Bioskop Bali dan Gaya Hidup

Luh Gede Yastini, SH (27th) aktivis dan juga direktur LBH-Bali senang sekali menonton bioskop.  ”Sensasi yang diperoleh dengan menonton film di gedung bioskop, Tv atau DVd  tentu saja berbeda. Terlebih lagi, gedung Bioskop kini telah dilengkapi special efek sehingga menonton  Film ”Lord Of The Ring” atau terasa seperti sungguhan. Lagipula bioskop tidak sekadar menonton film, melainkan merupakan ruang untuk bersosialisasi dan berekreasi dengan   kawan-kawan” .

Endi (26th) dari Tuban-Badung dan Sugiarta (27th) asal kesiman sama-sama mengatakan ”Bioskop bagi saya hanya untuk menyenangkan pacarnya saja”. Lebih jauh Sugiarta mengatakan ”Saya lebih suka menonton film di rumah dan membuat rumah serasa seperti ’home theather’ dengan menonton DVD”.

Dayu Karang (68th) asal Buleleng  dan tinggal di Denpasar bernostalgia tentang Bioskop di Singaraja pada tahun 58-an. ” Tiap hari Sabtu saya bisa nonton dibioskop samping sekolah saya yang bernama SMA Baktiyasa di Jalan Ngurah Rai.  Di sana ada Bioskop Maya, milik Anak Agung Pandji Tisna. Kalau tidak di sana, saya bisa ke Bioskop Wijaya.  Di  Kampung Tinggi juga ada bioskop bernama Singaraja Theather. Harga tiket masuk berkisar 100-125 rupiah. Orang kaya menonton di balkon, kelas ekonomi duduk di dek.  Di sana juga ada Kafetaria tempat orang membeli makanan ”.

Bioskop juga merupakan tempat ajang untuk menampilkan fashion sesuai nafas jaman pada waktu itu. Dayu Karang juga menuturkan Fashion di Singaraja pada tahun 60an di Buleleng ”Perempuan pada jaman itu pergi ke Gedung bioskop menggunakan busana bergaya Eropa seperti Jaman Victoria yang disebut dengan  ’kénkén’. Para pria mencukur rambutnya bergaya Elvis Presley dan bercelana biru benhur (seperti judul film asing : Benheur), dengan model cut bray. Singaraja waktu itu sudah modern karena mendapat pengaruh Barat karena menjadi ibukota Sunda Kecil. Film yang banyak ditonton di bioskop, yakni film India dan Film barat. Pemain India yang  terkenal tahun 60-an, seperti: Raj Kapoor, Sami Kalla, Amita Bachan.Film Barat favorit saya berjudul  ”Gun of Navaron dan  Mogambo” dan aktor favorit waktu itu Charles Bronson dan James Kelly. Selain itu saya juga menyukai aktris Eva Gardner dan Marilyn Monroe”.

Ngurah Karyadi asal Kabupaten Jembarana  menceritakan tentang Bioskop di Jembrana.  ”Pada tahun 80 hingga tahun 90an, Jembrana mempunyai  Bioskop Wijaya di barat jembatan Tukad Ijo Gading dan Bioskop Negara di timur jembatan itu. Film India banyak diputar di Bioskop Wijaya. Namun kalau senang fil action atau film barat temaptnya ada di Bioskop Negara. Nbioskop merupakan pada masa itu menjadi semacam  ’meeting point’ anak-anak muda Jembrana. Kini bioskop itu sudah hilang dan digantikan dengan pertokoan”.

Kadek Agus Darmawan (20th) asal  Klungkung menceritakan tentang bioskop yang pernah ada di Klungkung. Gedung bioskop Sinar Theather di Jalan Flamboyan Klungkung kini telah beralih fungsi menjadi sarang burung walet.

Gungde Wardana (29th) asal Tabanan menginformsikan bahwa di daearh tabanan ada dua bioskop bernama Bali Theather terletak di Pasar  Tabanan dan Bioskop  Tabanan theather. Kedua bisokop itu tidak beroperasi kembali.

This entry was posted in film and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s