Produksi Film Layar Lebar di Bali


Garin Nugroho pada tahun 2007  membuat film semi dokumenter berjudul “Under the Tree atau di bawah Pohon” mengambil latar belakang keindahan alam Bali, melibatkan asisten sutradara asal Bali (Putu Kusuma) dan  beberapa maestro seniman Bali seperti: Men Cenik, Sang Ayu Muklen, Arini Alit, I Ketut Rina, Aryani Willem, Bulan Trisna Djelantik, Ikra Negara dan Ayu Laksmi.

Film ini membuktikan bahwa,  Bali memiliki begitu banyak potensi dalam dunia perfilman. Bahkan dalam film ini, Aryani Willem berhasil meraih penghargaan  sebagai artis pemeran pembantu terbaik dalam Festival Film Indonesia 2008. Film ini juga telah diikutkan dalam sejumlah Festival Film International di Berlin dan Tokyo. Sayangnya film besutan karya sutradara nasional ini belum dapat dinikmati oleh masyarakat Bali secara luas dan perhatian Pemerintah Provinsi Bali tampaknya masih kurang untuk mengapresiasi film yang semi dokumenter  kebudayaan daerah Bali ini. Padahal, keberadaan film ini menjadi penting dalam konteks dokumentasi para maestro dan seniman Bali yang produktif di bidang seni.  Berikut kutipan dari beberapa artikel tentang Film “Under The Tree” :

(1)    Film “Under the Tree” Masuk Sembilan Nomine. “Film Under the Tree yang disutradarai Garin Nugroho yang diproduksi SET Film & Credo Pictures, masuk sembilan nomine dari 13 kategori untuk film cerita bioskop pada Festival Film Indonesia (FFI) 2008. Nomine diumumkan dewan juri yang diketuai Niniek L Karim, Jumat (28/11) malam di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismael Jakarta. Sembilan kategori tersebut adalah untuk penyutradaraan (Garin Nugroho), tata sinematografi (Yadi Sugandi), tata artistik (Budi Riyanto), penyuntingan (Andhy Pulung), tata suara (Adityawan Susanto), tata musik (Kadek Suardana/Wiwiek Soedarno), pemeran utama wanita (Ayu Laksmi), pemeran pendukung wanita (Aryani Kriegenburg Willems), dan untuk film secara utuh (Under the Tree, produksi PT Karya SET Film & PT Credo Cine Arts)”  http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/28/22250264/film.under.the.tree.masuk.sembilan.nomine:

(2)    Ayu Laksmi bersama Tim “Under The Tree Mendapat Sambutan di Tokyo International Film  Festival 2008”. Festival Film Internasional Tokyo ke 21 berlangsung di Tokyo dari 18-26 Oktober ini memutar Film Under The Tree karya Garin Nugroho sebagai film pertama membuka kompetisi film The Tokyo Sakura Grand Prix dalam festival tersebut. Setelah screening berlangsung panitia mengadakan sesi Tanya-jawab dengan sutradara dan para pemain film yang hadir tersebut. http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2008/10/27/ayu-laksmi-bersama-tim-%E2%80%9Cunder-the-tree%E2%80%9D-mendapat-sambutan-di-tokyo-international-film-festival-2008/

Film “Eat Pray and Love” dari novel karya Elisabeth Gilbert dibuat di Bali dengan pemain Julia Robert, sejenak menarik perhatian masyarakat Indonesia dan Bali pada khususnya pada  pertengahan tahun 2009. Setting alam dan kehidupan manusia Bali, baik dalam banyak karya tulis  termasuk dalam novel  dan film “Eat, Pray and Love”.  Novel dan film ini mengisahkan kehidupan seorang wanita pascaperceraiannya,  menemukan kebahagiaan spiritual di tanah Bali setelah melintasi berbagai pengalaman di Italia dan India.

Gung Masruscita Dewi (2009) akhir  November 2009, menyutradarai pembuatan film layar lebar berjudul “Sudra”. Film garapan sutradara daerah ini menampilkan film anak-anak Bali yang menyoroti tentang persoalan konflik kasta dan persahabatan. Film lokal ini mencoba menggarap isu lokal yang dapat diterima secara global, yang lebih luas dapat dikaitkan dengan isu diskriminasi ras dan etnis yang masih dirasakan di berbagai tempat. Film saat ini tengah menjalani proses penyuntingan sampai akhir Desember 2009 dan rencananya akan diikutkan dalam film festival di berbagai tempat.

Ketiga film di atas merupakan ilustrasi untuk melihat potensi Bali yang begitu besar untuk digarap dalam proses industri kreatif.  Berbagai mitos keindahan alam, keunikan orang Bali dan kekayaan budayanya  telah  menempatkan Bali sebagai suatu sumber sensual yang dapat digarap dalam berbagai dimensi perfilman dan juga periklanan.

“Bali sangat potensial untuk produksi film karena para aktor dan aktrisnya bermain bagus, pemandangan alam yang luar bisas dan bisa diekplorasi dari berbagai sudut serta rating pemirsa yang bagus menjadikan Bali sebagai tempat produksi Film TV yang cukup digemari oleh banyak sutradara film“ ujar Latifah , agensi pencari bakat  dari Studio 10 atau PT Darmawangsa Studio Sepuluh (DSX), 4 Desember 2009.

This entry was posted in film and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s