakin tak terkendali. Saat bersekolah  Doni yang pendiam sering mengganggu dengan memukul teman sekelasnya, sampai ibunyapun harus bolak-balik dipanggil sekolah akibat ‘kenakalan’ Doni. Sekolah menyerah dan menolak Doni kembali ke kelasnya.

“Sebagai seorang ibu, pada awalnya saya sangat marah dengan  penilaian sekolah tentang anak saya. Saya rasa semua orang tua pasti kecewa jika anaknya dianggap ‘tidak seperti anak lainnya’.  Doni tidak berkembang sesuai dengan anak-anak lainnya. Namun saya  segera sadar, bahwa penilaian orang tentu ditujukan untuk kebaikan putra semata wayang saya. Saya tidak boleh egois dan harus mendengar banyak pendapat  untuk kemajuan anak saya. Beruntunglah pada sebuah pengajian, saya bertemu dengan seseorang yang memberikan alamat Dria Raba untuk membantu Doni beradaptasi dengan lingkungannya dengan wajar”.

Kini Doni sudah berumur 11 tahun. Ia baru setahun bersekolah  di kelas 3 di  Dria Raba, di kelas siang. Menurut ibu Atik, dalam setahun perkembangan anaknya sudah begitu menakjubkan. Doni kini bisa bersikap sopan, mulai berkomunikasi meskipun watak aslinya memang sangat pemalu.  Ibu Atik kini bisa berbangga hati dengan kemajuan yang ditempuh Doni.

“Dan anak saya setiap hari selalu antusias berangkat sekolah. Doni begitu bersemangat karena di sekolahnya yang baru ia bisa benar-benar diterima sesuai dengan kebutuhan dirinya. Segenap hidup saya kini saya curahkan utnuk mendukung kemajuan anak saya. Saya sangat berterima kasih karena pemerintah menyediakan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus” demikian penuturan ibu single parent yang tegar ini berbagi pengalaman memiliki anak berkebutuhan khusus.

Di tempat yang sama, ibu Ngurah Wiadnyana dari Puri Kukuh ini dengan setia menunggu cucu dari putrinya bersekolah. Berbeda dengan Doni yang pendiam, karakter cucunya yang bernama Agung sangat hiper aktif dan usil. Agung kini dirawat kakek dan nenek yang dipanggilnya Tukak dan Tunini karena ayahnya telah meninggal saat ia bayi dan ibunya harus bekerja di Jakarta.  Ibu Ngurah yang kerap disapa Mami oleh ibu lainnya bisa dikatakan sebagai sosok nenek cantik yang berwawasan luas.  Sejak awal naluri keibuannya telah melihat ada hal yang tidak biasa dari diri cucunya.

“Siapapun akan terluka hati jika anak atau cucunya dikatakan ‘belog’ atau  bodoh oleh orang-orang karena Agung tidak berkembang seperti anak-anak lain, tidak tahu warna, suka usil kencing dimana-mana dan suka mengamuk. Tetapi saya selalu berdoa agar Tuhan menolong cucu saya, dan saya pun berbulan-bulan mencari informasi sekolah yang mau menerima Agung. Doa saya seperti tersambut sampai akhirnya saya bisa menyekolahkan Agung selama 3 tahun di Sekolah Dria Raba. Kemampuannya berkembang, dan jago berhitung. Agung kini telah mengenal sopan santun dan kontak mata serta mulai berkomunikasi dengan baik. Sama seperti Doni, agung juga selalu bersemangat untuk pergi ke sekolah dan tidak mau  terlambat. Agung pernah bersekolah untuk anak berkebutuhan khusus di Jakarta, tetapi berdasarkan pengalaman, Sekolah Dria Raba memiliki guru yang luar biasa hebat dan pendidikan disini juga relatif terjangkau” demikian penuturan Ibu Ngurah Wiadnyana yang berharap agar para orang tua  tidak  perlu malu jika memiliki anak seperti Agung dan Doni. Menurutnya, pendidikan dan sekolah merupakan kunci bagi kemandirian dan kemajuan hidup anak-anak bangsa.

anak berkebutuhan khusus Doni dan Atik sang Mama

Saat ini Dria Raba memiliki  30an anak berkebutuhan khusus yang terbagi dalam tiga kelas.  Guru pengajar anak berpendidikan khusus diantara Drs. I Ketut Sumartawan M.Phil, SNE adalah jebolan master dari Universitas Norwegia untuk anak berkebutuhan khusus.  Bapak asal Payangan ini telah mengajar di Dria Raba sejak tahun 1982. Guru pegajar lainnya adalah  Ni Wayan Ratih Tirtawati, M.Pd. jebolan Master dari Universitas Pendidikan Indonesia Jawa Barat. Ibu berambut panjang ini bersama dengan Kepala  Sekolah Dria Raba Bapak Dirgayusa pernah mengenyam pendidikan Special Teacher untuk menjadi guru berkebutuhan khusus di  Universitas Oslo Norwegia. Pengajaran untuk anak berkebutuhan khusus yang diterapkan di Dria raba memperhatikan keriangan anak, disesuaikan dengan kebutuhan anak, potensi, sistemik, motorik dan intelektual masing-masing anak-anak.

ibu ratih guru dria raba

Ibu Ratih demikian sering disapa, sangat ramah dan telaten melayani anak-anak yang diasuhnya. Jika anak-anak mulai gelisah maka akan ditenangkan dengan acara menyanyi bersama. Ibu dua anak yang berparas ayu ini telah mengajar di Dria raba sejak tahun 1985. Ibu asal Ubud ini di ruang kelas lain dibantu guru muda lainnya, yaitu Putu Gede Parlida Damayanto, S.Pd. Selain itu ada juga relawan Kadek Adi Widiantara seorang ahlimadya fisioterapi khusus pedriatik yang membantu anak-anak belajar.

Di tangan guru-guru inilah masa depan anak-anak berkebutuhan khusus menaruh harapannya. Karena itulah, Kepala Sekolah Dria Raba berharap “Pemerintah agar menaruh perhatian untuk memberikan bantuan fasilitas bagi pengembangan proses belajar mengajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Terlebih lagi jumlah siswa seperti ini setiap tahun bertambah jumlahnya

This entry was posted in anak berkebutuhan khusus, pendididkan, peradaban and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s