KERATON BALI : BENTENG BUDAYA IMAJINER

Ketut Ardana (1994)  dalam artikelnya “Bali dalam Kilasan Balik Sejarah” melukiskan evolusi  puri-puri di Badung jatuh bangun dalam perebutan kekuasaan dan wilayah. Bersumber pada peneliti sebelumnya, Ardana menyatakan peran puri sangat besar khususnya dalam penyebaran kebudayaan Majapahit di Bali. Kekawin Jawa, Nagara Krtagama memberikan bukti adanya hegemoni Jawa atas Bali.Ardana juga menegaskan tidak adanya pengaruh India di Bali sebelum abad ke-10 karena masyarakat Bali pada waktu itu berkomunikasi dalam bahasa Bali Kuna, ke Jawa Kuna dan mengadopsi tulisan Jawa, sebagai wajah baru modernisme di Bali. Meskipun demikian, ada juga desa-desa, kelompok-kelompok sosial yang memberontak atau tidak mengakui keberadaan penguasa ini, seperti: kelompok Pasek dan kelompok Bali Aga.

Dalam artikelnya, Ardana menyampaikan berbagai manuskrip sejarah seperti Babad Dalem dan Usana Jawa melukiskan hubungan penguasa Jawa dan Bali tetap terjadi pada abad ke-14 hingga akhir abad ke-17.  Penguasa-penguasa Bali kemudian muncul menjadi raja-raja yang berkuasa dari kerajaan Karangasem, Buleleng dan dan membangun wilayah sebagai negara yang merdeka namun tunduk pada pada pemerintahan galaksi, dimana Kerajaan Klungkung sebagai pusat yang dikelilingi oleh raja-raja jajahannya yang secara politik independen tetapi tetap membayar upeti.

Dengan masuknya kolonialisasi pada abad ke-19 menjadikan puri terpecah kembali menjadi kubu yang pro dan kontra dengan pemerintah Kolonial Belanda. Pihak puri yang pro Belanda, diangkat menjadi raja-raja bawahan kerajaan Belanda (zelfbestuur) pada tanggal 1 Juli 1938.

Masuknya kolonialisme di Indonesia dan Bali pada abad ke-19 merubah banyak wajah budaya Bali. Jatuhnya kerajaan-kerajaan berkuasa Bali dan program pendidikan  yang diselenggarakan pemerintah kolonial Belanda secara perlahan mereduksi kekuasaan Puri. Kolonial Belanda membentuk dualisme pemerintahan yang terdiri dari sistem birokrasi tradisional dan sistem pemerintahan dari pegawai-pegawai Belanda. Dualisme sistem pemerintahan ini hingga kini diwariskan masyarakat Bali dalam sistem pemerintahan desa dinas dan desa adat.

Pendidikan yang diperkenalkan dan diberikan pemerintah Belanda pada akhirnya melahirkan gerakan sosial menggugat keberadaan dan kekuasaan kaum bangsawan Bali, dan mengibarkan gerakan nasionalisme Indonesia. Bali Utara pada tahun 1920an,  muncul kelompok Surya Kanta terdiri dari elit baru dari kaum jaba terpelajar ingin mengganti nilai-nilai tradisional yang tidak sesuai dengan tuntutan modern berhadap-hadapan dengan kelompok Bali Adnyana yang terdiri dari elit konservatif dari kaum triwangsa (para bangsawan). Surya Kanta juga menuntut pengangkatan pegawai oleh kolonial Belanda tidak bersifat askritif (didasarkan atas keturunan kebangsawanan) dan menuai kesuksesan dengan diangkatnya beberapa punggawa dari kaum jaba (bukan bangsawan).

Puri-puri yang kontra dengan Belanda melakukan gerakan nasionalisme secara diam-diam. Penguasa Puri Satria, Cokorde Alit Ngurah mengijinkan puri digunakan sebagai aktivitas sosial dari Bali Dharma Laksana hingga masa revolusi di Denpasar (Ardana,1994:31).  Raja terbaru Puri Satria, Ida Cokorda Ngurah Jambe Pemecutan, SH (Ida Cokorda Denpasar IX) saat diwawancarai minggu (5/12) menyatakan:

“Puri Satria sampai kini tidak kekeringan kelompok intelektual. Keluarga Puri banyak yang terlibat dalam politik praktis untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui partai politik. Ada yang berada di Partai Demokrat, PDIP dan Golkar. Pemikiran dan tenaga mereka bisa ada dimana-mana, tetapi ketika berada di Puri Satria, mereka adalah keluarga. Pihak Puri tentu sangat bangga karena anggota keluarga puri berhasil menjadi Wakil Gubernur Bali dan memimpin partai-partai yang berkuasa”

Perseteruan terkait wacana pro-kontra  keterlibatan aktor puri dengan kolonial Belanda berlanjut hingga abad ke-21. Nama amoring acintya Dr. Ide Anak Agung Gde Agung, Raja dari Puri Gianyar,  seorang diplomat yang cerdas, mantan perdana mentri NIT Belanda yang diangkat presiden SBY menjadi nama pahlawan nasional dari Bali pada 10 November 2007, menjadi perdebatan sengit di media elektronik. Raja ini dinyatakan sekutu Belanda dan yang mendirikan Pemuda Pembela Negara (PPN) untuk melawan para pejuang yang pro-Indonesia. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung dianggap sebagai kaum oportunis antek-antek penjajah yang kurang pantas dijadikan sebagai pahlawan nasional.

Selain itu perseteruan antarpuri juga memanas pada saat nama Rumah Sakit Sanglah akan diganti. Muncul nama-nama aktor dari puri yang dianggap berjasa dalam bidang kesehatan. Pihak keluarga amoring acintya Prof. Dr. IGN Gede Ngurah  dari Puri Gerenceng dan pihak  keluarga amoring acintya Dr. I Gusti Made Djelantik dari Puri Karangasem  berseteru dan saling klaim bahwa tokoh dari keluarga merekalah yang paling pantas digunakan sebagai nama bagi rumah sakit tersebut. Hasilnya, rumah sakit itu tetap menggunakan nama Rumah Sakit Sanglah.

Dinamika politik keraton  untuk meraih kembali pengaruh kekuasaan menarik untuk dicermati. Sejak bergabung dengan  NKRI kekuasaan keraton memang menjadi terbatas. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada upaya-upaya generasi orang-orang keraton berupaya merebut kembali kekuasaan untuk memelihara eksistensi Keraton mereka.

Reposisi kekuasaan tetap dilakukan dalam merebut posisi penting birokrasi dan partai politik dari level lokal hingga provinsial. Politisi-politisi nasional juga masih melibatkan puri-puri yang dianggap masih memiliki pengaruh politik untuk digandeng dalam organisasi dan perhelatan politik.

Tokoh-tokoh puri yang berhasil di birokrasi saat ini, seperti:  Anak Agung Putra Agung adalah putra Ide Tjokorde Mengwi, raja Mengwi ke-13 kini menjabat menjadi Bupati Badung.  Puri Satria memunculkan beberapa kaum birokrat dan politisi handal, yaitu: Anak Agung Ngurah Puspayoga, (mantan walikota Denpasar dan kini menjadi Wakil Gubernur Bali) dan Anak Agung Jaya Negara (Wakil Walikota Denpasar), Anak Agung Ngurah Wirabima Wikrama (wakil ketua DPRD Kota Denpasar). Cok Kertiasa  menjadi Bupati Gianyar adalah tokoh dari  Puri Ubud.

Puri Pemecutan pamornya meredup pascakejayaan Raja Pemecutan ke-XI yang terlibat skandal berdarah dengan adik tirinya, Prana Cita. Begitu juga dengan Puri Denpasar yang ditampar skandal penipuan, pelecehan seniman dan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara  yang ditelantarkan Raja Denpasar di Jakarta karena batal berangkat untuk perhelatan budaya dengan organisasi monarkhi Eropa.

Anak Agung Ngurah Gde Kusuma Wardana sebagai penglingsir dari Puri Kesiman memilih jalan di grassroot, menjadi aktivis lingkungan. Perjuangannya hingga hari ini adalah menggempur abrasi spiritual  dari kekuatan kapitalis yang hendak mencaplok kawasan-kawan suci menjadi wilayah industri, seperti kawasan Pantai Padang Galak dan terakhir adalah kawasan Pura Sakenan. Selain itu pihak keraton juga  berusaha menjaga eksistensinya dengan membangun komunitas-komunitas budaya dan memelihara relasi sosial  dalam kekiniannya. Pengelingsir Puri Kesiman ini juga membangun Penggak Men Mersi, dimanfaatkan untuk kegiatan kesenian, seperti membentuk orkes keroncong dan berbagai seni pertunjukan lainnya.

Puri Gerenceng, menggandeng isu pluralisme dan toleransi antarumat beragama dengan membangun komunitas  Persaudaraan Hindu Muslim Bali (PHMB) dipimpin Anak Agung  Ngurah Agung, SE. Komunitas ini pada peringatan Galungan (8/12) mengadakan open house ke-3 dengan mengundang tokoh-tokoh muslim dari Jamaah Al-Ikhlas. Bahrudin, salah seorang undangan asal Banyuwangi tinggal di Pesanggaran mengatakan:

“Segala sesuatu dimulai dari rintisan, dan puri Gerenceng telah mengawali membuka komunikasi yang intensif dengan kaum Muslim Denpasar untuk membina toleransi antarumat beragama di Kota Denpasar.”

Irwan, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang diundang turut memberikan tanggapan ”Wacana toleransi dalam perbedaan agama dan budaya merupakan sebuah apresiasi yang penting dalam kehidupan yang pluralis pada hari ini”.

Keraton di sisi lain masih eksis dalam menghimpun kekuatan dengan membangun komunitas berbasis massa yang kuat.  Bangsawan-bangsawan muda yang berada di peripheral puri mendirikan komunitas-komunitas dengan simbol-simbol tato kelompok yang tidak bisa diremehkan karena basis massa mereka cukup radikal, seperti: Laskar Pecut dan Laskar Bali yang tampaknya menjadi underbow kekuatan Puri Pemecutan. Di tengah wacana kriminalisme dan premanisme yang ditudingkan berbagai media elektronik terhadap komunitas ini, anak-anak muda Laskar Bali menyatakan diri sebagai komunitas yang menjaga Bali, dan menolak disebut preman sebagaimana yang dilontarkan Gung Laba dalam situs jaringan facebook Laskar Bali.

Politik dan kekuasaan merupakan sisi mata uang yang tak terpisahkan dari kehidupan keraton. Basis kekerasan dalam dinamika keraton Bali tercatat dalam banyak manuskrip sejarah. Penghianatan, perebutan wanita dan wilayah kekuasaan, pertikaian, kudeta, perdagangan candu atau narkoba dan perdagangan budak dan berbagai skandal lain seperti bungkam  dalam kebisuan benteng merah keraton.

This entry was posted in Keraton Bali, peradaban, politik and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to KERATON BALI : BENTENG BUDAYA IMAJINER

  1. mahendra says:

    sejarah Bali memang dipenuhi oleh intrik perebutan kekuasaan, jika mau jujur tidak hanya para turunan arya majapahit, tetapi hampir semua soroh/clan di Bali pernah memegang jabatan terhormat, baik Raja, Pendeta, dll. Contoh: para Mpu Pasek, Pande, Dukuh dll yang mendominasi susunan brahmana dan ksatrya warna di bali sebelum pengaruh majapahit mendominasi di abad ke 14. Sekarang saat jaman sudah merdeka dan Bali merupakan bagian dari NKRI masih bamyak saja yang berjiwa feodalis, apalagi mereka bersembunyi di balik tameng kata ‘ajeg bali’. mau dibawa kemana bali dijaman globalisasi ini jika masih bermental priyayi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s