Televisi dan ATVLI

Televisi atau sering disebut TV, teve, tipi merupakan kotak ajaib yang begitu berkuasa  karena mampu menyita perhatian, mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek kepentingan. TV kemudian menjadi media informasi popular yang menghubungkan kehidupan manusia secara global. TV mewartakan berita, mengkomunikasikan propaganda, kampanye,  menyajikan berbagai realitas atau suprarealitas, dan secara imajiner mampu merekonstruksi kehidupan kontemporer. Barker (2005:341) mengutip pernyatan Hall  (1977:140) yang mengatakan:

“Televisi adalah bagian dari prakondisi dan konstruksi selektif pengetahuan sosial, pembayangan sosial, yang kita gunakan memersepsi ‘dunia-dunia’, ‘realitas’, kehidupan orang lain dan secara imajiner merekonstruksi hidup kita menjadi semacam ‘keseluruhan dunia’.

Barker dalam bukunya yang berjudul  “Cultural Studies—Teori dan Praktik“ mengatakan, nilai penting  TV dan aktivitas menonton TV justru terletak pada ranah domestik, yakni ditempatkan dan dialami dalam aktivitas hidup sehari-hari. Sehingga, ruang domestik rumah menjadi situs konstruksi dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, TV menjadi ruang pergulatan identitas kultural yang lebih luas, termasuk identitas-identitas jender. TV memiliki kedudukan sentral dalam praktik komunikasi masyarakat global. Dan dalam perkembangannya, peran TV kini dikatakan bergeser dari jasa penyiaran publik menjadi televisi komersial yang didominasi perusahaan-perusahaan multimedia dalam pencarian mereka akan sinergi dan konvergensi.

TV sama halnya dengan media jurnalistik lainnya, juga menawarkan berbagai segmentasi, seperti: berita,  hiburan, iklan dan film. Dengan demikian, kekuatan kapitalis dan kapital tentu memainkan peran yang signifikan dalam merebut simpati dan menjadikan kepentingan publik yang lebih luas sebagai bagian dari kerja produksi komersial yang kreatif. Industri dalam pertelevisian sekarang ini cenderung semakin menggeliat seiring dengan kemajuan media  dalam teknologi sehingga media dapat memberikan sejumlah ideologi (gagasan-gagasan) visual yang  berorientasi pasar. Industri per-film-an dan periklanan  dalam televisi menjadi  komoditi visual – komersial yang semakin menjanjikan.

Dalam perkembangannya, sejumlah televisi lokal pada tanggal 26 Juli 2002 membentuk wadah yang bernama Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI) sebagai tempat bernaungnya sejumlah stasiun televisi yang berdaya jangkau siar lokal (daya jangkau siaran maksimum dalam satu provinsi/kota). Pembentukan asosiasi ini berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran, yang merupakan payung hukum bagi kemerdekaan televisi lokal. Adapun televisi-televisi lokal tersebut adalah Bali TV, JTV-Surabaya, Riau TV, Lombok TV, TV Papua, Deli TV dan EMU TV-Maluku Utara.

Tentunya dengan terbentuknya ATVLI, potensi sumber daya alam dan manusia serta berbagai produk kebudayaan daerah dapat terepresentasi secara proporsional dalam produksi visual yang diciptakan oleh para awak media TV daerah.  Melihat peran yang bisa dimainkan TV begitu besar, sehingga di sisi lain diharapkan dapat mendorong terbentuknya berbagai proses kerja kreatif di daerah-daerah. Pewarta berita berbahasa daerah pada TV lokal dan TVRI harus diapresiasi secara positif sebagai upaya untuk memberi ruang bagi perkemabngan budaya daerah.

This entry was posted in peradaban and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s