KERATON BALI MASA KINI dalam ROMANTISME IMAJINER

Mewacanakan dinamika kehidupan keraton Bali pada era kekinian menjadi sesuatu yang absurd dalam romantisme imajiner. Memasuki benteng keraton hari ini tak ubah seperti mengeja artefak sejarah, lalu memasuki sebuah wilayah pemukiman yang terkapling-kapling mirip BTN sebagai rumah milik Raja dan kerabatnya.

Keraton Bali dipilah menjadi dua  istilah, yaitu Puri dan Jero.  Puri  merupakan rumah raja dan Jero sebutan rumah bagi bangsawan Bali yang kedudukannya lebih rendah dari Raja.  Belakangan ini, istilah puri dan jero dipergunakan  secara arbitrer (mana suka).

Pada masa kini, ada kecenderungan untuk mengganti nama jero menjadi puri,  tetapi tidak ada puri yang berganti nama menjadi jero. Istilah Puri juga digunakan pihak pengembang wilayah untuk memberi nama proyek rumah-rumah kaplingan yang kini tengah marak diperjualbelikan.  Dan, generasi muda Bali yang terseret  jauh dalam modernisme dan tidak tersentuh pengetahuan lokal kelak  akan mendeskripsikan puri sebagai objek wisata kota sesuai dengan papan reklame yang terpajang di depan benteng keraton Bali.

Tembok merah keraton  pada masa lalu merupakan benteng imajiner yang  memisahkan  status masyarakat di Bali. Para bangsawan disebut sebagai Wong Jero (orang dalam)  dan orang kebanyakan atau rakyat jelata diistilahkan dengan Wong Jaba (orang yang tinggal di luar benteng) atau disebut juga panjak (rakyat). Orang luar keraton yang bekerja untuk kepentingan puri atau jero disebut Wang Jero (wang=teman, pekerja dalam puri atau jero). Wang Jero bekerja membersihkan areal puri dan melayani kepentingan keluarga keraton.

Mewacanakan puri atau jero hari ini seperti mewacanakan sepotong wajah realitas budaya Bali yang telah lama terdistorsi oleh citraan romantisme bentukan dari para broker pariwisata.  Upacara Ngaben bagi jenasah raja yang bersifat gigantik dihelat Puri  Ubud dan  pelantikan raja Denpasar yang menghabiskan biaya milyaran merupakan contoh  yang menegaskan steriotipe masyarakat tentang gaya hidup borjuasi dan mewah ala elit bangsawan keraton Bali.

Eksistensi dan prestasi orang-orang keraton (puri atau jero) akhirnya dalam pandangan publik dinilai dari kemampuan mereka mengadakan hajatan budaya yang serba hebat. Esensi upacara ritual bergeser tujuan dari spiritual tereksploitasi menjadi komersialisasi demi kepentingan hasrat pariwisata.

Orang-orang keraton pesolek sebagai prestise atau gengsi keluarga kemudian dijadikan referensi bagi  para fashionista di Bali. Berbagai ragam produk budaya (gaya hidup) menduplikasi dan mengangkat nilai-nilai eksotisme keraton atau dalam postmodern disebut seni camp. Eksotisme artifisial diabadikan dalam berbagai photografi. Seni camp semacam ini muncul dalam trend ‘foto pre-wedding’. Agensi foto, penata busana menduplikasi, memodifikasi gaya romantisme jaman kerajaan dalam kekinian, lalu menyajikan kembali tata busana yang serba glamour, keemasan.

Romantisme semacam ini secara perlahan menikam realitas kehidupan suram anggota keluarga keraton. Keangkuhan gapura Puri Sidan Bangli yang tinggi menjulang dan tembok tebal puri pada awalnya memberikan kesan kekaguman. Namun semakin jauh memasuki kedalamannya, maka  tampaklah kapling-kapling rumah kerabat puri yang berjejal dan sekat-sekat menggurat wajah kemiskinan keluarga Puri. Ada yang menjadi KK miskin, tinggal di rumah seukuran 4 x 6 meter persegi sebagai tempat tinggal sekaligus dapur, bekerja sebagai buruh bangunan dan ironisnya benteng terluar puri yang mengitarinya tampak begitu megah. Sekeping kisah ini mungkin harusnya tak tersampaikan demi menjaga martabat kebesaran ‘tembok’ puri. Tapi itulah sisi buram wajah puri yang tak bisa dipoles dengan kosmetik kepalsuan.

This entry was posted in Keraton Bali, peradaban and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s