PELACURAN DAN HIV/AIDS DI BALI

Mengapa lelaki pergi ke tempat pelacuran? Konon, pelacuran sama tuanya dengan peradaban bumi ini. Kebutuhan akan pelacur alias pekerja seks konon, sama pentingnya dengan kebutuhan pokok manusia sehingga keberadaan pelacuran sulit untuk diberantas. Pada saat ini, hubungan seksual tidak lagi dipandang sebagai hal yang sakral melainkan terdistorsi menjadi penyalahgunaan pemaknaan rasa kasih sayang.

Seorang kekasih mengintimidasi pasangannya untuk mau diajak berhubungan seksual, jika menolak maka itu tandanya tidak cinta. Modus seperti ini banyak merugikan kaum perempuan. Selain itu, konon dengan menyewa tubuh perempuan seorang lelaki merasa memiliki kekuasaan terhadap diri dan orang lain, sebagai manifestasi hasrat penindasan terselubung.Tidak sedikit perempuan menerima akibat, seperti kehamilan yang tidak diharapkan hingga putus sekolah, dieksploitasi menjadi pelacur, terkena penyakit bahkan mengantarkan mereka ke gerbang kematian.

Fenomena yang terjadi belakangan ini, bisnis pelacuran justru semakin menggila dengan meningkatnya birahi kafe-kafe ‘gelap’ untuk menyewakan tubuh perempuan kepada lelaki hidung belang hingga ke pelosok desa dan daerah pedalaman. Perdagangan orang (trafficking), komersialisasi dan eksploitasi tubuh sebagai barang dagangan pemuas libido seksual menawarkan variasi bersetubuhan dan pengalaman untuk sekedar coba-coba. Sementara, HIV/AIDS mengintai setiap saat dapat merenggut kehidupan orang yang terkasih dan berpotensi meng-genosida peradaban umat manusia. Berdasarkan informasi dari http://www.dfgen.com (2010), kasus penderita HIV AIDS di Bali tahun 2010 didominasi kalangan ibu rumah tangga.

Sejak ditemukan tahun 1987 di Bali, setiap tahunnya, kasus ini terus mengalami peningkatan. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali yang selama 21 tahun telah mendata jumlah kasus HIV AIDS di Bali mencapai 2.112 dengan jumlah kematian mencapai 185. Dari jumlah tersebut, pria tercatat paling banyak, mengidap HIV AIDS, dengan jumlah 1.547 orang. Sementara yang memprihatinkan, 200 kasus HIV AIDS, tahun ini, dialami kelompok ibu rumah tangga.

Ternyata, tingginya penularan HIV, AIDS pada kelompok ibu rumah tangga disebabkan, rendahnya kesadaran para lelaki pelanggan pekerja seks untuk menggunakan kondom. Kelompok yang paling tinggi beresiko terkena HIV AIDS, adalah kelompok heteroseksual yang mencapai 60 persen. Sementara dilihat dari golongan umur, paling banyak terjadi pada usia 20 hingga 29 tahun. Saya menemui para aktivis pakar pelacuran di Bali untuk mendapat informasi seputar dunia perdagangan sewa menyewa tubuh perempuan dan HIV/AIDS di Yayasan Kerti Praja (YKP) di jalan Sesetan Denpasar.

Organisasi ini telah menjangkau banyak pekerja seks dan penderita HIV/AIDS. Mereka yang berdiri di garda depan kebudayaan Bali ini bahu membahu menjadi guru jalanan untuk mendidik masyarakat betapa pentingnya arti kesehatan untuk mencegah penularan HIV/AIDS.

PEKERJA SOSIAL YANG TAK KENAL LELAH

petugas lapangan (out reach worker) YKP
RITA petugas lapangan (out reach worker) YKP

Rita, wanita perparas ayu ini tengah bersantai bersama dengan empat orang petugas lapangan Yayasan Kerti Praja (YKP) di kantor mereka Sesetan.Ibu dua anak ini berpenampilan modis dengan kemeja putih, jeans biru, sepatu casual tampaknya menjadi ‘seragam’ kantor yang cukup nyaman. Lima tahun menjadi petugas lapangan YKP, ibu dua anak ini tampak tangguh dan sudah kenyang menghadapi asam garam, berpengalaman menghadapi Pekerja Seks (PS) di kawasan dugem, kafe dan karaoke di Kabupaten Badung.

Petugas Lapangan (PL) asal Malang ini telah terlempar diratusan kafe dan puluhan karaoke untuk bisa menjangkau para perempuan yang bekerja di dunia hiburan malam. Rita menyatakan, ada banyak pekerja perempuan di dunia hiburan malam seperti kafe dan karaoke yang memiliki pekerjaan sambilan sebagai Pekerja Seks (PS).

PS semacam ini di YKP diistilahkan dengan PS indirect karena perempuan yang bekerja di dunia hiburan malam ini tidak secara terang-terangan mengakui dirinya sebagai PS meskipun pada kenyataan ada beberapa dari mereka yang memang mendapatkan keuntungan dari menyewakan dirinya seperti pelacur. Para pekerja karaoke dan kafe kebanyakan yang dijangkau berasal dari Jawa termasuk Bandung, Jember dan Banyuwangi dengan kelompok usia temuda 16 tahun. Kafe-kafe raksasa seperti yang ada diseputar bundaran jalan Simpang Siur menuju bandara biasanya mengeliminasi pegawai yang berumur 25 tahun untuk menjaga pekerjanya tetap fresh.

“PS indirect menyebut klien mereka sebagai pacar. Pada kenyataannya mereka bisa bergonta ganti pasangan. Sebagai PL saya harus berhati-hati menjangkau mereka agar tidak terjadi ketersinggungan dari mereka. Banyak yang tidak safe seks khususnya dengan ‘pacar-pacar’ nya. Mereka ada juga yang gengsi menawarkan kondom pada pasangannya karena dianggap akan menurunkan ‘image’ diri mereka dan kesan ‘bersih-bebas penyakit’ dapat terus mereka jaga. Dalam situasi inilah resiko tinggi penyebaran Infeksi Menular Seksual (IMS) dapat terjadi. Selain itu PS indirect semacam ini juga rentan dieksploitasi oleh pacar-pacar mereka. Uang hasil menyewakan diri secara jam-jaman (cash calling) justru lebih sering dipegang pacar-pacar mereka” demikian Rita berbagi pengalaman sebagai konselor dalam melakukan penjangkauan kelompok (outreach) terhadap 200 PS indirect-nya.

Tantangan bekerja sebagai petugas lapangan yaitu harus bisa membaca situasi dan kepekaan untuk bisa berhubungan dengan kelompok dampingan mereka. Saat ini, ada sekitar 50 kafe dan 5 karaoke yang bersedia membantu Rita untuk memberikan pendidikan kesehatan bagi karyawan mereka. Namun masih banyak yang menolak keberadaan PL seperti Rita karena kesadaran pemilik usaha masih rendah dalam menjaga kesehatan karyawannya. Tentu saja kemampuan komunikasi yang baik dan diplomasi yang luar biasa diperlukan untuk bisa melibatkan partisipasi masyarakat lebih luas untuk mencegah penularan IMS dan juga HIV/AIDS sebagai senjata utama yang harus dimiliki seorang PL.

Berbeda dengan Rita, Feri lajang Malang ini baru setahun bekerja di YKP khusus untuk menangani kelompok PS direct, yaitu menjangkau para Wanita Pekerja Seks (WPS) yang ada di ‘lokalisasi’ di Kabupaten Badung, seperti daerah Aseman, Gunung Lawu, Gentongan, Jimbaran dan Pengkolan Kuta.

FERI, PEtugas lapangan (out reach worker) YKP
FERi, PEtugas lapangan (out reach worker) YKP

Feri mengatakan, pendekatan dengan WPS tidak begitu menemui kendala karena hanya melanjutkan pekerjaan yang telah dilakukan Pak Dewa, Koordinator Programnya. Kelompok dampingan gadis manis ini yang bekerja sebagai WPS atau PS direct sekitar 300 orang dan berusia sekitar 16-54 tahun dan sebagian besar berasal dari Jawa. Sebagian besar PS direct telah memanfaatkan fasilitas kesehatan yang diberikan oleh YKP seperti rujukan pemeriksaan IMS, VCT (test darah HIV), CST (care support and treatment) dalam bentuk pemberian obat, penyuluhan individu dan dan diskusi kelompok dampingan secara intensif. Ternyata ekploitasi seksual dilakukan oleh para suami mereka juga dialami oleh PS direct.

“Para PS bahkan ada yang diantar-jemput suaminya saat istrinya bekerja sebagai pekerja seks. Uang hasil menyewakan diri pada akhirnya dipegang oleh suaminya. Saya selaku petugas lapangan tidak bisa mencampuri urusan keluarga mereka karena menyangkut ranah privasi. PL hanya memastikan para PS ini mendapat pendidikan dan pelayanan kesehatan dari YKP untuk mencegah meluasnya HIV/AIDS” Feri menuturkan ironi kehidupan para PS direct yang dijangkaunya.

HERI, petugas lapangan (outreach worker) YKP

HERI, petugas lapangan (outreach worker) YKP

Heri, bapak dua anak asal Jombang ini merupakan Petugas Lapangan senior yang telah bekerja di YKP sejak tahun 1997 membenarkan keadaan lapangan seperti itu. Menurut konselor lapangan ini, ada beberapa isu penting yang menjadi tantangan bagi para petugas lapangan. Para PS yang dijangkau merupakan kelompok migran dengan tingkat mobilisasi yang tinggi sehingga kasus HIV/AIDS cederung meningkat dengan tingkat prevalensi pada kelompok ini mencapai 20% dan ada 300 PS yang telah positif HIV.

“Lokalisasi sering menjadi arena politik, tidak diterima secara terang-terangan untuk menjaga citra daerah tetapi faktanya tumbuh di masyarakat. Kehadiran lokalisasi timbul-tiarap, tergantung situasi politik. Jika aparat sedang bersemangat melakukan razia, maka para PS di lokalisasi akan tiarap karena jadi orang buruan, menghilang entah kemana. Ini akan menyulitkan PL untuk memantau persebaran PS. Dengan demikian PL akan kewalahan memantau keberadaan mereka dan persebaran HIV/AIDS akan lebih riskan. Selain itu, biaya pengobatan penderita HIV cukup tinggi dan tidak dijaminkan dalam jaminan kesehatan nasional dan JKBM, sehingga penderita kesulitan untuk mendapat perawatan” demikian penuturan pria humoris ini.

Diskusi seputar program penanggulangan HIV/AIDS berkembang dengan kehadiran Eka Sampurna dan Ryan. Eka Berpenampilan country style, kemeja kotak dan berbandana hitam, penampilan koordinator Buddies dari YKP ini cukup funky. Buddies merupakan istilah bagi orang yang menjadi pendamping orang-orang yang memiliki keluarga, kerabat, teman dari orang yang terpapar HIV/AIDS (OHIDA, orang yang hidup dengan penderita AIDS).

EKA SAMPURNA, OUT Reach worker and BUDDIES YKP

EKA SAMPURNA, OUT Reach worker and BUDDIES YKP

Penderita HIV/AIDS sendiri diistilahkan dengan ODHA. Lajang Ubud-Peliatan ini menjelaskan saat ini divisinya menangani 160 ODHA dan 27 diantaranya anak-anak usia 3-6 tahun dengan wilayah jangkauan Denpasar, Badung, Gianyar dan Klungkung. Konselor Buddies ini dengan penuh kepedulian menginformasikan kegiatan yang dilakukan untuk Buddies dan ODHA diantaranya memberikan dukungan informasi, pendampingan, perawatan seperti pemberian nutrisi dan pengobatan dan dukungan untuk keluarganya.

RYAN, Out reach worker dan gay community YKP

RYAN, Out reach worker dan gay community YKP

Sedangkan Ryan, bujang asal Pasuruan ini memiliki target grup dampingan dari kelompok gay dan waria. Pria gagah berpenampilan rapih baru bekerja di YKP hampir setahun dan bekerja ganda sebagai penari striptease di sebuah bar khusus gay di daerah Kuta dan menjangkau kelompok gay di-Seminyak dan Kerobokan dan sekitarnya. Ryan juga menceritakan kebanyakan gay yang datang ke Bali berasal dari Jakarta.

Pria bertutur bahasa lembut ini menyampaikan “Butuh kepercayaan yang besar dari kawan-kawan gay untuk bisa menerima saya sebagai petugas lapangan. Saya tidak ingin menggurui mereka tentang kesehatan tetapi dengan pelan-pelan dan komunikasi yang baik saya mengajak mereka untuk memeriksakan diri secara rutin. Saat ini ada 9 gay yang sudah positif terinfeksi HIV”

CEGAH HIV/AIDS dengan ABCDE

Mencegah penularan HIV/AIDS dapat dilakukan jika masyarakat berpikir positif dan terbuka terhadap berbagai informasi kesehatan agar tidak menabukan berbagai hal. Keterbukaan komunikasi akan memungkinkan masyarakat menerima infomasi kesehatan dengan benar. Terlebih saat ini, HIV/AIDS saat ini sudah merambah ke kehidapan keluarga dan anak-anak. Perlu keseriusan pemerintah dan masyarakat untuk menanggulangi persebaran virus ini dengan metode sederhana dengan ABCDE (Abstinence, Be-faithful, Condom, Don’t inject, Education).

ABCDE merupakan anjuran agar setiap orang hidup selibat atau tidak berhubungan seksual, setia pada pasangan, hidup aman dengan tidak bergonta ganti pasangan dan gunakan kondom. Kondom saat ini merupakan salah satu sarana yang terjangkau harganya, mudah diperoleh dan merupakan salah satu sarana yang aman untuk mencegah berbagai resiko akibat hubungan seksual. Pemaknaan kampanye kondom agar tidak dipersempit seolah-olah memprovokasi masyarakat untuk berhubungan seksual secara bebas.

Padahal kampanye kondom dilakukan untuk mencegah resiko yang lebih besar dan menyelamatkan banyak kehidupan yang ditimbulkan akibat hubungan seksual yang tidak aman seperti, kehamilan yang tidak dikehendaki, abortus, penularan infeksi menular seksual, HIV/AIDS dan kematian. Jarum suntik yang digunakan bersama juga riskan terhadap penularan hepatitis C dan HIV/ AIDS. Untuk mencegah penularan, penggunaan jarum steril sangat diwajibkan. Edukasi yang benar tentang kesehatan akan membantu masyarakat memahami HIV/ AIDs dan berbagai penyakit menular lainnya.

 

This entry was posted in HIV/AIDS, peradaban, siaga bencana and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s