DRIA RABA DAN TUNA NETRA

Kehadiran sosok Ida Ayu Putu Surayin merupakan bukti betapa besar kasih seorang ibu bagi kehidupan anak-anak bangsa.  Kepedulian dan pengadiannya untuk memajukan anak-anak yang memiliki kecacatan  (kini disebut anak berkebutuhan khusus/anak BK) dengan mendirikan Yayasan pendidikan Dria Raba 16 Oktober 1957 sungguh kerja kemanusiaan yang luar biasa. Selanjutnya, pada 1 Agustus 1958, yayasan ini meresmikan Sekolah Luar Biasa (SLB) bagian A. Pembangunan gedung diprakarsai dari Front Nasional Pembebasan Irian Barat Nusa Tenggara, dan Gedung diresmikan pada tanggal 5 Oktober 1959.

Status sekolah ini kemudian menjadi sekolah negeri  berdasarkan Surat Keputusan Penegerian tertanggal 17 Desember 1962 dengan No : 37/SK/B/III. Sehingga,  terhitung 1 Januari 1963 SLB Bagian A Dria Raba Denpasar, menjadi Sekolah Negeri dengan nama SLB Bag.A Negeri Denpasar. Pejabat Kepala Sekolah SLB Bag A Negeri Denpasar secara berturut-turut yaitu: Ida Ayu Putu Surayin, Putu Sandia Drs. Ngakan Made Dirgayusa yang  menjabat sampai sekarang.

Sesuai dengan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional  ada pasal 32 menyebutkan tentang pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus, maka Sekolah Dria Raba tidak saja menerima siswa yang memiliki gangguan penglihatan (tuna netra). Kepala Sekolah Ngakan Made Dirgayusa mengatakan sejak 4 tahun terakhir, Dria Raba juga menerima anak-anak berkebutuhan khusus lain, termasuk diantaranya anak autis, hiper aktif, keterbelakangan, cacat ganda dan anak-anak yang memiliki gangguan karena rendahnya daya konsentrasi belajar.

Pria kelahiran  Payangan ini juga menginformasikan bahwa Universitas Oslo Norwegia telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi pengembangan sumber daya  tenaga pengajar khusus (special teacher) dan pengembangan teknologi untuk penyandang cacat.  Kepala sekolah ini mengatakan, status Sekolah Dria raba saat ini merupakan Subsentral Keterampilan  yang berada di bawah Dikpora provinsi Bali dan menjadi Center Braille di seluruh Indonesia. Dengan mesin cetak dan kertas yang disumbangkan oleh universitas Oslo, Dria Raba kini bisa mencetak buku dengan hurup Braille.  Di ruangan kerjanya yang cukup mewah di Jalan Serma Gede no 11, Bapak Dirgayusa sangat bangga dengan kemajuan anak-didiknya. Terbukti begitu banyak piala yang berjejer rapi sumbangan prestasi anak asuhnya yang kini berjumlah sekitar 37 anak.

Jebolan Murid Dria Raba yang menjadi Guru

Ketut Gede Rahardi Diana Putra. Suami dari Ni Luh Putu Iradini ini merupakan alumni dari sekolah dimana dia mengajar sekarang. Bapak guru bidang studi Massage untuk siswa SMA Dria Raba ini memang memiliki gangguan permanen dengan matanya.

Ayah dua anak ini mengidap penyakit mata yang diistilahkan dengan ‘low vision’ dimana struktur matanya masih bagus seperti orang normal lainnya, tetapi kemampuan melihat sangat rendah, meskipun tidak buta sama sekali. Pada siang hari atau di tempat yang ada banyak sinar, pria asal Banjar Titih Denpasar ini masih bisa  menangkap bayangan objek meski samar-samar.

Orang yang tidak mengetahui ada penyakit mata seperti ini sepintas tak akan menyangka bahwa ia mengidap  ‘low vision’. Sebenarnya penyakit bawaan itu telah diketahui sejak masa kanak-kanak, namun karena termasuk anak yang bersemangat, maka masa kecil dia habiskan dengan riang gembira bersama teman-teman sebaya. Sayangnya, beranjak remaja, keadaan dirinya membuatnya menjadi minder dan rendah diri.

Pendidikan dasar dan menengah dihabiskan Rahardi di Dria Raba. Pada saat menempuh pendidikan SMA, ia mengikuti program integrasi sekolah karena pada 1990an Dria Raba belum memiliki level pendidikan SMA. Pria kelahiran 16 Maret 1976 ini bersama empat orang temannya pada saat itu harus bergabung dengan siswa normal lainnya di SMA PGRI 1 Denpasar.  Terbukti program integrasi tersebut  siswa Dria Raba meraih ranking kelas.  Setelah menamatkan SMA Bapak dari Rahardi Putu Gede Astika Bagaskara ini melanjutkan pendidikannya dan meraih sarjana di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jawa Barat.

Ayah dari Rahayu Nyoman ini menuturkan “ Ada dua hal yang menghambat kemajuan hidup yaitu dari diri sendiri dan dari lingkungan. Orang yang memiliki kekurangan seperti saya harus berani menyatakan kekurangan diri agar orang lain mengetahui keadaan saya yang sebenarnya. Kesulitan apapun selalu berat pada awalnya dan akan terbiasa setelah dilakukan. Karena itu para penyandang cacat harus berani untuk mengembangkan potensi dirinya. Dan penyandang cacat harus berani mencoba hal-hal baru sehingga tuna netra tidak harus identik dengan tukang pijat saja. Selain itu masyarakat agar lebih memberikan lebih banyak peluang usaha dan pendidikan karena potensi penyandang cacat sangatlah banyak jika dikembangkan dengan maksimal.”

Pegawai Negeri Sipil ini juga menyoroti bahwa lembaga pendidikan tinggi di Bali masih diskriminatif dalam menerima proses integrasi (program inklusi) bagi para penyandang cacat dalam menempuh pendidikan tinggi  dengan berbagai alasan penolakan.

Sebagai seorang sarjana dan juga guru, Rahardi sangat berharap agar penyelenggara pendidikan tinggi memberikan ruang integrasi bagi penyandang cacat  “Saya berharap lembaga pendidikan tinggi di Bali bisa mengakomodasikan kebutuhan penyandang cacat khususnya para tuna netra. Ada teman yang memilih jurusan sastra tetapi karena konon dalam ujian harus bisa membaca gambar maka, teman saya pun tak bisa melanjutkan kuliah di Universitas di Denpasar. Padahal dalam pandangan kami, hal teknis seperti itu tidaklah sepenuhnya mempengaruhi keseluruhan kemampuan yang dimiliki. Test atau ujian yang tidak prinsipil semacam itu seharusnya bisa sesuaikan dengan kondisi orang-orang berkebutuhan khusus. Misalnya, dengan mengganti ujian gambar dengan ujian keterampilan lainnya yang bisa diikuti para penyandang cacat tanpa mengurangi esensi perkuliahan” demikian penuturan Rahardi sambil menutup perbincangan karena iapun harus kembali pulang setelah waktu mengajar.

IBU PUTU ALIT : PENGASUH ASRAMA PANTI ASUHAN DRIA RABA

Ibu Putu Alit sudah bekerja menjadi pengasuh asrama Dria Raba sejak tahun 1971. Ibu berlesung pipit yang memiliki 3 putri dan 3 putra ini, bagi sebagian besar anak asrama telah dianggap sebagai ibu kandung mereka.  Setiap hari ini dengan dibantu seorang tukang masak, Ibu  Putu demikian biasa disapa bertugas menyiapkan makanan 3x sehari untuk 37 anak asrama yang terdiri dari 8 putri dan 29 putra.

Ibu Putu Alit bersama dengan guru-guru  yang lain dengan telaten  mengajari anak-anak tata cara hidup mandiri, menjawab pertanyaan orang dengan sopan, etika makan dan juga kebersihan.  Menjadi  ibu asrama selama 40 tahun  memberikan banyak pengalaman suka dan duka.

“Perkembangan anak asrama sekarang ini sangat pesat. Saya bisa mengamati pertumbuhan mereka dari hari ke hari. Bahkan ada beberapa mantan anak asrama telah menjadi guru di Dria Raba dan di Jawa. Ini memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya. Bahkan, tidak sedikit  dari mereka justru telah memiliki cucu”.

Ibu asal Peliatan Ubud ini mengatakan melayani anak-anak Dria raba memberinya resep awet muda . Kesibukan mengurus anak-anak, dan kegiatan musik yang dilakukan  warga asrama sering menghibur perasaan Ibu Putu Alit.  Sebagai seorang ibu perasaan Ibu Putu Alit juga waswas melihat keadaan trotoar jalanan yang  banyak berlobang, dan membahayakan nasib para tunanetra yang melintas di atasnya.

“Saya selalu mempercayakan anak-anak asrama pergi dengan ijin dari asrama asal mereka tidak lupa membawa tongkatnya. Kondisi trotoar yang tidak bersahabat sering membuat saya berpikir was-was dengan nasib anak-anak saat mereka bermain di laur asrama“ demikian Ibu Putu Alit mengungkapkan kecemasannya dan berharap pemerintah memperhatikan keadaan trotoar yang bisa membahayakan nasib pejalan kaki.

This entry was posted in anak berkebutuhan khusus, peradaban, Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s