Bioskop Denpasar dalam Kenangan


Pergi nonton ke gedung bioskop sendirian pasti aneh rasanya dan paling bagus menonton ramai-ramai atau dengan pacar. Sebelum menonton ada baiknya membeli minuman soda, kue, kacang dan Pop corn. Terlebih lagi, konsep pembangunan bioskop atau  Cineplex dilokasikan di pusat perbelanjaan dan supermarket sehingga sebelum menonton, para pemirsa dapat berjalan-jalan  sambil membeli kebutuhan sehari-hari. Bioskop sekarang juga terbuka dari siang hingga malam hari. Dulu,  pelajar biasanya memilih menonton bioskop tiap hari Senin karena bisa mendapatkan potongan harga namun, kini pelayanan ini tidak diberikan lagi. Dalam dua puluh tahun terakhir jumlah bioskop semakin berkurang. Pada tahun 80-an  bioskop di Kota Denpasar cukup banyak.

Di pojok barat daya jalan Gajah Mada berdiri Indra Theater, tempat orang bisa menonton film action, silat  atau kungfu dari Hongkong. Aktor kungfu yang paling digemari yakni, Bruce Lee, Jacki Chen dan Jet Lie. Bahkan sepatu silat seperti yang dikenakan Bruce Lee juga menjadi begitu terkenal dengan sebutan sepatu Big Boss. Bioskop ini juga dilengkapi permainan bagi anak-anak seperti kuda-kudaan elektrik dengan menggunakan koin yang hanya ada di Indra Theater.

Penggemar Film India biasanya pergi ke  Denpasar Theather, yang berlokasi di sebelah jembatan di Jalan Hasanudin depan pertokoan emas. Film India juga  ditonton di bioskop Wisnu. Kedua bioskop ini pernah mengalami kebakaran. Artis India yang paling digemari pada tahun 80-an seperti: Hema Malini, Amitha Bachan, Sashi Kapoor.

Jika menyukai Film Indonesia dengan judul : Beranak Dalam Kubur, Sundel Bolong, Bercinta dalam Lumpur, pada tahun 80-90-an dapat menontonnya di Bioskop Kumbasari di lantai atas pertokoan Lokitasari. Gedung inipun pernah mengalami kebakaran pada tahun 2007.

Pada era tahun 80-90an artis Indonesia yang berpakaian seksi, dengan mempertontonkan paha dan belahan dada waktu itu sudah disebut bom sex dan ada tanda  XX  pada kanvas film  yang tergantung di depan bioskop. Artis Indonesia  yang terkenal sebagai bom sex waktu itu, seperti : Eva Arnaz, Inneke Koesherawati dan  Suzzana  pemain spesialis film horor.

Film aksi barat (action) dapat ditonton di  Wisata Theater  (sekarang menjadi  Wisata Cineplex 21). Charles Bronson sebagai coboy Amerika terkenal, dan film dari Ian Fleaming ”James Bond 007” sudah begitu terkenal pada masa itu. Wisata Theater waktu itu menjadi bioskop pertama yang memiliki eskalator di Bali.  Jaya théather di  Jalan Kartini kini sudah tak beroperasi dan digunakan sebagai gudang  oleh pemiliknya. Gedung ini dulunya juga banyak memutar film barat.

Sementara, Bioskop Sahira (Sarana Hiburan Rakyat) di samping Pura Tambangan Badung, dan  Bioskop Pengadangan di Kesiman merupakan bioskop yang dikelola dengan menejemen desa.  Kedua tempat ini masih lebih baik dari menonton pemutaran film layar tancap di lapangan yaang disebut dengan Misbar (gerimis bubar) yaitu pas gerimis,  penonton juga  bubar.

Pada tahun 80-an tempat duduk dibioskop terbuat dari besi, kayu atau plastik Bisanya para orangtua mengajak anaknya menonton bioskop untuk rekreasi sambil mengasuh anak. Anak-anak menangis dan berteriak-teriak atau kencing di bawah bangku merupakan pemandangan yang biasa. Anak muda banyak jug ayang mengajak kawan atau pacarnya untuk menonton bersama.

Pada tahun 90-an, bioskop digunakan sebagai alat propaganda politik oleh pemerintah ketika rejim Soeharto masih berkuasa. Murid-murid, sekolah dihegemoni negara untuk menonton  film yang konon berlatar belakang sejarah, seperti film : Janur Kuning, Serangan Fajar dan film anti komunis bernama G30S PKI.  Tiap tahun film yang sama diputar sebagai film wajib ditonton masyarakat  berdasarkan instruksi pemerintah.  Tiket pun dijual di sekolah-sekolah dan banjar-banjar.

Bioskop di masa kini mengalami perubahan. Fasilitasnya lebih  bagus dilengkapi dengan ruang ber-AC, kursi empuk, sound system yang jernih,  dan penonton mentaati aturan tidak merokok selama pertunjukan berlangsung.

Bioskop dari dulu hinga kini memainkan peran penting untuk  menjadi tempat rekreasi dan bersosial. Di bioskop kita juga dapat mempelajari perkembangan budaya kontemporer  termasuk gaya  hidup masyarakat seperti: berbagai model baju, tas, model rambut terbaru, hape dan gaya hidup yang kita sebut  ’fashion’. Semuanya dapat dilihat saat mengantri membeli tiket.  Kini , tidak lagi kita lihat calo tiket (tukang catut)  atau istilah free pass atau tiket gratisan dari bioskop.

Dalam perkembangannya, gedung bioskop di masa kini seperti menjadi milik anak-anak muda saja. Orang tua sekarang ini bersembunyi di rumah, mengasuh anak- anak sambil menonton sinetron. Anak-anak kecil pun jarang pergi ke bioskop. Mungkin juga karena tiket yang semakin mahal Rp.10.000 – Rp.25.000, dan itu belum termasuk belanja lain-lain seperti makanan ringan (snacks). Sepertinya, kisah bioskop masa lalu telah terkubur bersama kenangan akan bioskop yang terbakar, beralih fungsi sebagai pertokoan atau menjadi tempat pembiakan sarang burung walet.


This entry was posted in film and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Bioskop Denpasar dalam Kenangan

  1. operabiru says:

    enak ya mbak pergi ke masa lalu…. ikut dooonk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s