BALI RESCUE (BARES): PASUKAN KEMANUSIAAN-SIAGA BENCANA BALI

Suasana kelabu tengah membayangi  wajah  setiap negeri. Bumi semakin tua menampakkan keringkihannya. Hutan terbakar, gunung meletus, Tsunami, dari banjir bandang hingga banjir air mata tak kuasa menghadapi perubahan dunia. Kekuasaan alam sedemikian hebat untuk ditangklukkan. Bencana datang begitu tiba-tiba, lebih cepat dari helaan nafas. Bencana alam atau akibat kelalaian manusia, keduanya sama saja, dampaknya begitu menyedihkan, kehilangan harta benda dan juga korban jiwa tak sedikit.

Bencana, bagaimanapun adalah musibah sosial.  Penanganan kebencanaan tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah, melainkan melibatkan partisipasi masyarakat luas, misalnya melalui organisasi sosial seperti BARES.Bares dalam bahasa Bali berarti murah hati. BARES sebagai  lembaga swadaya masyarakat digerakkan oleh orang-orang yang murah hati mendedikasikan diri pada penanganan bencana. LSM ini didirikan oleh Pengelingsir Puri Kesiman,  Anak Agung Ngurah Gede Kusuma Wardana.

Relawan BARES terdiri dari berbagai profesi dan membuka kesempatan bagi masyarakat yang peduli untuk terlibat sebagai tenaga sukarela. BARES ada di tingkat Provinsi, kota Denpasar dan Badung. BARES Kota Denpasar memiliki 5 komandan lapangan yang berada di masing-masing kecamatan:  I Made Sukada (dentim), Made Adnyana (densel),Wayan Kami (denbar), I Gusti Agung Ngurah Pemecutan (denut), dan  Ketut Supriadi (di tengah kota). BARES bekerja sama dengan Pemerintah, SAR dan TNI khususnya untuk pendeteksian dini bencana

KOMANDAN BARES-BAli RESCUE

Wayan Pandya-BARES

Saat ini tongkat komando BARES diserahkan kepada Wayan Pandya yang juga seorang dapat dihubungi melalui telepon untuk bantuan siaga bencana 08174796864. BARES bermarkas di Penggak Men Mersi di Jalan WR. Supratman 169. Meskipun baru berusia dua tahun, kiprah BARES dalam penanganan bencana telah teruji.

Pasukan BARES terdiri dari 38 relawan kemanusiaan yang siaga terhadap lima musibah kemanusiaan (panca bhaya) yaitu : agni bhaya (musibah karena api, kebakaran), toya bhaya (musibah karena air: banjir), linu bhaya (gempa bumi), bayu bhaya (musibah karena angin), dan wisya bhaya (musibah akibat wabah penyakit).

Pada hari manis kuningan lalu (Minggu,19/12) pasukan BARES menjalankan tugas di tengah cuaca yang tak bersahabat di Pantai Padang Galak di bawah langit kelabu. hujan dan gelombang laut tengah bergolak. Seorang remaja terseret arus saat menyeberangi Sungai Ayung yang bermuara di bibir Pantai Padang Galak pukul 10 pagi.

Ayah korban, Komang Suarsana dengan sangat sedih  menuturkan kepergian anaknya yang tragis. Anak lelakinya I Gede Suarma Putra (15) murid SMAN 3 Denpasar  telah meninggalkan rumah sejak pukul 5 pagi di Jalan Batuyang gang Pipit dengan dua teman lainnya,  Putu Kresna Yuda dan Pande Gede Wahyu Andana (14)  untuk berolahraga. Mereka bertiga tinggal dalam satu gang yang sama. Suarsana telah berulangkali melarang anaknya ke pantai karena Suarma tak bisa berenang.

Pande, kawan korban didampingi ibunya, Ni Luh Suyasning tampak terpukul mengalami kejadian seperti itu. Pande juga tampak tertekan karena harus memberikan keterangan pada petugas dari POL.AIR Polda Bali. Begitulah suasana penuh kesedihan di areal Pura Campuhan Padang Galak, dimana kejadian terjadi tepat di sebelah pura. Di kejauhan,  dua boat milik Balawista dan TNI meluncur ke tengah pantai yang tengah bergelombang besar.

Dan para pekerja kemanusiaan yang hadir di lokasi musibah siaga dengan radio komunikasi di tangan. Sebagian lagi memantau dari darat. Mereka bertugas secara estafet. Begitulah kerja keras para pahlawan yang sering tak dikenali namanya ini.

BALI RESCUE DAN POL.AIR POLDA BALI BARES (k2 dari kiri) dan Pol.Air Polda Bali (kanan)

Pasukan BARES yang dikomandoi oleh Wayan Pandya di lokasi kejadian bekerja sama dengan Wayan Dayung (Balawista-Sanur), I Gusti Ngurah Blambangan dan Wayan Mudana (Pol.Air Polda) dan anggota  TNI dan SAR bahu membahu mencoba menemukan korban. Hingga pukul 7 malam, korban belum ditemukan. Pasukan BARES didampingi pengelingsir Puri Kesiman dan koordinator lapangan lainnya tetap siaga sejak siang hingga malam di lokasi musibah.  Relawan BARES yang hadir di lokasi yaitu  I Made Sukada, Suena, Agung Pemecutan.

I Made Sukada-BARES

BARES- KETUA PECALANG SANUR

I Made Sukada, tokoh adat dan Ketua Pecalang Sanur ini meskipun sepuh tetapi semangatnya menjadi relawan BARES perlu diacungi two tumbs. Kakek ini hadir dengan pakaian lapangan, celana pendek, topi lapangan, kaus BARES, Halky Talky dan keker bergantung di leher.

SUENA-BARES, Karyawan Hotel Karma Suena-BARES

Sedangkan, Suena karyawan hotel Karma-Kuta, badannya tampak basah dengan pakaian renang setelah ke pergi ke tengah pantai mencari korban. Pria asal banjar Tangtu Kesiman ini sangat bersyukur perusahaan dan kawan-kawan tempatnya bekerja sangat mendukung kegiatan kemanusiaannya ini. Ia selalu mendapat kemudahan untuk ijin jika panggilan     kemanusiaan berdering dihapenya. Suena juga berharap agar perusahaan lain juga peduli dengan program siaga bencana BARES.

Wayan Pandya saat diwawancarai dilokasi menginformasikan, saat ini BARES membutuhkan bantuan  seperti mesin tempel 48 PK untuk boat dan life jacket untuk para relawannya dalam memaksimalkan pelayanan dilautan.

This entry was posted in siaga bencana and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s