Sutradara Film: Putu Kusuma Wijaya

Putu  Kusuma saat ini dikenal sebagai sutradara film yang cukup diperhitungkan di Bali juga Jakarta. Putu Kusuma begitu pemuda asal Singaraja ini pernah terlibat dengan Garin Nugroho sebagai asisten sutradara dalam sebuah film layar lebar “ Under The Tree” atau “Di Bawah Pohon”.  Sebagian besar pemain dan setting cerita mengambil lokasi di Bali. Film  Under the Tree (di Bawah pohon) melibatkan para maestro seniman Bali seperti: Men Cenik, Sang Ayu Muklen, Rina, Ayu Laksmi,  dan beberapa seniman kelahiran Bali yang cukup disegani di Jakarta dan yang sudah go-international seperti Bulan Trisna dan Aryani Willems. Artis film Jakarta yang terlibat yaitu Dwi Sasono dan Marcella Zalianti.

”Under The tree” di masa depan dipastikan akan menjadi referensi sejarah  sebagai film semi dokumenter yang merekam tentang kebudayaan dan manusia (maestro) Bali kontemporer dalam melakonkan sandiwara jaman.  Film tersebut dipastikan sarat dengan pesan-pesan kemanusiaan seperti menyoroti fenomena perdagangan anak dan perempuan (trafficking). Film yang mendapat banyak sentuhan jiwa dan seni dari tangan asisten sutradara nasional, ini direkomendasikan untuk ditonton seluruh masyarakat Indonesia. Film hasil sentuhan artisitik Putu Kusuma ini berhasil ikut dalam Festival Film International di Berlin dan Tokyo.

Putu Kusuma lelaki yang begitu serius ini begitu intens menggeluti dunia perfiman. Baginya, membicarakan film seperti membangun ruang keharuan dan kebanggaan tersendiri bagi Putu Kusuma.  Optimisme Putu Kusuma dalam memandang masa depan film bioskop tanah air tercetus dalam ungkapannya:

”Sesungguhnya gedung bioskop punya potensi untuk hidup kembali seiring perkembangan era digital. Di masa kini, semenjak ada proyek digital, orang-orang sudah bisa menonton film-film keluarga. Hal ini akan menumbuhkan ruang-ruang apresiasi kecil disetiap rumah-rumah.  Anak-anak muda dapat digugah untuk membuat film dengan kamera video.Itu akan memberi kesempatan kepada gedung-gedung bioskop daerah untuk tumbuh kembali. Orang-orang mudanya menyajikan film mereka yang tidak akan dapat disaksikan di tempat manapun, kecuali di daerah mereka sendiri”.

This entry was posted in film and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s