PURI DAN PURA

Keraton di Bali mendapat tanggung jawab yang besar dalam menjalankan dharma negara dan dharma agama, menjaga kehormatan bangsa dan agama. Pucuk tanggung jawab  pemeliharaan (pangempon=peng-empu-an) parahyangan (kini disebut dengan pura) yang ada di Bali umumnya dikelola oleh keluarga puri bersama dengan penyungsung-nya  yaitu masyarakat di suatu wilayah yang memiliki ikatan emosional dengan puri.

I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya dari Puri Agung Jero Kuta yang bekerja di Biro Kesra Prov.Bali menuturkan  pada (7/12) “Puri Agung Jero Kuta saat ini merupakan pengempon Pura Luhur Uluwatu. Ini merupakan peran puri dalam menjaga semangat keagamaan dan spiritualitas sebagai benteng terakhir kebudayaan Bali. Kami beruntung operasional pura  melalui pengelolaan asset (pelaba) pura telah ditata dengan baik sehingga kami tidak memiliki kecemasan tentang operasional dana untuk penyelenggaraan upacara keagamaan”.

Sedangkan Puri Pemecutan dan Puri Kesiman yang terikat secara hitoris dan geneoligis  masing-masing bertanggung jawab pada pura-pura yang diemponnya. Pura Ayu Panestaran Panembahan Agung atau dikenal dengan sebutan Pura Tambangan Badung yang terletak di Jalan Gunung Merapi Denpasar merupakan tanggung jawab tunggal dari Puri Pemecutan. Hal ini didasarkan atas Keputusan Pengadilan Raad Kerta di Denpasar No. 23/1923 tanggal 28 Mei 1923 dan Hasil Keputusan Keluarga Besar Puri Pemecutan dan Penyungsung Pura Tambangan Badung pada tanggal 16 Juli 1989.

Pura milik kerajaan Pemecutan ini bertempat di sebelah Pasar Pasah Pemedilan mengadakan ritual suci (odalan) setiap hari  Wrehaspati (Kamis) Wuku Sungsang  atau Sugihan Jawa. Keunikan pura ini terletak pada tempat pemujaan kekuatan “Ibu” atau Paibon (pa-ibu-an), seperti :  Ibu Bongan, Ibu Agung, Ibu Pasek, Ibu Bandem, Ibu Pupuan, Ibu Jembrana, Ibu Taruna dan Ibu Candi. Paibon inilah yang menyatukan Kerajaan Badung (Puri Pemecutan) pada masa lalu.

Sedangkan, berdasarkan Purana Pura Sakenan, disebutkan Puri Kesiman bertanggung jawab menjadi  pengempon atas keberlangsungan ritual di Parahyangan (kahyangan) Dalem Sakenan (kini disebut Pura Dalem Sakenan) setiap Sabtu Kliwon Wuku Kuningan (tumpek Kuningan). Sakenan termasuk dalam Sad Kahyangan dan Kahyangan Jagat.

Purana Sakenan juga menyatakan Parahyangan Sakenan  termasuk dalam Samudra Kerti, tempat memuja Sang Hyang Baruna atau Sang Hyang Sandhijaya  penjaga ketenangan samudra dan dunia dari mala petaka dan kejahatan (bhuta kala). Ada enam parahyangan yang secara spiritual diperuntukkan untuk menjaga keharmonisan dunia, yaitu: Tatmajujah (Sakenan), majujah (Tanah Lot), daharingong (Besakih), daharikanan (Watukau), masrungon (Rambut Siwi), ruminga (area netral, silih jong).

Parahyangan Sakenan dulunya terletak di Pulau Serangan. Sejak adanya jalan penghubung kini pulau suci itu telah  menjadi daratan Serangan. Sebelum jalan penghubung pulau,  masyarakat mesti menggunakan jukung (perahu kecil) untuk menjangkau pulau Serangan. Perjalanan menyeberangi laut menuju Pulau Serangan merupakan pengalaman yang sungguh romantis.

Pemandangan menuju pulau sangat indah. Laut yang biru beriak tenang, hutan bakau yang rimbun menghijau. Burung Kokokan yang sedang bertengger di pohon bakau, atau tengah terbang rendah dipermukaan air. Ular laut pun  membelit kayu dengan malas dengan kedamaian itu. Pada saat laut surut, umat yang menghaturkan baktinya ke Parahyangan Sakenan dapat berjalan kaki (medahat) di atas pasir laut menuju pulau.  Semua itu hanya tersisa dalam memori tahun 1980an.

Sesungguhnya, Parahyangan Sakenan dibangun oleh Maha Rsi Markandeya. Dalam Purana juga dikisahkan arti penting Parahyangan Sakenan sebagai pusat kekuatan spiritual bagi raja-raja Bali dan Raja Jawa  yang berkuasa dan dinasti yang berganti rupa selama beratus-ratus tahun di Bali. Tercatat,  pada masa pemerintahan raja Udayana, putra dari wangsa Sri Kesari Warmadewa, Empu Kuturan disebutkan pernah melakukan upacara suci di Sakenan sekitar tahun 1005 masehi.  Prabhu Udayana dan Empu Kuturan disebut penganut Budha Mahayana Sakyamuni.

Pada masa pemerintahan Sri Dalem Ktut Ngulasir dari kerajaan Gelgel, rakyat Serangan diperintahkan untuk membuat pemujaan Bhatara di tempat yang sebelumnya disucikan Empu Kuturan dan menamainya “Parahyangan Dalem Sakenan”.  Sakenan, dari kata Sakyamuni yaitu ajaran Budha yang dianut oleh Empu Kuturan.  Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong (1411 saka atau 1489 masehi), Dang Hyang Nirartha disebutkan membangun pelinggih Sekar Kancing Gelung di Sakenan.

Jatuh bangunnya kerajaan-kerajaan yang berkuasa menjadikan Parahyangan Sakenan diempon dari berbagai dinasti raja. Dengan kejatuhan Kerajaan Gelgel, Parahyangan Sakenan di empon oleh dinasti Mengwi, kemudian diserahkan pada keturunannya menjadi dinasti  Ida Bhatara Sakti Pemecutan dan kemudian diserahkan pada keturunan Puri Pemecutan yang berada di  Puri Kesiman  hingga sekarang.   Ikatan historis dan geneologis  dinasti dari ketiga Puri inilah yang menguatkan kedudukan Parahyangan Dalem Sakenan sebagai kawasan suci yang diempon Puri Kesiman dan didukung desa-desa lain.

Parahyangan ini juga menjadi situs pemujaan, manifestasi sinar kesucian dari: Ida Bhatara Dalem Sakenan, Ida Bhatara Sakenan yang distanakan di Kelan, Ida Bhatara Batur Sakti yang distanakan di Intaran-Sanur, Ida Ratu Agung Penembahan yang distanakan di Suwung Gde, Ida Bhatara Dalem Desa, Ratu Ayu Desa Adat Pemogan, Ida Ratu Made Dalem Kapala yang distanakan di Kepawon, Ida Bhatara Pura Desa-Desa adat Suwung Kepawon, Ida Bhatara Dalem Meru (Pura Myu) yang distanakan di Panjer. Ida Bhatara tersebut dibawa oleh masyarakat dari desa-desa tersebut ke Parahyangan Dalem Sakenan pada hari Jumat.

Pada puncak acara, Ida Bhatara yang dibawa masyarakat, yaitu: Ida Bhatara Gunung Agung yang distanakan di Intaran-Sanur, Ida Bhatara Muteran yang distanakan di Intaran-Sanur, Ida Bhatara Masjati dan Ida Bhatara Dalem atau Dukuh Sakti yang distanakan di Karang Suwung, Ida Bhatara Ratu Agung Dalem Camenggon yang distanakan di Sukawati, Ida Bhatara Braban yang distanakan di Batubulan, Ida Ratu Mayun Panji Landung yang distanakan di Pura Pucak Tirta di Busung Yeh-Badung.

Pada millennium 21 ini, Pengelingsir Puri Kesiman Anak Agung Ngurah Gde Kusuma Wardana berjuang menjadi martir untuk memelihara kesucian Parahyangan Sakenan sebagai langkah tegas menjaga kehormatan agama (dharma agama). Berbagai gempuran dihadapi Puri Kesiman dan kini  puri  dalam posisi “siaga” menghadapi musuh utama, yaitu broker tanah, kapitalis serakah dan teroris yang bermunculan di kawasan Serangan.

Puri mencoba melawan reklamasi pantai, namun ‘kalah’ dengan dibangunnya jalan penghubung ke pulau Serangan. Para broker tanah dengan gigih mengupayakan untuk mensertifikasi kawasan suci di Serangan yang jelas-jelas ditolak Puri. Kerusakan lingkungan hutan sehingga para mahluk gaib yang bernaung di antara cecabang bakau mengungsi dikalahkan lampu remang-remang kafe-kafe menjamur yang menyambut para pemuja ekstasi.

Atas nama modernisasi, kawasan di- Serang (an)  diserbu butha kala yang berhamburan tak punya rumah, kemudian bersilur rupa menjadi cewek kafe, wanita penghibur dan arena dugem. Tampaknya, wacana isolasi kesucian sudah tidak diperlukan lagi karena masyarakat Serangan membutuhkan modernisasi, seperti orang dataran lain. Keheningan itu sirna dengan deru kendaraan dan musik dugem.

Segelintir masyarakat tak peduli dengan Purana Sakenan, namun dengan pikiran penuh birahi dan berliur mencoba untuk menyetubuhi kawasan sekitar pura. Konon mengatasnamakan masyarakat Serangan, oknum ini berusaha mengambil alih pengelolaan Pura Sakenan (termasuk kawasannya) dari tangan Puri Kesiman.

Menanggapi hal ini Pengelingsir Puri Kesiman (11/12) AA. Ngurah Gde Kusuma Wardana dengan tegas menyatakan sikap “Puri Kesiman tidak akan pernah bermain dadu dengan kekuatan spiritual Pura Sakenan, yang diyakini umat secara luas sebagai pemberi kehidupan selama beratus-ratus tahun.  Pihak puri tidak ingin terpancing menanggapi berita yang disebar untuk mengadu domba puri dengan masyarakat Serangan. Pelecehan kesakralan pura oleh aktor-aktor bayaran kapitalis mesti ditindak tegas karena mereka sudah berperilaku seperti teroris yang merongrong kedamaian umat untuk menjalankan kegiatan keagamaan Hindu-Bali. Pura Sakenan adalah milik dunia, dan Puri Kesiman hanyalah pelaksana mandat dari penguasa dan tokoh pemimpin spiritual masa lalu untuk melangsungkan upacara suci bagi kedamaian dan kemakmuran dunia. Lagi pula Pura Sakenan adalah satu-satunya pura luhur kahyangan jagat yang ada di kota Denpasar. Sayang sekali pemerintah kota  tidak mengambil sikap yang tegas dengan menindak  aktor di balik kekerasan berdarah di kawasan suci milik dunia itu. Puri ‘bersikap’ untuk tidak menyelenggarakan piodalan sebagaimana yang telah dijalankan selama ratusan tahun selama pelecehan yang dilakukan teroris ini tidak dihentikan sama sekali”.

This entry was posted in Keraton Bali, peradaban and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to PURI DAN PURA

  1. Kadek Wahyu says:

    Swastastu mbok dayu,, sebelumnya saya bersyukur sekali dapat membaca artikel ini dan saya sangat antosias sekali dengan isinya sehingga saya pengen membacanya berulang-ulang. Nah, setelah beberapa kali saya baca artikel ini kiranya perlu dikoreksi lagi, pertama mengenai nama Anak Agung Ngurah Jaka Pratidnya kayaknya beliau katanya lebih suka menggunakan I Gusti Ngurah, karena persepsi beliau nama I Gusti jauh lebih tinggi dari anak agung, misal gusti allah. Kedua, sekarang ini milenium ketiga abad 21, mohon dicek lagi. ketiga penggunaan istilah martil yang mungkin maksudnya adalah martir? karena definisinya berbeda antara martil dengan martir. Dan sisanya saya sangat setuju. Sukses selalu buat mbok dayu, tp asal jangan jadi kaum borju aja hehehe

    • dayugayatri says:

      terima kasih sayangku.. enak banget deh punya tukang edit bahasa..bis gak pake kaca mata…jadi gak liat deh salah tulis. lagian ajudan turaj jaka pake bilang nama bosnya anak agung.. yah ikutan dunk.. thaks revisinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s