Wajah Multikulturalisme Indonesia


Indonesia merupakan negeri besar yang memiliki ribuan pulau, serta memayungi berbagai masyarakat multikultur dan juga polietnis. Jauh sebelum Indonesia terbentuk, bangsa-bangsa Nusantara telah mengakui dan merayakan perbedaan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bhinneka Tunggal Ika sebagai sesanti atau manifesto politik kebudayaan bangsa yang tercantum dalam Pancasila merupakan bukti adanya pengakuan dan penghargaan bangsa Indonesia atas berbagai pluralitas atau perbedaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Multikulturalisme,  memuat wacana tentang etnisitas, representasi  etnis (dan ras) yang beragam, hak-hak minoritas, identitas dan etika hidup dalam perbedaan yang ditujukan untuk integrasi bangsa.

KONSEP

Baker (2000:33) menyatakan etnisitas adalah konsep kultural yang berpusat pada berbagai norma, nilai, keyakinan, simbol dan praktik kultural yang menjadi patokan proses pembentukan batas-batas kultural. Konsep “rasialisasi” dipakai untuk menggambarkan ras sebagai konstruksi sosial dan bukan katagori biologis yang universal dan esensial. Ras hanya ada dalam representasi, dibentuk di dalam dan, oleh representasi dalam sebuah proses pergulatan kekuasan sosial dan politis. Baker menjelaskan representasi sebagai praktik-praktik pemaknaan untuk mewakili atau menggambarkan suatu objek atau praktik lain di dunia nyata.

Diskursus multikulturalisme menurut F.Budi Hardiman (2002:x-xi), [juga] muncul dalam konteks penanganan aspirasi minoritas kultural dari sekelompok orang yang di dalam politic of recognition dipahami sebagai sekelompok orang yang menuntut hak untuk menentukan diri sebagai sebuah minoritas kultural, pengakuan atas identitas kolektif, atas kepentingan kelompok dan orientasi nilai.

Subjek kolektif atau kelompok minoritas ini terdiferensiasikan menjadi tiga yakni: 1) Gerakan  sosial baru, yakni: gerakan kaum homoseksual, kaum miskin kota, kaum cacat atau feminisme; 2) Kelompok minoritas-minoritas nasional yang potensial dapat memerintah sendiri, misalnya : orang Basque di Spanyol, orang Jawa di Suriname; 3)  Dan kelompok-kelompok  etnis.

Forum Rektor Simpul Jawa Timur dalam pendahuluan buku yang berjudul Hidup berbangsa dan Etika Multikultur (2003) merumuskan terminologi Multikulturalisme. Multikulturalisme merujuk pada dua hal yang berbeda, realitas dan etika atau praktik dan ajaran.

Multikulturalisme sebagai realitas atau praktik, dipahami sebagai representasi yang produktif atas interaksi di antara elemen-elemen sosial yang beragam dalam sebuah tataran kehidupan yang berkelanjutan. Sebagai sebuah etika atau ajaran, multikulturalisme merujuk pada spirit, etos, dan kepercayaan tentang bagaimana keragaman atas unit-unit sosial yang berciri privat dan relatif otonom itu seperti etnisitas dan budaya, semestinya dikelola dalam ruang-ruang publik.

Multikulturalisme dapat dimaknai sebagai sebuah kepercayaan yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok etnik atau budaya (ethnic and cultural groups) dapat hidup berdampingan secara damai dalam prinsip co-existence yang ditandai oleh kesediaan menghormati budaya lain. Multikulturalisme juga merupakan sebuah formasi sosial yang membukakan jalan bagi dibagunnya ruang-ruang bagi identitas yang beragam dan sekaligus jembatan yang menghubungkan ruang-ruang itu untuk sebuah integrasi (Daniel T.Sparingga, 2003).

Identitas mencakup identitas diri sekaligus identitas sosial dan sepenuhnya bersifat kultural. Identitas bukanlah merupakan hal yang baku tetapi hal yang menjadi (becoming). Politik identitas tercipta melalui upaya penggambaran kembali dengan bahasa dan koalisi strategis temporer antarorang yang memiliki nilai-nilai tertentu (Baker, 2003:252-253). Identitas kultural merupakan suatu potret makna-makna yang mengungkapkan sesuatu, terkait dengan nominasi diri atau dengan penilaian/persepsi orang lain. Identitas kultural terkait dengan  titik-titik simpul makna kultural, terutama kelas, jender, ras, etnisitas, bangsa dan usia (Baker, 2005:514).

Bagus (2003) menyatakan multikulturalisme sebagai pluralisme kebudayaan sebagaimana yang dikemukakan William A.Haviland (1988:289-290). Pluralisme kebudayaan merupakan interaksi sosial dan politik antara orang-orang yang berbeda cara hidup dan berpikirnya dalam masyarakat yanga sama. Secara ideal, pluralisme berarti penolakan kefanatikan, purbasangka, dan rasisme dan menerima sikap menghargai kebudayaan tradisional lainnya. Kehidupan multikulturalisme tidak sama dengan analogi melting pot atau juice. Di mana unsur-unsur saling melebur dan cair menjadi sebuah satu kesatuan. Tapi lebih tepat dianalogikan sebagai gado-gado.

Implementasi multikulturalime di Indonesia tentu bukan perkara mudah, terlebih lagi jika proses interaksi sosial ini ditujukan untuk politik integrasi. Latar belakang budaya yang rumit (kompleks) dari berbagai etnis dan ras dapat menjadi berkah yang harus dirayakan sebagai manifestasi penghargaan atas perbedaan. Dan di sisi lain, perbedaan itu dapat menjadi penghambat untuk mencapai tujuan, yakni memberikan rasa keadilan sosial bagi seluruh Indonesia.

Pembahasan pada materi ini ditujukan untuk memahami karakter multikulturalisme di Indonesia dan mengidentifikasi beberapa tantangan yang dihadapi untuk mendapatkan sebuah jalan keluar untuk mengatasi beberapa faktor penghambat proses integrasi bangsa.

Wajah Multikulturalisme Indonesia

Multikulturalisme semestinya ditujukan untuk perayaan kehidupan atas perbedaan. Namun harapan itu tampaknya belum terjadi secara signifikan di Indonesia. Berbagai media massa menampilkan Wajah Multikulturalisme Indonesia penuh dengan “jerawat” yang sedemikian buruknya, akibat: kemiskinan, penelantaran, pengabaian, sejarah kekerasan rasial dalam bentuk Rasisme Baru, etnosentrisme dan menejerial pengelolaan negara yang rapuh.

Liliweri (2009:29) menyatakan, kekerasan rasial merupakan tindakan ancaman, intimidasi, baik secara psikologis, sosial, maupun fisik yang diarahkan kepada individu atau kelompok dari ras tertentu. Teun. A Van Dijk (1999: 4-6) menjelaskan bahwa istilah “Rasisme Baru” diperkenalkan pada tahun 1980 sebagai label praktis terhadap perubahan-perubahan dalam hakikat penguasaan dan ketidaksejajaran etnik di dalam masyarakat multikultur kontemporer.

Rasisme baru terfokus pada perbedaan-perbedaan kultural, mungkin pula pada “ketidaksempurnaan” kultural dan bukannya pada inferioritas/superioritas biogis genetis. Ketidaksejajaran tidak diwujudkan dengan menindas kelompok lain (others) melainkan dengan menciptakan “kerugian” sosial-ekonomis.  Kerugian ini kemudian disimpulkan sebagi karakteristik kultural kelompok minoritas dan kelompok mendatang.

Rasisme Baru juga tampak dalam wacana baru juga tampak dalam wacana dan tindakan yang  lebih resmi di kalangan institusionalis dan elit. Teun A .Van Dijk memberikan contoh peraturan keimigrasian yang bersifat membatasi, penghapusan klausul-klausul mengenai affirmative action atau aturan-aturan sejenis yang bertujuan untuk menghalang-halangi kesejajaran etnik.

Stanley Parsetyo Adi (1999: 94-95) menyatakan, rasialisme merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut gagasan yang meyakini adanya kaitan kausal antara ciri-ciri jasmaniah seseorang dengan keturunan, kepribadian, intelektualitas, kebudayaan atau gabungan dari semuanya. Rasialisme acapkali berhubungan dengan kelompok non-biologis dan non-rasial, seperti: sekte keagamaan, kebangsaan, kebahasaan, etnik, kultural atau sebuah prasangka yang berangkat dari steriotip dan kecemburuan sosial. Prasangka mewujudkan suatu rasionalisasi terhadap diskriminasi, sedangkan diskriminasi acapkali membawa ancaman.

Di Indonesia, kekerasan rasial akibat etnosentrisme seringkali ditujukan kepada orang-orang Cina. Istilah “Cina” sebenarnya merupakan ‘hukuman’ yang diberikan oleh pemerintahan Orde Baru menggantikan sebutan Tionghoa, karena orang-orang Cina di Indonesia dianggap sebagai agen pemerintah Cina yang turut mendukung pemberontakan PKI tahun 1965 (DP.Budi Susetyo, http://www.unika.ac.id /fakultas/psikologi/artikel/bs-1.pdf, diunduh 2009).

Rasisme seringkali ditujukan terhadap orang-orang kulit putih yang dijeneralisasi sebagai “orang Amerika dan kapitalis” oleh  para teroris yang mengidap xenophobia. Dampak yang ditimbulkan akibat kebencian ini berdampak luar biasa memprihatinkan seperti terjadinya beberapa kerusuhan rasial seperti pembunuhan massal (massacre) pada peristiwa Bom Bali I dan II, Bom Kuningan dan berbagai peristiwa terror lainnya. Fakta ini menunjukkan diskriminasi rasial telah mengancam rasa keamanan, rasa keadilan dan kemanusiaan, yang  tak mampu dikendalikan oleh negara.

Menejerial pengelolaan negara yang buruk juga termanifestasi dalam pengelolaan sejumlah asset negara dalam bentuk kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan kulturnya. Sejumlah asset negara berupa ribuan pulau, jumlahnya semakin lama semakin berkurang akibat penelantaran, invetarisasi yang lamban, kerusakan alam akibat bencana dan eksploitasi, klaim, penguasaan dan juga perampasan, merupakan realitas yang tak dapat dipungkiri.

Berbagai media telah memuat pemberitaan tentang keberadaan sejumlah pulau yang diperjualbelikan, sejumlah pulau dirampas oleh negara tetangga seperti klaim pulau Sempadan dan Ligitan oleh Malaysia. Perampasan sejumlah teritori perairan Indonesia, serta pencurian, penyelundupan berbagai hasil alam Indonesia merupakan fakta yang dihadapi NKRI. Perseteruan perebutan wilayah ini seharusnya tidak terjadi jika negara sigap melakukan tugas dan kewajibannya untuk  melakukan pengamanan khususnya di daerah-daerah  perbatasan.

Selain itu, ada 33 daftar artefak budaya Indonesia yang diduga dicuri, dipatenkan atau diklaim oleh korporasi asing, oknum warga negara asing, ataupun negara lain (Sumber http://budaya-indonesia.org). Fenomena terakhir yang menimbulkan kemarahan sejumlah komponen masyarakat  Indonesia yakni adanya klaim oleh Malaysia atas sejumlah produk kultural, yang diakui oleh masyarakat sebagai produk kebudayaan Indonesia.

Isu diklaimnya Tari Pendet milik masyarakat Bali sebagai bagian dari kampanye pariwisata Malaysia yang mengusung tema “Malaysia, Truly Asia”  merupakan puncak konflik mengarah pada munculnya kebencian terhadap Malaysia.  Isu “Perampokan budaya Indonesia”  oleh Malaysia dianggap sebagai pelecehan terhadap harkat dan martabat bangsa Indonesia, khususnya masyarakat pelaku seni dan budaya.

Pihak kerajaan Malaysia dan perwakilan negara tersebut menyangkal adanya klaim tersebut dan dianggap sebagai keisengan politik.

“Konsul Kehormatan Malaysia di Bali, Feisol Hashim, mengemukakan bahwa kasus tari pendet yang dianggap telah diklaim oleh Malaysia telah banyak dimanfaatkan untuk keisengan politik. Malaysia tidak memberikan tanggapan apa-apa karena pemerintah di sana memang tidak tahu apa-apa soal itu. Itu adalah garapan Discovery Channel, yang sudah meminta maaf atas kekeliruan iklan yang menggunakan tari pendet tersebut,” (Kompas, Sabtu 12 September 2009: 06:48 WIB)

Pemerintah Malaysia melalui Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato` Zainal Abidin Zain, membantah pemberitaan media massa bahwa negara itu telah mengklaim budaya Indonesia sebagai asli budaya milik Malaysia.

“Kerajaan Malaysia tidak pernah mengklaim budaya Indonesia sebagai budaya kami,” kata Dubes Zainal dalam acara memperingati Hari Kemerdekaan Malaysia ke-50, di Jakarta, Rabu (5/12) malam.” (Antara News Rabu, 5 Desember 2007 22:26 WIB)

Pernyataan Dubes Zainal itu merujuk kepada pemberitaan media massa di Indonesia yang menyebutkan bahwa Malaysia mengklaim budaya Indonesia, seperti kesenian: “Reog Ponorogo”, lagu “Rasa Sayange”, alat musik “Angklung”, pakaian “batik”, dan makanan “rendang”– sebagai budaya asli negara itu.

Meskipun pemerintah masing-masing negara tampaknya saling mengendalikan diri untuk tidak terpancing lebih jauh dalam situasi politik yang memanas, konflik laten perseteruan bernuansa nasionalisme merebak di antara kubu pendukung Indonesia dan Kubu Malaysia. Perseteruan ini  semakin marak dengan digunakannya media Internet sebagai medium perlawanan dan perjuangan nasionalisme.

Kelompok yang menyatakan diri mereka pro “Malaysia” membuat iklan plesetan dari Iklan Pariwisata Indonesia yang berjudul “Visit Indonesia 2008” menjadi “Don’t  Visit Indonesial—100 years terrorist nation”.

Selain itu, penulis dari insidesingapore.blogspot. com mengidentifikasi  kebenciannya terhadap Indonesia [mereka menyebut Indonesia sebagai Indon]. Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang bertabiat buruk, penghasil pendatang haram, teroris dan kekerasan yang marak ditayangkan oleh media massa Indonesia.

“Dont visit INDONesial 2008. INDONesial truly terrorist nation. jika anda merancang untuk bercuti ke INDONesial, bermakna anda bakal menempah maut disana. INDONesial, negara mundur,busuk dan tidak mempunyai taraf antarabangsa, antara negara no 1 di asia tenggara mempunyai pengganas yang paling banyak. Ia juga diketahui juga sebagai negara yang tidak mengamalkan demokrasi dan berlakunya banyak pembunuhan secara berleluasa. INDONesial juga merupakan negara ke 3 di Asia Tenggara kuat rasuah dan penyelewengan kuasa. Akibat terlampau ramai rakyatnya yang tidak mendapat pendidikan dari pihak kerajaan, rakyat INDONesial menjadi seperti katak dibawah tempurung dan agak jakun serta perak melihat dunia luar”.

Stereotip negatif itu yang diuraikan di atas tentunya tidak dapat disangkal begitu saja. Sebagian mengandung kebenaran akan realitas  pemberitaan konflik dan kekerasan antarkelompok  etnis, agama, pelajar dan mahasiswa, buruh dan pengusaha yang secara intensif dipublikasikan oleh para “kuli tinta” di tanah air.

Pemerintah Indonesia juga seperti menutup mata dengan keberadaan warga negaranya yang menjadi imigran gelap, menjadi tenaga kerja ilegal akibat ketidakmampuan negara untuk memberikan ruang untuk mencari nafkah dan penghidupan yang layak. Tidak sedikit dari mereka bahkan mengalami penganiayaan selama bekerja di tempat perantauannya. Demikian juga tudingan banyaknya penyelewengan kekuasaan  di Indonesia tentunya tidak akan disangkal oleh para pembaca di Indonesia.

Sebaliknya, kelompok yang menyatakan diri sebagai warga Indonesia juga membuat balasan iklan yang merupakan plesetan dari iklan pariwisata Malaysia yang bertema “Malaysia, truly Asia” menjadi “Malaysia, Truly-Maling-Asia”. Kampanye, propaganda melalui anti Malaysia melalui blog, iklan dan pernyataan berbagai kalangan merupakan respons (apresiasi atau ekspresi) atas sejumlah klaim Malaysia terhadap kebudayaan milik orang Indonesia. Reaksi nasionalisme semacam ini bisa saja muncul  secara bebas tanpa intervensi. Negara  dianggap tidak cukup tegas menyikapi persoalan “perampokan kebudayaan” ini. “Ganyang Malaysia” sebagaimana yang sempat digaungkan oleh bapak Bangsa yakni Presiden Soekarno di masa lalu kembali tercetus, meskipun dalam bentuk kontravensi di masyarakat.

Iklan berbentuk slogan, propaganda dan testimoni yang ditampilkan di media internet ini, sesungguhnya memiliki fungsi sosial, yakni untuk menggerakkan suatu perubahan standar hidup. Liliweri (1992:62) menyatakan “teori cutting edge” mengajarkan bahwa iklan secara tidak disadari dapat mengubah  bentuk prilaku yang menyimpang dari suatu budaya umum, dan membentuk subbudaya kelompok tertentu. Tentu saja tudingan dalam bentuk iklan dan steriotip negatif yang dikonstruksi oleh pihak-pihak di atas dapat dijadikan pembelajaran untuk lebih memahami semangat nasionalisme secara positif untuk perubahan yang lebih baik.

Tantangan

Implementasi Etika Multikulturalisme

di Indonesia

John Rex percaya bahwa masyarakat multikultur yang ideal adalah konsonan dari keseimbangan peluang, sebuah prinsip dasar demokrasi, ketika suatu masyarakat  dipersatukan dalam masalah isu privat atau isu dominan (hukum, politik, dan ekonomi), tetapi di saat yang sama merangkul perbedaan dan keberagaman masalah privat dan komunal (Liliweri, 2009:59).

Dalam era orde baru, sentralisme kekuasaan  dalam pola kehidupan politik dan  ekonomi yang distorsif, berbagai bentuk penyeragaman kultural, sikap represif aparat keamanan dalam pengendalian konflik, dirasakan kurang memberi peluang untuk membuka wacana dialog dalam setiap konflik.  Hal ini memicu dalam berbagai bentuk aksi kekerasan.

Aksi kekerasan yang menghiasi wajah multikulturalisme Indonesia merupakan fakta empirik kuatnya perspektif, xenophobia, etnosentrisme [juga rasisme]. Ini terjadi karena belum berkembangnya sistem-sistem hak, etos demokrasi, proseduralisme legal, dan netralisme politis dalam tradisi kehidupan bernegara (F.Budi Hardiman, 2002).

Dengan demikian implementasi etika multikulturalisme menghadapi tantangan internal dan ekternal. Secara internal, tantangan multikulturalisme sangat berkaitan dengan penataan dan pengelolaan menejerial negara. Sedangkan, tantangan eksternal dalam konteks ini berkaitan dengan relasi antarnergara  dalam berbagai konflik di perbatasan dan pengelolaan atas asset negara dan bangsa.

Tantangan Internal

Distorsi kebijakan khususnya dalam penggelolaan negara (seperti praktik korupsi dan kolusi), sentralisme kekuasaan, ketimpangan ekonomi dan kemajuan pembangunan, merupakan faktor-faktor pemicu munculnya disintegrasi bangsa dalam sentimen yang mengarah pada tuntutan otonomi yang semakin mekanistik, meletupnya kekerasan seperti kerusuhan antaretnik (juga, dikotomi pribumi dan non pribumi, lokal dan pendatang) dan separatisme.

Separatisme politis menjadi suatu gerakan untuk mendapatkan kedaulatan dan memisahkan suatu wilayah atau kelompok manusia (biasanya kelompok dengan kesadaran nasional yang tajam) dari satu sama lain (atau suatu negara lain). Istilah ini biasanya tidak diterima para kelompok separatis sendiri karena mereka menganggapnya kasar, dan memilih istilah yang lebih netral seperti determinasi diri . Motivasi gerakan separatis biasanya berbasis nasionalisme atau kekuatan religius. Selain itu, separatisme juga bisa terjadi karena perasaan kurangnya kekuatan politis dan ekonomi suatu kelompok (Wikipedia berbahasa Indonesia,2009). Separatisme bisa berkembang menjadi sebuah gerakan untuk memisahkan diri (scission) yang termanifestasikan  dalam bentuk pemberontakan dan perang dari kelompok minoritas yang memisahkan diri, dan membentuk negara sendiri yang berdaulat atau terpisah dari dominasi kelompak mayoritas suatu bangsa (Liliweri, 2009:148).

Krisis identitas yang bersumber dari ketidakadilan dapat memicu konflik dan semangat separatisme untuk melepaskan diri dari NKRI. Krisis identitas atau krisis wawasan kebangsaan menjadi subur ketika  zaman orde baru dan era globalisasi menerjang kehidupan orang atau golongan yang tersingkir karena tidak bisa merasakan makna pembangunan dan keadilan. Orang mudah dipicu sentimen dan melakukan amuk massa karena perbedaan etnik, daerah dan agama.

Gani (2003) menyatakan bahwa sejak diberlakukannya UU no.22 tahun 1999 munculnya kecenderungan berbagai daerah untuk melepaskan diri dari NKRI. Atau, adanya keinginan daerah untuk menetapkan otonomi daerah secara mekanistik. Otonomi dianggap sebagai keharusan untuk memanfaatkan asset yang dimiliki untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa mengingat saling ketergantungan dengan daerah lain.

Lepasnya beberapa teritori NKRI, akibat klaim dan penguasaan oleh kapitalis dan negara tetangga, bahkan kemauan kelompok masyarakat untuk melepaskan diri dari NKRI seperti yang terjadi di Timor-Timur (kini, Negara Timor Leste) merupakan apresiasi dan ekpresi dipicu atas rasa ketidakadilan, serta fakta lemahnya menejerial dari aparatus negara.

Bhinneka Tunggal Ika pada lambang negara Pancasila  secara ideal normatif telah mengakui kehidupan keindonesiaan yang sangat plural. Namun, menurut Prof.Bagus (2003:25) pelaksanaan sesanti ini cenderung berfokus pada “ke-tunggal-an” atau uniformitas tanpa memperhatikan  “ke-bhinneka-an” yang merupakan situasi empirik Indonesia.

Proses homogenisasi atau penyeragaman pada masa orde Baru telah meminggirkan peran budaya-budaya daerah dan dipaksakan menjadi  budaya yang satu yakni budaya nasional. Budaya-budaya  daerah tidak berkembang secara wajar. Multilingualisme  yang seharusnya menjadi kekayaan kekayaan Indonesia  dan tunduk pada bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia yang cenderung mengarah pada monolingualisme.

Anton J.Supit (2003:70) menyatakan  adanya kesenjangan tingkat ekonomi antara Jawa dan luar Jawa atau antara Indonesia bagian barat dan timur sedikitnya merupakan dasar sentimen kedaerahan yang diwujudkan dalam varian permintaan atas otonomi daerah yang lebih besar.

Adanya konflik antara warga pribumi dan tionghoa atau antara  penduduk lokal dan dengan pendatang juga ditengarai akibat adanya ketimpangan ekonomi. Misalnya warga lokal di Dili, Manokwari dan  Maluku bertikai dengan pendatang dari Sulawesi. Kerusuhan antaretnik juga terjadi antaretnik Dayak vs. etnik Madura. Berbagai pola kerusuhan antaretnik memiliki kesamaaan, yaitu perasaan terpinggirkan warga lokal dan pendatang.

Tantangan Eksternal

Globalisasi merupakan sebuah tantangan eksternal yang harus diperhitungkan dalam proses integrasi bangsa. Budiono (2000) menyatakan,  globalisasi tidak saja memangkas jarak antarmanusia, namun sebagai proses globalisasi juga membawa proses industrialisasi dan informatisasi yang menerobos struktur masyarakat agraris [dan, masyarakat sederhana].

Kekuatan industri inilah yang cenderung untuk melepaskan ikatan-ikatan dalam masyarakat-masyarakat itu.  Globalisasi dapat memicu  dan mempertinggi tingkat tertentangan antarmanusia, antarmasyarakat dan antarbudaya. Tingkat kebutuhan manusia akan keamanan menjadi lebih tinggi sebagai salah satu efek dari plausibel dan pengerutan (involution) masyarakat-masyarakat dan kebudayaan-kebudayaan.

Bentangan kepulauan yang begitu luas dengan menejerial pengelolaan negara yang lemah tentu saja merupakan tantangan yang perlu disikapi dengan tegas dan hati-hati. Keamanan wilayah perbatasan sangat rentan memicu konflik antarnegara.

Wilayah, warga negara, kekayaan alam dan kulturalnya harus mendapatkan  jaminan keamanan dan perlindungan oleh negara. Semua itu dapat dilakukan tanpa harus memberlakukannya sebagai “cagar budaya” yang mematikan kemajuan refleksivitas tradisi  kelompok. Inventarisasi asset bangsa dan negara harus segera dilakukan agar tidak kalah cepat dengan negara tetangga lainnya yang ternyata lebih mampu melihat peluang bagi kemajuan perekonomian bangsanya.


Jalan Keluar

Multikulturalisme menjadi penting bukan semata-mata sebagai ikon untuk kepentingan iklan pariwisata. Mempromosikan multikulturalisme bukan sekedar menampilkan pluralitas warna-warni identitas.  Lebih radikal, dibutuhkan kesadaran tentang pentingnya kelompok-kelompok etnik dan budaya yang memiliki kemampuan berinteraksi dalam ruang publik.

Brian Fay (1998:346) menyatakan, pendekatan interaksionisme sebagai sebuah etika, merangkul berbagai macam perbedaan dengan cara mengeksplorasi berbagai macam peluang pembelajaran produktif dan positif satu sama lain. Interaksionisme melakukan identifikasi untuk mengungkap secara tepat jaringan gagasan dan praktik sebelumnya berinternalisasi, beradaptasi, mengeksplorasi dan mempertimbangkan kembali, apa yang sebelumnya dianggap asing atau kuat.

Prasangka, stigmatisasi, stereotipikasi, deformasi tata nilai kultural merupakan faktor-faktor yang determinan menentukan keberhasilan menempatkan perbedaan secara dalam kehidupan yang multikultural.  Jalan keluar yang tepat tetaplah harus dipikirkan bersama sebagai bagian dari optimisme memandang masa depan bangsa dalam menghadapi krisis multidimensional. Pancasila, demokrasi, politik emansipatoris, dialog yang intesif, pendidikan multikultural merupakan tawaran ideologis bagi keberlangsungan kehidupan bangsa dan negara yang lebih baik.

Pancasila yang menjadi dasar nasionalisme yang terbingkai dalam Bhinneka Tunggal Ika seharusnya menjadi sumber etik multikultural yang ideal untuk hidup bersama sebagai bangsa besar. Pancasila sebagai core philosophy seharusnya bisa dijadikan pijakan moral untuk mendasari dan mengarahkan segenap upaya untuk mewujudkan keadilan melalui penegakan supremasi hukum, merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan melalui penghormatan, perlindungan, penegakan, dan pemajuan hak-hak asasi manusia (HAM). Revitalisasi Pancasila harus dilakukan guna menjamin kesinambungan dan kosistensi perjuangan kebangsaan dari waktu ke waktu.

Demokrasi merupakan pilihan ideal bagi pengelolaan negara. Dalam negara demokrasi dimungkinkan untuk mengelola keberanekaragaman dengan jaminan kesetaraan dalam keberagaman. Kelompok-kelompok masyarakat harus dibiasakan untuk mengartikulasikan  tradisi mereka dalam diskursus publik yang rasional, apakah tradisi perlu diteruskan  atau ditafsirkan kembali sesuai dengan konteks jaman.

Selain itu, adanya kemauan politik yang tulus dari semua pihak merupakan faktor penting. Keputusan-keputusan politik dibutuhkan karena praksis dari etik multikultural di Indonesia dan dimanapun sangat  terkait dengan sistem politik yang berlangsung. Pada tahap yang lebih ekstrim, diperlukan kontrak sosial yang baru untuk membangun hubungan antarsuku, agama, dan ras, yang lebih harmonis dan adil; hubungan pekerja, pengusaha dan pemerintah yang lebih produktif, serta hubungan Negara dan rakyat yang lebih akrab berdasarkan nilai saling percaya dan menghormati.

Politik emansipatoris diperlukan sebagai pembebasan dari hambatan-hambatan  yang membatasi berbagai kemungkinan hidup (life-chances). Politik emansipatoris mengarahkan perhatiannya pada hubungan-hubungan kelas eksploitatif dan pembebasan kehidupan sosial dari hambatan-hambatan tradisi. Hal ini meliputi etika keadilan, kesetaraan, dan partisipasi (Baker, 2005:169)

Pendidikan multikulturalisme diperlukan untuk mewujudkan multikulturalisme itu sendiri. Bagus (2003:33) menyatakan pendidikan multikulturalisme  meliputi tiga subnilai: (a) penegasan identitas kultural seseorang; (b) penghormatan dan keinginan untuk memahami dan belajar tentang (dan dari) kebudayaan-kebudayaan selain dengan kebudayaannya. Selain itu, pendidikan lintas budaya merupakan sebuah kebutuhan yang penting dalam implementasi etika multikulturalisme. Sebab, etika merupakan kerangka tindakan yang dibutuhkan setiap orang untuk melaksanakan kode etik dan moral.

Terkait dengan penyelesaian konflik, pada tataran rasional tergantung sepenuhnya pada dua persyaratan. Budiono Kusumohamidjojo (2000:113) menjabarkan persyaratan yang dimaksud. Pertama,  konflik dapat diselesaikan secara rasional jika konflik terselenggara dalam koridor proses dialog yang terlaksana secara berkesinambungan diantara pihak-pihak yang sederajat. Syarat kedua, yakni adanya kesamaan kedudukan warga negara dihadapan hukum.  Prinsip kesamaan dihadapan hukum merupakan prinsip yang konstitutif bagi terciptanya keadilan  dalam semua sistem hukum. Rasa hormat terhadap etika sosial bisa menjadi parameter untuk mengamati tingkat ketaatan masyarakat luas terhadap tatanan normatif. Penegakan hukum merupakan sebuah keharusan karena melalui hukum masyarakat mencapai ketertiban umum dan keadilan.

Metode resolusi konflik harus diupayakan dapat membantu memahami sifat dan fungsi konflik, membedakan bentuk konflik produktif dengan destruktif, dan mengidentifikasi strategi resolusi konflik. Resolusi konflik difokuskan pada sumber konflik antara dua pihak agar mereka bersama-sama mengidentifikasi isu-isu yang lebih nyata, melibatkan kekuasaan dan hati nurani, dan tanpa kekerasan (Liliweri, 2009:290).

Media massa, terutama pers memiliki peran sentral wacana publik dan kolektif  mengenai “Kelompok Lain”, termasuk representasi etnik. Reproduksi Rasisme Baru sangat terkait dengan penggambaran minoritas dihadapan publik yang tanpa disadari telah secara konsisten direpresentasikan sebagai kelompok yang berbeda, menyimpang dan berbahaya oleh media. Media massa memiliki peran strategis dalam upaya pembangunan kesetaraan harkat dan martabat manusia  dengan memberikan ruang dan proporsi wicara bagi “Kelompok Lain” tanpa diskriminasi.

Daftar Pustaka

Adi, Stanley Prasetyo.1999.Rasisme dan Rasialisme.Jakarta: Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP).

Bagus, I. G. 2003. Hidup Bersama dan Etik Multikultural: Peluang dan Tantangannya dalam Hidup Berbangsa. Surabaya: Forum Rektor Simpul Jawa Timur.

Barker, C. 2000. Cultural Studies—Teori dan Praktik. Yogyakarta: Bentang.

Fay, B. 2002. Filsafat Ilmu Kontemporer. Yogyakarta: Jendela.

Forum Rektor Simpul Jawa Timur, U. S. 2003. Hidup Berbangsa Dan Etika Multikultural. Surabaya: Forum Rektor Simpul Jawa Timur, Universitas Surabaya.

Gani, R. A. 2003. Hidup Berbangsa dan Etik Multikultural: Peluang dan Tantangan Ditinjau dari Aspek Ekonomi. Surabaya: Forum Rektor Simpul Jawa Timur.

Kusumohamidjojo, B. 2000. Kebhinekaan Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT.Gramedia Widiasarana Indonesia.

Kymlicka, W.2003. Kewargaan Multikultur. Jakarta: LP3ES.

Liliweri, A. 1992. Dasar-Dasar Komunikasi Periklanan. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

————-.2009. Prasangka & Konflik. Yogyakarta:LKiS.

Salam, B. 1997. Etika Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.

Sparringa, D. T. 2003. Multikulturalisme Dan Multi Perspektif di Indonesia. Surabaya: Forum

Rektor Simpul Jawa Timur.

Supit, A. J. 2003. Hidup Berbangsa dalam Etik Multikultural: Peluang dan Tantangannya Ditinjau dari Aspek Ekonomi . Surabaya: Forum Rektor Simpul Jawa Timur.

Van Dijk.TEun A. Rasisme Baru  dalam Pemberitaan—Pendekatan Analisis Wacana.Jakarta:Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP)


Website:

Antara News. Rabu, 5 Desember 2007 22:26 WIB. Malaysia Bantah Klaim Budaya Indonesia sebagai Budaya Aslinya.

Budi Susetyo, D. (n.d.). Krisis Identitas Etnis Cina di Indonesia. Diunduh 9 September 2009, dari http://www.unika.ac.id/fakultas/psikologi/artikel/bs-1.pdf .

Indonesia, W. B. (n.d.). Separatisme. Diunduh September 2009, dari Wikipedia Berbahasa Indonesia.

Insidesingapore.blogspot.com. 27 Januari  2008. DONT VISIT INDONESIAL 2008  Indonesial Terrorist Nation.

Kompas, Sabtu 12 September 2009: 06:48 WIB.Tari Pendet Dianggap Hanya Iseng Politik.

Roy, Aniz Ashar.2009. Journey to The Promise—33 Warisan Budaya Indonesia yang Diklaim Asing. Web: Dunia Aniz Azhar.


Lampiran

Sumber   : Internet “Dunia Aniz Azhar

Tittle       : Journey To The Promise

Date         : Selasa, 2009 September 01

(Diposkan oleh Aniz Azhar Roy di 17:34 . Selasa, 2009 September 01)

33 Warisan Budaya Indonesia Yang Di Klaim Asing

Label: Indonesia

Berikut ini adalah daftar artefak budaya Indonesia yang diduga dicuri, dipatenkan atau diklaim oleh korporasi asing, oknum warga negara asing, ataupun negara lain: Sumber http://budaya-indonesia.org

1. Batik dari Jawa oleh Adidas

Nama Artefak : Batik Jawa
Asal Daerah : Jawa
Kategori : Motif
Tahun Klaim: 2006
Exploitor : Adidas
Modus : Produksi Topi, Jaket dan Sepatu bermotif batik
Keterangan : Merupakan program materials of the world
Sumber : adidas.com
2. Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
Nama Artefak : Naskah Kuno Dari Riau
Asal Daerah : Riau
Kategori : Naskah Kuno
Tahun Klaim: 2007
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Klaim dan eksploitasi komersial
Keterangan : Dibawa ke Malaysia, dibuat versi online (pengunjung harus membayar untuk melihatnya)
Sumber : Kompas, 12 Desember 2007
3. Naskah Kuno dari Sumetera Barat oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Naskah Kuno Dari Sumatera Barat
Asal Daerah : Sumatera Barat
Kategori : Naskah Kuno
Tahun Klaim: 2007
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Klaim dan eksploitasi komersial
Keterangan : Dibawa ke Malaysia, dibuat versi online (pengunjung harus membayar untuk melihatnya)
Sumber : Kompas, 12 Desember 2007
4. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Naskah Kuno Dari Sulawesi Selatan
Asal Daerah : Sulawesi Selatan
Kategori : Naskah Kuno
Tahun Klaim: 2007
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Klaim dan eksploitasi komersial
Keterangan : Dibawa ke Malaysia, dibuat versi online (pengunjung harus membayar untuk melihatnya)
Sumber : Kompas, 12 Desember 2007
5. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Rendang
Asal Daerah : Sumatera Barat
Kategori : Makanan dan Minuman
Tahun Klaim: 2007
Exploitor : Oknum WN Malaysia
Modus : Paten
Keterangan : Dipatenkan
Sumber : Liputan 6 SCTV, 28 Oktober 2007

6. Rendang dari Sumetera Barat oleh Oknum WN Malaysia

Nama Artefak : Sambak Bajak
Asal Daerah : Jawa Tengah
Kategori : Makanan dan Minuman
Tahun Klaim: 2001
Exploitor : Oknum WN Belanda
Modus : Paten
Keterangan : Dipatenkan dan diproduksi masal di Australia
Sumber : Kompas, 1 Maret 2001
7. Sambal Bajak dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Belanda

Nama Artefak : Sambak Bajak
Asal Daerah : Jawa Tengah
Kategori : Makanan dan Minuman
Tahun Klaim: 2001
Exploitor : Oknum WN Belanda
Modus : Paten
Keterangan : Dipatenkan dan diproduksi masal di Australia
Sumber : Kompas, 1 Maret 2001
8. Sambal Petai dari Riau oleh Oknum WN Belanda

Nama Artefak : Sambak Petai
Asal Daerah : Riau
Kategori : Makanan dan Minuman
Tahun Klaim: 2001
Exploitor : Oknum WN Belanda
Modus : Paten
Keterangan : Dipatenkan dan diproduksi masal di Australia
Sumber : Kompas, 1 Maret 2001
9. Sambal Nanas dari Riau oleh Oknum WN Belanda

Nama Artefak : Sambak Nanas
Asal Daerah : Riau
Kategori : Makanan dan Minuman
Tahun Klaim: 2001
Exploitor : Oknum WN Belanda
Modus : Paten
Keterangan : Dipatenkan dan diproduksi masal di Australia
Sumber : Kompas, 1 Maret 2001

10. Tempe dari Jawa oleh Beberapa Perusahaan Asing

Nama Artefak : Tempe
Asal Daerah : Jawa
Kategori : Makanan dan Minuman
Tahun Klaim: Bervariasi
Exploitor : Oknum WN Jepang
Modus : Beberapa Perusahaan Asing
Keterangan : Tercatat ada 19 paten tentang tempe, di mana 13 buah paten adalah milik AS, yaitu: 8 paten dimiliki oleh Z-L Limited Partnership; 2 paten oleh Gyorgy mengenai minyak tempe; 2 paten oleh Pfaff mengenai alat inkubator dan cara membuat bahan makanan; dan 1 paten oleh Yueh mengenai pembuatan makanan ringan dengan campuran tempe. Sedangkan 6 buah milik Jepang adalah 4 paten mengenai pembuatan tempe; 1 paten mengenai antioksidan; dan 1 paten mengenai kosmetik menggunakan bahan tempe yang diisolasi. Paten lain untuk Jepang, disebut Tempeh, temuan Nishi dan Inoue (Riken Vitamin Co. Ltd) diberikan pada 10 Juli 1986. Tempe tersebut terbuat dari limbah susu kedelai dicampur tepung kedele, tepung terigu, tepung beras, tepung jagung, dekstrin, Na-kaseinat dan putih telur.
Sumber : http://www.icrp-online.org/wmprint.php?ArtID=170
11. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Lagu Rasa Sayang Sayange
Asal Daerah : Maluku
Kategori : Musik dan Lagu
Tahun Klaim: 2007
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Paten
Keterangan : Dipatenkan dan digunakan
Sumber : Liputan 6 SCTV, 28 Oktober 2007
12. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Reog Ponorogo
Asal Daerah : Jawa Timur
Kategori : Tarian
Tahun Klaim: 2008
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Klaim
Keterangan : Klaim dan eksploitasi komersial
Sumber : www.heritage.gov.my

13. Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : lagu Soleram
Asal Daerah : Riau
Kategori : Lagu
Tahun Klaim: 2007
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Klaim
Keterangan : Klaim dan eksploitasi komersial
Sumber : www.heritage.gov.my
14. Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Lagu Injit-injit Semut
Asal Daerah : Jambi
Kategori : Lagu
Tahun Klaim: 2000
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Klaim
Keterangan : Klaim dan eksploitasi komersial
Sumber : www.heritage.gov.my
15. Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Gamelan
Asal Daerah : Pulau Jawa
Kategori : Alat Musik
Tahun Klaim: 2000
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Klaim
Keterangan : Klaim dan eksploitasi komersial
Sumber : www.heritage.gov.my
16. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Tari Kuda Lumping
Asal Daerah : Jawa Timur
Kategori : Tarian
Tahun Klaim: tidak diketahui
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Klaim
Keterangan : Klaim dan eksploitasi komersial
Sumber : www.heritage.gov.my
17. Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Tari Piring
Asal Daerah : Sumatera Barat
Kategori : Tarian
Tahun Klaim: tidak diketahui
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Klaim
Keterangan : Klaim dan eksploitasi komersial
Sumber : www.heritage.gov.my
18. Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Lagu Kakak Tua
Asal Daerah : Maluku
Kategori : Lagu
Tahun Klaim: tidak diketahui
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Klaim
Keterangan : Klaim dan eksploitasi komersial
Sumber : www.heritage.gov.my
19. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Lagu Anak Kambing Saya
Asal Daerah : Nusa Tenggara
Kategori : Lagu
Tahun Klaim: tidak diketahui
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Klaim
Keterangan : Klaim dan eksploitasi komersial
Sumber : Diputar saat pertunjukan Musical Fountain di Singapura dan diklaim sebagai lagu Malaysia

20. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Kursi Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara
Asal Daerah : Jawa Tengah
Kategori : Ornamen
Tahun Klaim: 2005
Exploitor : Oknum WN Perancis
Modus : Paten
Keterangan : Dipatenkan dan diproduksi
Sumber : Tempo, 2 April 2008 (http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/jawamadura/2008/04/02/brk,20080402-120239,id.html

21. Kursi Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Perancis

Nama Artefak : Pigura Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara
Asal Daerah : Jawa Tengah
Kategori : Ornamen
Tahun Klaim: 2004
Exploitor : Oknum WN Inggris
Modus : Paten
Keterangan : Dipatenkan dan diproduksi
Sumber : Berita Kriya, 10 April 2008 (http://id.indonesian-craft.com/news/54/tahun/2008/bulan/04/tanggal/10/id/200/
22. Pigura Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Inggris

Nama Artefak : Batik Parang
Asal Daerah : Yogyakarya
Kategori : Motif Kain
Tahun Klaim: 2006
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Paten
Keterangan : Diklaim dan Dipatenkan
Sumber : http://batikindonesia.info/2006/03/31/batik-parang-dipatenkan-malaysia/
23. Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti
Asal Daerah : Bali
Kategori : Ornamen
Tahun Klaim: 2005
Exploitor : Oknum WN Amerika
Modus : Paten
Keterangan : Kisah sedih yang dialami pengerajin perak Desak Suwarti dari Desa Celuk, Gianyar, yang harus berurusan dengan WTO. Ia dituduh melanggar Hak Kekayaan Intelektual (Haki) atau Trade Related Intellectual Property Rights (TRIPs), karena menjual kepada orang lain desain produk yang pernah dibuatnya untuk konsumen berkebangsaan Amerika, yang selanjutnya mematenkan desain tersebut sebagai Haki miliknya.
Sumber : Bali Post, 26 Juni 2005 (http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/6/26/opini.html

24. Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti dari Bali oleh Oknum WN Amerika

Nama Artefak : Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat
Asal Daerah : Berbagai daerah di Indonesia
Kategori : Tata cara pengobatan dan pemeliharaan kesehatan
Tahun Klaim: 2002
Exploitor : Shiseido Co Ltd
Modus : Paten
Keterangan : Telah berhasil digagalkan
Sumber : Tempo, 28 January 2002 (http://www.korantempo.com/news/2002/1/28/Nasional/55.html

25. Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia oleh Shiseido Co Ltd

Nama Artefak : Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat
Asal Daerah : Berbagai daerah di Indonesia
Kategori : Tata cara pengobatan dan pemeliharaan kesehatan
Tahun Klaim: 2002
Exploitor : Shiseido Co Ltd
Modus : Paten
Keterangan : Telah berhasil digagalkan
Sumber : Tempo, 28 January 2002 (http://www.korantempo.com/news/2002/1/28/Nasional/55.html

26. Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Badik Tumbuk Lada
Asal Daerah : Kepulauan Riau, Deli dan Siak
Kategori : Senjata dan Alat Perang
Tahun Klaim: 2005
Exploitor : Perpustakaan Negara Malaysia
Modus : Klaim
Keterangan : Di situs resmi Perpustakaan Negara Malaysia, ia disebut warisan budaya Malaysia
Sumber : http://malaysiana.pnm.my/05/0501badik.htm

27. Kopi Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda

Nama Artefak : Kopi Gayo
Asal Daerah : Aceh
Kategori : Makanan dan Minuman
Tahun Klaim: 2008
Exploitor : Holland Coffee
Modus : Merek Dagang
Keterangan : Didaftarkan sebagai merek dagang oleh Holland Coffee, sebuah perusahaan multinasional (MNC) Belanda. Akibatnya petani tidak bisa lagi memakai merek Kopi Gayo. Saat ini pemerintah tengah berusaha untuk ntuk pendaftraan merek kopi gayo
Sumber : http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/28/15421243/paten.kopi.gayo.milik.belanda.toraja.milik.jepang dan http://www.dgip.go.id/ebscript/publicportal.cgi?.ucid=2663&ctid=23&id=1905&type=2
28. Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang

Nama Artefak : Kopi Toraja
Asal Daerah : Sulawesi Selatan
Kategori : Makanan dan Minuman
Tahun Klaim: 2005
Exploitor : Key Coffee (Jepang)
Modus : Merek Dagang
Keterangan : Kopi jenis arabika ini disebut-sebut sebagai “queen of coffee” di dunia, bersama dengan kopi dari Kolombia, lantaran aroma dan cita rasanya yang sedap. Mestinya kopi yang ditanam di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, itu bisa menjadi produk khas Indonesia. Namun apa lacur, ternyata merek Kopi Toraja sudah didaftarkan oleh Key Coffee di Jepang. Alhasil, eksportir Indonesia tak bisa langsung menjual Kopi Toraja ke Jepang dan AS–kecuali lewat Key Coffee. Jika mengekspor langsung, pihak Indonesia bisa dituding melanggar merek yang telah didaftarkan di sana.
Sumber : Warta Ekonomi, tanggal 16 April 2004
29. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia

Nama Artefak : Musik Indang Sungai Garinggiang
Asal Daerah : Sumatera Barat
Kategori : Musik dan Lagu
Tahun Klaim: 2007
Exploitor : Tim kesenian Malaysia “Cinta Sayang” pada 14 Oktober 2007 di Asia Festival 2007, Osaka, Jepang (Jepang)
Modus : Dipergunakan di forum internasional
Keterangan : Menurut informasi yang diperoleh, penggunaan lagu Indonesia itu diketahui saat berlangsungnya acara Asia Festival 2007 yang diikuti oleh Negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia dan Malaysia pada 12-14 Oktober lalu. Salah seorang staf konsulat Jenderal Osaka ketika itu tengah menyaksikan penampilan tim kesenian Malaysia “Cinta Sayang” pada 14 Oktober lalu. Salah satu tarian yang ditampilkan Malaysia menggunakan iringan musik yang berasal dari Sumatera Barat (Sumbar), yaitu “Indang Sungai Garinggiang”. Sebelum dan sesudahnya pihak Malaysian Tourism Office di Osaka yang mengelola penampilan tim kesenian tersebut sama sekali tidak memberi penjelasan bahwa lagu yang dipakai sebagai musik pengiring tarian itu adalah lagu yang berasal dari Indonesia.
Sumber : Antara, tanggal 25 Oktober 2007 (http://antara.co.id/arc/2007/10/25/malaysia-kembali-bajak-lagu-daerah-indonesia-di-osaka/

30. Kain Ulos oleh Malaysia

Nama Artefak : Kain Ulos
Asal Daerah : Sumatera Utara
Kategori : Motif Kain
Tahun Klaim: 2008
Modus : Dipertunjukkan sebagai Kebudayaan Malaysia
Keterangan : Menurut informasi yang diperoleh, kain ulos tersebut digunakan pada acara yang mewakili kebudayan negara-negara yang ada di Malaysia. Kain dipakai dalam suatu tarian, yang kalau tidak salah jenisnya ‘ragi hotang’, dengan tarian yang mirip tortor, hanya tangan mereka tidak ‘manyomba’ di depan dada, tapi diletakkan di samping paha kiri dan kanan dan kakinya ‘manyerser’ -serser.
Sumber :Lidyanata Blog http://lidyanata.blogspot.com/2008/05/sejak-kapan-orang-malaysia-pake-ulos.html
31. Alat Musik Angklung oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Alat Musik Angklung
Asal Daerah : Jawa Barat
Kategori : Alat Musik
Tahun Klaim: 2006
Exploitor : Pemerintahan Malaysia
Modus : Menumpang belajar di Indonesia lalu memperjuangkan HAKI di mata internasional
Keterangan : Membudidayakan bambu untuk angklung, belajar mengolah teknologi untuk pembuatan angklung dan memperjuangkan HAKI di mata internasional
Sumber : Republika, 14 Desember 2006, dengan judul artikel ANGKLUNG INDONESIA DI TANGAN MALAYSIA
32. Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Lagu Jali-Jali
Asal Daerah : Jakarta
Kategori : lagu
Tahun Klaim: 2007
Exploitor : Pemerintahan Malaysia
Modus : Klaim memiliki lagu tersebut
Keterangan : Disebutkan oleh Malaysia sebagai lagu asli dari Langkawi
Sumber : Wawancara dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Jero Wacik di Harian Suara Karya, 27 Oktober 2007 dengan judul artikel “Menbudpar Jero Wacik: Lagu “Jali Jali” Milik Indonesia ” (http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=185059

33. Tari Pendet oleh Pemerintah Malaysia

Nama Artefak : Tari Pendet
Asal Daerah : Bali
Kategori : Tarian
Tahun Klaim: 2009
Exploitor : Pemerintah Malaysia
Modus : Klaim
Keterangan : Menjadi iklan pariwisata Malaysia
Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/08/22/113525/1187644/10/seniman-bali-protes-klaim-tari-pendet-oleh-malaysia

Lampiran 2

DONT VISIT INDONESIAL 2008

Indonesial Terrorist Nation

Hits Since January 27, 2008!

Free Hit Counter by Pliner.Net
personals, shopping, lasik

View my complete profile

Saturday, January 26, 2008

NEGARA APAKAH KAMI SEBENARNYA

kami berterus terang, kami bukanlah rakyat Malaysia, kami adalah rakyat Singapura. Persoalan mengapa kami anti Indonesia adalah kerana:

1.Bangsa Indonesia sering datang ke Singapura secara Haram

2. Amah 2 Indonesia berkelakukan buruk

3. Negara Indon kami samakan dengan negara ‘TERRORIST’ kerana negara ini banyak pembunuhan yang berlaku secara kejam.

4. Kami juga selaku bangsa melayu, tidak tahan dengan penghinaan bangsa lain yang menyamakan kami berketrunuan Indon!

5. Kami tidak suka dengan kerajaan Indonesia yang tidak pandai berbhasa Ingeris.

6. Kami tidak suka Media Indonesia yang sering memburuk2kan negara Asean lain.

7. Kami lebih menyokong Malaysia daripada Indonesia kerana, Malaysia lebih maju dan lebih terbuka dari Indonesia.

Posted by dontvisitindon at 11:53 PM 1071 comments

bukti kebodohan INDONesial

aduii.. kesiannya aku kat warga-warga indon.. miskin ilmu.. kenapa diorang buat macamni? inilah yang dikatakan INDONesial terlampau bodoh darisegi ilmu pengetahuan. hahaha.. kebodohan mereka terserlah. apakena mengena Menara Berkembar Petronas dengan candi prambanan buruk INDONesial itu? megah sangatkah candi buruk tersebut yang bertapak di INDONesial? apa yang INDONesial banggakan dengan candi prambanan tersebut? mari kita lihat:

Candi Rara Jonggrang atau Lara Jonggrang yang terletak di Prambanan adalah

kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini terletak di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten. Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa Sanjaya. Tidak lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusak.

INDONesial sangat bangga akan banggunan buruk itu. ia merupakan harta simpanan UNESCO. kerana itu sahaha? ternyata banggunan buruk tersebut tidak dijaga oleh kerajaan mundur INDONesial yang mundur lagi mundur. jajahan banyak tetapi tidak terurus. Mereka tidak boleh melawan kemahsyuran Menara Berkembar Petronas MALAYSIA yang terkenal diseluruh pelusuk dunia. Candi prambanan? siapa tahu? insan-insan bodoh INDONesial saja yang banggakan bangunan buruk tesebut. Lihat Menara Berkembar Petronas pula..

Menara Berkembar Petronas dibina diatas tapak seluas 40 hektar di kawasan Segi tiga emas Kuala Lumpur. Ia direka oleh arkitek Cesar Pelli dan disiapkan pada Mac 1996. Menara kaca dan keluli tahan karat setinggi 88-tingkat, merupakan imbasan warisan Muslim Malaysia. Struktur asas merupakan rekabentuk yang dimajukan dari bangunan Chicago yang dibatalkan. Untuk membuat tapak Menara Berkembar Petronas, bumi digali sedalam 117 meter, iaitu setinggi bangunan lima tingkat. Sejumlah 7,000 meter padu simen konkrit telah dituangkan selama dua minggu secara berterusan. Beratnya keseluruhan bangunan 100,000 tan. Menara ini mempunyai ciri-ciri keselamatan yang unik dan pertama kali digunakan di Malaysia. Sewaktu berlaku gempa bumi atau puting beliung, menara ini akan condong. Kecondongannya mengikut tiupan angin kencang hingga 1.5 meter. Apabila bencana reda, menara akan tegak seperti biasa. Terdapat 12 biji lampu disekeliling menara ini yang berkelip-kelip 24 jam sehari. Setiap satunya berharga RM15,000. Jumlah kos pembinaan Menara Berkembar Petronas RM270 juta.

link INDONsial: http://www.id-top.blogspot.com/

Posted by dontvisitindon at 9:03 PM 760 comments

Dont visit INDONesial 2008

Dont visit INDONesial 2008.. INDONesial truly terrorist nation. jika anda merancang untuk bercuti ke INDONesial, bermakna anda bakal menempah maut disana. INDONesial, negara mundur,busuk dan tidak mempunyai taraf antarabangsa, antara negara no 1 di asia tenggara mempunyai pengganas yang paling banyak. Ia juga diketahui juga sebagai negara yang tidak mengamalkan demokrasi dan berlakunya banyak pembunuhan secara berleluasa.

INDONesial juga merupakan negara ke 3 di Asia Tenggara kuat rasuah dan penyelewengan kuasa. Akibat terlampau ramai rakyatnya yang tidak mendapat pendidikan dari pihak kerajaan, rakyat INDONesial menjadi seperti katak dibawah tempurung dan agak jakun serta perak melihat dunia luar.

Kebodohan mereka terserlah apabila mereka cemburu melihat negara jirannya yang jauh lebih maju dan hebat dari mereka, Iaitu MALAYSIA, yang sering mendapat nama dipentas antarabangsa. Kehebatan MALAYSIA terserlah apabila angkasawan pertama mereka, iaitu Dr. Shiekh Muzhapar berjaya berada di ISS dan melakukan penyelidikan serta berjaya pulang kebumi dengan jayanya.

INDONesial juga agak sial ekoran pihak media mereka banyak menyatakan negara jiran mereka, yang jauh lebih maju dari mereka, iaitu MALAYSIA berjaya menarik ramai pelancong kenegara mereka dalam promosi Visit Malaysia 2007. INDONesial meniru bulat-bulat iklan dan cara mempromosi negara mereka yang mundur dan busuk itu seperti cara MALAYSIA mempromosi negara mereka.

Posted by dontvisitindon at 8:13 PM 1088 comments

Subscribe to: Posts (Atom)

This entry was posted in MULTIKULTURALISME and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Wajah Multikulturalisme Indonesia

  1. Klaim Malesia hanya dampak sertaan dari sejarah kita sebagai bangsa nusantara yang dipecah-belah dan diadudomba oleh penjajah Eropa. Kasihanilah saudara kita itu, mereka sekarang sedang dalam fase yang sangat berat dalam upaya menemukan jatidirinya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s