MITOS

Mengeja  Mitos

Mitos dalam pandangan banyak ilmuwan sering diartikan sebagai cerita yang dapat memberikan pedoman bagi manusia untuk menjalankan kehidupannya.

Hans J.Daeng mengutip beberapa penulis tentang Mitos. Mitos dikatakan sebagai cerita di dalam kerangka sistem suatu religi yang di masa lalu dan dimasa kini  telah atau sedang berlaku sebagai kebenaran keagamaan (J.van Ball, 1987:81).

Mitos menyediakan pegangan hidup (Syukur Dister, 1982:32-33).  Dan, Van Peursen menyatakan mitos sebagai cerita pemberi pedoman dan arah  tertentu kepada sekelompok orang. Cerita itu berintikan lambang-lambang yang mencetuskan pengalaman manusia. Mitos memberikan arah kepada kelakuan manusia, dan merupakan semacam pedoman bagi manusia untuk bertindak bijaksana.

Fiske (2007) menyatakan mitos adalah cerita yang digunakan suatu kebudayaan untuk menjelaskan atau memahami beberapa aspek dari realitas atau alam. Mitos primitif berkenan dengan hidup dan mati, manusia dan dewa, baik dan buruk.  Fiske mengutip  Barthes, dimana mitos merupakan cara berpikir dari suatu kebudayaan tentang sesuatu, cara untuk mengkonseptualisasikan atau memahami sesuatu. Cara kerja pokok mitos adalah untuk menaturalisasi sejarah. Mitos merupakan produk kelas sosial yang mencapai dominasi.

Roland Barthes  dalam buku yang berjudul “Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa”  menjelaskan bahwa  mitos merupakan tipe  wicara (a type of speech). Segala macam wicara dapat diterapkan menjadi mitos asal hal itu disampaikan lewat wacana (discourse). Wicara dapat merupakan bentuk tulisan atau penggambaran, film, fotografi, laporan, publisitas, semua bisa mendukung bagi wicara mitos.

Mitos merupakan bentuk pertandaan (a mode of signification),  suatu bentuk (form) diterapkannya batas-batas historis, kondisi penggunaan, dan memperkenalkan   kembali  masyarakat kedalamnya.  Mitos sebagai suatu sistem semiologis mengandung tiga terma yakni sebagai penanda- petanda-tanda.

Mitologi

Merupakan ilmu tentang bentuk sastra yang mengandung konsepsi dan dongeng suci  mengenai kehidupan dewa dan mahluk halus dalam suatu kebudayaan (KBBI online, 2009).

Fungsi Mitos

Jangan duduk di atas bantal nanti bisulan; jangan bepergian pada saat pergantian waktu; jangan pacaran di  Tanah Lot nanti bisa putus cinta; jangan menebang pohon besar karena keramat; Jangan menggunakan pakaian berwarna hijau jika pergi ke Pantai Selatan; bagi pria Bali jangan memotong rambut, membunuh mahluk jika memiliki istri hamil”.

Kumpulan mitos di atas hadir sebagai rambu-rambu, sejumlah ‘larangan’ yang harus dipatuhi sebagai tata krama atau etiket dalam sebuah relasi sosial.  Daeng menyatakan beberapa fungsi Mitos, yakni:

a)    Menyadarkan manusia akan adanya kekuatan ajaib dan manusia dibantu untuk dapat menghayati daya-daya itu sebagai kekuatan yang mempengaruhi dan menguasai alam dalam kehidupan sukunya.

b)    Mitos memberikan jaminan masa kini dengan mementaskan kembali suatu  peristiwa yang pernah terjadi dahulu, maka usaha serupa dijamin terjadi sekarang.

c)     Mitos berfungsi sebagai pengantara antara manusia dan daya-daya kekuatan alam. Mitos memberi pengetahuan tentang dunia dan lewat mitos manusia primitif memperoleh keterangannya.

Klenik

Klenik merupakan suatu praktik  perdukunan (pengobatan dsb) dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercaya oleh banyak orang. Kandungan ‘mistik’ yang memuat unsur kerahasiaan  menarik perhatian orang,  namun di sisi lain menjadikan praktik-praktik klenik dianggap sebagai mitos belaka.

Ajimat atau segala jenis ‘susuk’ yang dimasukkan ke dalam tubuh seseorang dengan cara-cara mistik oleh para dukun, konon untuk meningkatkan aura diri, menambah rasa percaya diri dan menarik simpati lawan jenis, atasan, kawan atau lawan, juga masih dipraktikkan oleh masyarakat bahkan diperdagangkan dalam bentuk iklan di koran atau majalah. “Mbah Erot” telah dimitoskan dalam iklan koran (advertising) dan para lelaki sebagai ahli dalam menangani masalah seksualitas dengan kesaktian produk-produknya.

Penggunaan uang képéng (Pis bolong), berbagai batu permata, dan segala gambar rajah, kaligrafi  di Bali  oleh sejumlah orang dipercaya memiliki banyak fungsi magis. Misalnya: Pis Arjuna untuk pemikat hati para gadis, Pis Jaring untuk berbisnis, Pis Padma dan Pis Dewata Nawa Sanga dipercaya untuk harmonisasi kekuatan semesta, Pis Jaran dan Pis Bima untuk kerja keras, kekuatan, kekebalan dsbnya. Orang Bali juga mengenal ‘sesabukan’ yakni “sabuk’ atau ikat pinggang yang di dalamnya berisi berbagai huruf ‘gaib bin ajaib’ bisa digunakan untuk kesaktian, kebal senjata dan pemakainya bisa menghilang. Konon, kekebalan mereka akan lenyap jika makan daun kelor, atau makan sate yang masih tertusuk pada batang bambunya. Percaya atau tidak?  Itulah mitosnya.


TAKHAYUL

Konon, kepercayaan terhadap hal-hal gaib , sakti, percaya pada sesuatu yang ada, tetapi sesungguhnya dalam pikiran rasional bisa dianggap tidak ada, maka kepercayaan itu bisa dianggap takhayul. Misalnya: Pohon besar dikeramatkan karena dianggap ada ‘penghuninya’ seperti hantu, dewa atau kekuatan magis. Karena itu, pohon ‘semestinya’ tidak boleh ditebang sembarangan. Dan, kawasan hutan lindung, hutan larangan haruslah tetap perawan. Kepercayaan pada hantu penghuni pohon dan hutan dianggap takhayul.

Takhayul ini kemudian dibantai. Pembalakan liar  menjadi bukti,  “Mitos tentang hantu-hantu penghuni hutan tidak ada!” begitu seru para kapitalis.  Justru, penghuni alam nyatanya yakni manusia yang dianggap primitif atau tradisional, menangisi nasib mereka karena tertimpa bencana akibat binatang hutan  mengamuk karena tak punya rumah, tanah longsor dan banjir. Merekapun akhirnya memohon ampunan kepada alam semesta atau sejumlah dewata penjaga dan berkomunikasi melalui sejumlah upacara ‘slametan’, ‘guru piduka’, ‘ruwatan bumi’, ‘larung’. Tentu, harapannya, bencana tak ada lagi.

Namun di luar  ritual  takhayul ini, mesin-mesin “kapak besi dan gergaji” tetap mengunyah kayu yang  telah memberinya pegangan bagi dirinya.


ASTROLOGI

Konon,

Kaum wanita dianggap gemar membaca ‘nasib’ melalui  informasi astrologi, baik di koran, internet maupun kalender. Astrologi diam-diam dibaca, lalu dianggap sebagai informasi yang dapat memberikan pedoman dan prediksi berkaitan dengan masalah jodoh, keuangan dan relasi sosial dalam dunia kerja atau hubungan khusus. Sesungguhnya apakah itu astrologi?

Astrologi didefinisikan sebagai sebuah bahasa simbolik. Atau, sebuah bentuk seni, atau  bentuk ramalan, prediksi (a form of divination).  Astrologi mengasumsikan bahwa penempatan objek luar angkasa dapat membantu mengintepretasikan peristiwa masa lalu dan kini dan dalam memprediksikan masa depan.

Astrologi juga dinyatakan sebagai  kelompok dari sistem, tradisi dan kepercayaan  yang menjelaskan bahwa  posisi relatif  dari badan-badan luar angkasa dan berkaitan dengan detailnya dapat menyediakan informasi tentang kepribadian, hubungan manusia dan masalah objek luar angkasa. UFO, alien sampai sekarang ini masih diperdebatkan dan dianggap mitos.

Konon,

Tradisi yang berkaitan dengan perhitungan angka dan penerapan konsep astrologi telah berkembang dalam millennium ke tiga sebelum masehi. Astrologi memainkan peran dalam memberi bentuk budaya seperti pemahaman awal tentang astronomi  dalam  Veda dan berbagai disiplin yang tercatat dalam sejarah. Astronomi dipisahkan dari astrologi setelah  masa Renaissance hingga mencapai abad ke-18. Astronomi memisahkan dirinya sebagai cabang  keilmuan yang mempelajari tentang objek  dan fenomena alam semesta.

Sementara, para astrolog percaya bahwa gerakan dan posisi “badan-badan luar angkasa” secara tidak langsung mempengaruhi kehidupan di bumi atau berkaitan dengan peristiwa pada skala manusia. Salah satu tradisi kultural yang berkaitan dengan astrologi adalah pengetahuan tentang horoskop dan zodiac. Horoskop merupakan representasi dari entitas  peristiwa angkasa yang berhubungan dengan pergerakan matahari, bulan dan planet-planet.

This entry was posted in MITOS and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to MITOS

  1. yanz says:

    mantaf mantaf…
    menambah info budaya nie…
    lanjutkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s