GELAR KEBANGSAWANAN : APA(LAH) ARTI SEBUAH NAMA?

Seorang raja yang tinggal di Puri ada yang disebut dengan Dalem, Cokorde, Anak Agung dan Ide I Dewa. Sedangkan, seorang penguasa yang lebih rendah dari raja terdiri dari dari kelompok predewa, prengakan, pregusti, ada yang bergelar Dewa, I Gusti dan sebagainya.  Faktanya, penyebutan gelar nama inipun bersifat mana suka.

Ada kecenderungan gelar kebangsawanan  “I Gusti”  lambat laun akan punah karena keturunan mereka di masa kini banyak lebih suka dipanggil “Anak Agung” ketimbang I Gusti Agung, I Gusti Ngurah, Gusti Aji dan semacamnya. Bahkan, tidak jarang keturunan yang baru  telah berubah  sebutan di KTP menjadi Anak Agung, Anak Agung Ngurah dan Cokorde.

Kecenderungan hari ini, ada upaya orang-orang Bali untuk mengangkat harga diri sendiri dengan mengganti dan menggunakan gelar kebangsawanan yang dianggap tertinggi. Munculnya kecenderungan  ‘ganti nama-ganti gelar’ dan meninggi-ninggikan derajat  yang berkiblat pada catatan usang masa lalu, rupanya tampil makin  kenes dan genit. Apakah ini pertanda ada masalah kejiwaan serius dengan kehidupan pada hari? Ataukah  kebutuhan untuk mendapat pengakuan tentang eksistensi diri semakin sulit diperoleh dalam  tatanan masyarakat yang semakin egaliter?

Kini, muncul  aktor-aktor megalomania  tampil seperti raksasa yang membesar-besarkan diri melalui penggunaan gelar-gelar maha agung sebagai manifestasi eksistensi diri dan prestasi. Ada yang terang-terangan mengangkat dan mempublikasikan dirinya sendiri menjadi rejim raja Jawa terbaru di tanah Bali, lalu pecicilan berkostum camp. Secara cerdas para aktor beraroma duit ini membayar iklan untuk meneguhkan kebangsawanannya. Mungkin dalam imaginasinya itulah tampilan dan sikap ‘raja’ seperti drama yang dilakonkannya. Masyarakat  mendiamkan dan menontonnya seperti aktor yang sedang sakit jiwa  yang berperan sebagai raja buduh. Aktor tanpa wilayah, tanpa rakyat dan tanpa kedaulatan ini tanpa urat malu mendeklarasikan dirinya sebagai raja.

Ada juga aktor lain yang mengajukan permohonan penggantian nama dengan menambahkan gelar kebangsawanan di pengadilan. Proses perubahan nama ini akhirnya menimbulkan pertikaian. Desa  meradang dan menyeret aktor ini ke meja hijau. Tidak tertutup kemungkinan, ‘atas nama besar’ yang hendak disandangnya para aktor yang butuh pengakuan ini menghadapi pengucilan atau pengusiran (kasepékang).  Jadi ternyata, ini bukan sekedar persoalan nama!

Kecenderungan masyarakat merubah nama  terjadi karena merujuk pada kekolotan, feodalisme dan romantisme masa lalu dengan merunut manuskrip sejarah keluarga (lelintihan, babad, soroh). Seseorang yang memiliki nama tanpa gelar kebangsawan berusaha merubah nama diri dan keluarga dengan gelar bangsawan Bali. Misalnya, I Made menjadi  Anak Agung Made, I Gusi menjadi I Gusti, I Bagus menjadi I Gusti Bagus. Di Bali belakangan ini gelar Kyayi, Lanang, Arya, Si, Sang, Ngakan, Gusi tampaknya mulai lenyap.

Kasusnya akan berbeda ketika diantara  keluarga bangsawan yang meningkatkan derajatnya dengan gelar yang lebih tinggi. Tidak ada warga masyarakat yang mempermasalahkan. Itu menjadi urusan dan kesepakatan diantara keluarga bangsawan itu sendiri. Toh, mereka sama-sama Anak Agung (orang besar, bangsawan).

Perubahan derajat gelar kebangsawanan terjadi melalui proses pengangkatan secara resmi (biasanya pada saat pengangkatan raja) dalam tradisi keluarga, atau orang tua langsung mengaplikasikan gelar baru bagi bayi-bayi dalam keluarganya  di catatan sipil.

Fenomena pengangkatan gelar kebangsawanan konon menguat pada masa penobatan Raja Pemecutan bergelar Cokorde Pemecutan ke-XI yang sebelumnya bernama Anak Agung Ngurah Manik Parasara. Beberapa kerabat Puri Pemecutan yang tinggal di jero-jero tadinya bergelar I Gusti berubah nama menjadi Anak Agung.

Sebaliknya,realitas pada masa lalu, seorang bangsawan derajat dari gelar kebangsawanannya bisa diturunkan, atau bahkan terancam kehilangan gelar kebangsawanan karena banyak hal . Itu dapat terjadi karena beberapa faktor: kalah berperang, berkhianat pada raja, atau karena perkawinan.

Keluarga bangsawan yang menikah bukan dengan prami (wanita yang berkasta sederajat), maka anaknya tidak bisa menggunakan gelaran yang sama dengan ayahnya, misalnya menggunakan gelar Anglurah (ngurah) pada nama yang disandang. Bahkan, biasanya konsekuensinya mereka pun kelak tak bisa menjadi raja. Anak bangsawan yang lahir tanpa melalui proses pernikahan, atau terlahir sebelum ibunya dinikahkan maka anak yang lahir diberi sebutan Astra. Penyebutan ini lebih halus dibandingkan dengan sebutan Anak Bebinjat (anak haram).

Namun ada juga yang hanya menyisakan nama Ngurah pada nama depan mereka tanpa embel-embel Gusti atau Anak Agung. Konon, nenek moyang mereka dahulunya seorang yang berkuasa namun karena kalah perang dengan penguasa lain sehingga harus ‘nyineb wangsa’, menyerahkan kekuasaan dan tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan mereka.

Menguatnya kembalinya wacana feodalisme di Bali dengan mencantelkan gelar kebangsawanan tentu tidak bisa diabaikan begitu saja. Di tengah kehidupan yang semakin banyak berubah, kebutuhan pengakuan eksistensi diri menjadi begitu berharga. Ada segelintir orang yang tengah berpikir kehormatan diri dan keluarga mereka terletak pada gelar kebangsawanan.

Kemampuan secara finansial, kemampuan berkuasa dalam bidang usaha dan birokrasi terlebih lagi memiliki catatan sejarah masa lalu tentang kejayaan leluhur, menjadi dasar mereposisi kursi kekuasaan imajiner seperti semula. Lantas apa yang diharapkan dari berkiblat masa lalu? Tak lebih dari nostalgia dan romantisme imajiner masyarakat  tentang menjadi raja dan ratu bak cerita sinetron. Tujuan lain adalah untuk penguatan integritas keluarga dengan merangkul kembali kerabat-kerabat yang terikat secara geneologis dan historis, untuk mereposisikan kekuasaan masa silam dalam ranah politik modern-kontemporer dengan menggunakan politik keluarga atau per-klan-an, alias ‘politik soroh’.

Sakralisasi nama gelar dalam relasi sosial yang lebih luas juga perlu ditempatkan secara hati-hati agar tidak rancu dengan budaya dari daerah lain. Nama Anak Agung sebagai gelar sering disingkat dengan AA, kalau di Jawa Barat bisa diartikan sebagai kakak, seperti nama AA Gym (dai kondang). Begitu juga nama Gusti Randa atau Cok Simbara adalah contoh nama artis yang tidak berkait secara historis dan geneologis dengan kerabat keraton Bali.

This entry was posted in Keraton Bali, peradaban and tagged . Bookmark the permalink.

23 Responses to GELAR KEBANGSAWANAN : APA(LAH) ARTI SEBUAH NAMA?

  1. sugi schwarz says:

    cok simbara dan gusti rangda takada hub dgn gelar kebangsawanan bali enggak dipersoalkan. jadi ngapain dipermasalahkan jika or bali juga mngunakan nama cok atau gusti, khan itu lbhbagus mencirikan kebalian atau melestarikan budaya bali dibanding or bali asli nyantolin nama barat spt nama anggelina, miockel atau shindi . or yg ngemasalihin sukasuka orang padahal enggak ngerugiin dirinya adalah or-munafik enggak modern cara mikirnya.

  2. Badung says:

    Tulisan yg menyebutkan Pemecutan rasanya tidak tepat. Ida Cokorde Pemecutan saat belum dinobatkan menjadi raja, nama gelar beliau adalah sama dgn nama2x bangsawan di puri2x dan jero2x di Badung, yaitu I Gusti Ngurah. Ayah beliau bernama I Gst Ngr Gde Pemecutan (Ida Batara Cokorde Pemecutan X). Yg skrg saat lahir bernama bernama I Gst Ngr Manik Parasara atau A. A. Ngr. Manik Parasara (Ida Cokorde Pemecutan XI). Di Badung itu, nama gelar I Gusti sama dgn A. A. , terserah yg bersangkutan mau pakai yg mana. Toh, masyarakat adat “salute” mereka dgn panggilan “ida anake agung”. Kalau mau ngubah di akte lahir, ktp, kk, dsb., ya tinggal request legal document ke pengadilan. Jadi apa sih esensi artikel anda ini? :) . Jangan terbawa2x tulisan pakar2x Bali/Hindu yg rajin baca buku tapi nggak ngerti budaya masyarakat lokal :)

    • dayugayatri says:

      terima kasih atas masukannya :D lopyupul

      1. Esensi saya sebagai penulis adalah menulis..menulis..menulis..
      apa yang saya baca, dengar, lihat, dan saya alami sebagai manusia kelahiran bali ber-ktp hindu saya tulis.
      semoga sih harapannya saya terbebas dari benar dan salah

      2.Esensi tulisan saya untuk dokumentasi pemiliran , dokumentasi fenomena aspek legal (kalo persoalan ke capil segala),
      paling gak, tulisan dari masukan anda kan terbukti, fakta-fakta yang saya paparkan? sebelumnya dari I Gusti jadi Ida Cokorde gitu deh (anda sendiri yang jawab loh…kebenaran bukti -bukti yang saya maksudkan)
      beliau baru berani ganti gelar kan karena didapuk jadi raja…
      nah yang belakangan kan banyak yang gak ngerti kalo gelar itu bisa naik bisa turun..banyakan orang hare gini mikir gelar kebangsawanan itu otomatis. bila perlu menambah gelar kebangsawanan dengan yang paling tinggi…
      meskipun ada yang enggak punya kualitas kebangsawanan. Tinggal bayar, gelar pun nemplok di akte..begitu loh kira-kira

      but, terima kasih banyak yah udah baca…boz…:D happy valentine

  3. Sekedar perbandingan dg Yogya yang cukup unik.:sbb: Istri saya tadinya Rr(Raden Roro)., sekarang (stlh sy urusdi Kraton Yogya) berubah jadi R Ngt(=Raden Nganten),yang masalahnya adalah SEPERTI PENJELASAN YANG ADA PADA SURAT KEKANCINGAN YANG BARUSAJA SAYA TERIMA, Kalau belum kawin (cewek =Rr=Raden Roro),kalo sdh kawin RNgt spt Raden Ajeng Kartini,ssdh kawin mestinya menjadi Raden Ayu Kartini(dlm sejarah kita mengenalnya tetap RA sbg Raden Ajeng. Semua anak+ Cucu saya punya gelar resmi dari Kraton Yogya. Istri saya R Ngt(Raden Nganten bukan Rr(Raden Roro) lagi/ngurusnya sudah nenek2,.Anak2 saya (karena semua sdh kawinmendapat nama syahyang pr=Raden Nganten, yang laki=Raden. Cucu2 sy yg perempuan Raden Roro(Rr), yang laki Raden(R). semua cucu sy (9 orang) puya gelag R (yg lk), dan Rr(Perempuan). kalau sdh besar/kawin yang Pr HRS GANTI GELAR (yg pr)jadi R Ngt. Siapapun orang NON JAWA, yang kawin dg bangsawan jawa bisa mendapatkan GELAR BANGSAWAN KRATON. Persaratannya. Mertua saya punya surat kekancingan yg syah( Akte TULISAN JAWA. Akte itu bertanggal kelahiran mertua saya 1926. Ada surat nikah (yg nyebutkan istri saya tertulis nama mertua saya lengkap dg gelarnya. Beaya yang sy keluarkan (syah dg kwitansi): 1 istri +4 anak+9 cucu=14 0rang @Rp65000=Rp 910000.- Jadi semua anak+cucu saya punya akte nama lengkap dg titel kebangsawanan yang syah bermeterai, tak ada yang bisa GUGAT( he he he). Bagaimana dengan raja2 diBaliApakah ada lembaganya yang syah /memberi gelar. Sri Sultan HB X waktu muda bernama BRM Herjuno Darpido, setelah nikah bernama Pangeran Mangkubumi dsb. Sementara saya sudah tak perduli/tahu Mantan Raja Buleleng, apakah AA Panji Tisna, Gusti Nyoman Panjitisna atau apa. Tolong yang di Bali nanyakan pd ex Raja2 di Bali. Leluhur saya Pasek Gelgel waktu jadi raja bernama Gusti Agung Pasek Gelgel dg segala embel2nya, Setelah berkuasa di Gelgel (selama 7 tahun,tahta dikembalikan ke yang punya, dan GUSTI YANG DISANDANGNYA DIKEMBALIKAN. Kalau tidak dikembalikan gelar itu, NAMA SAYA SEHARUSNYA GUSTI AGUNG PUTU GELGEL WISANATAPA. Hebat kan., tapi,barangkali kalau seperti Sri Sultan TIDAK BOLEH PAKAI GELAR SPT PROF DR IR GUSTI AGUNG PUTU GELGEL WISANATAPA SH MH. ; tapi Sri Sultan Hamengku Buwono Sayidin Pranotogomo,Satriyo Ing Alogo dll panjang sekali, tidak pakai SH MH dst. Sayidin Pranotogomo= mengayomi semua agama dll. SEKIAN, SEMOGA ADA GUNANYA

    • dayugayatri says:

      terima kasih…gimana kalo saya sekarang ebrgelar ida ayu made gayatri menikah dengan keturunan keraton.. gelar apa ya dikasih ke saya? xixixi sekedar pengen tahu..

      • yang penting surat nikah nyebut suami dg gelar R atau RM atau apa, lalu mertua punya surat sah dg gelar itu. BAWA SEMUA KE KANTOR KRATON:foto copy surat syah mertua da/atau suami. , surat nikah harus nyebutkan gelar, sakte kelahiran suami,foto dll. Kalau semua ok, SEMUA ANAK DAN CUCU DAPAT SURAT KEKANCINGAN KARATON. Anda tidak dapat apa2,seperti juga saya. Beayanya spt diatas. OK Mudah2an manfaat

  4. Lyana Dewi Ni komang says:

    iya,, apaun itu kita semua adalah sama.. sama2 mahkluk hidup ciptaan Ida sang Hyang Widhi Wasa…diberi nama,, apapun,,dengan gelar apapun… jika budi pekerti dan perbuatan tdk sesuai dng Dharma,, apalah arti semua itu, bukan berarti sy tdk menghargai jasa atau peninggalan budaya dan sejarah.. semua yg baik hanya pantas dipakai panutan dan teladan bagi kita dlm menjalani hidup ini..

  5. Putu Gelgel says:

    Tambah: sungguh2 tterjadi. Di Yogya almKetut Kayun(Pegawai Kantor Pos 1960)asal br Paketan(skr PaketAgung),di Yogya menamai anaknya dengan nama RATU AYU, tidak mempat digugat Pengadilan Singaraja.Saya mulai domisili Yogya sejak 1959. Pak Kayun itu sebaya dengan alm ayah saya. Jadi percuma memperdebatkan akan kalah di pengadilan. Saya punya sertifikat dari keratonYogya bermeterai . Untuk 13 orang tidak lebih dari 1 juta. Mudah2an ada gunanya

  6. gek ria says:

    saya keturunan pemecutan, ajik saya gusti agung dan nama saya anak agung… tp menurut cerita keluarga saya gg kyk yg dayu katakan.. ini hal yg sensitif utk di publikasikan klo msh rancu faktanya.

    • dayugayatri says:

      Halo Gek Ria,
      Saya ini bekerja sebagai penulis dan pengamat sosial. Saya justru senang kalau Gek Ria bisa memberikan informasi yang tepat. Tugas saya menulis, melengkapi, menulis, menyimak, menambah masukan.. saya tunggu masukannya ya Gek? dulu leluhurnya banyak punya istilah gelar loh? ada kiayi, ada lanang…kalo ada versi lain dari Gek Ria, bagi infonya dunk?
      sebagai penulis, saya harus melepaskan masalah orang suka atau tidak suka, justru dengan memulai menulis, kita jadi tahu ada reaksi dan ada informasi.
      karena kalau orang per-orang ditanya, masing-masing punya versi kebangsawanan sendiri.. setiap klik, klan, punya hierarki sosial juga loh..
      jadi intinya semua orang merasa dirinya terhormat dan berharga..
      masalah sensitif atau tidak, itu relatif gek. ada yang mengannggap tulisan ini referensi, dokumentasi sosial, opini,atau gambaran hiruk pikuk orang bali mengejawantahkan dirinya sebagai mahluk yang bermartabat.
      sekali lagi terima kasih banget kalau gek mau berbagi referensi versi gek atau ajiknya..
      di blog ini saya juga dapat informasi baru-baik untuk saya juga loh?
      jadi bisa belajar, what’s goin on di luar bali sana khususnya cara-cara orang mendapatkan gelar..
      yang terbaru malah kasusnya heboh gelaran JUPE…dari kalimantan..manohara dari surakarta.. jadi jangan sensi-sensi dulu gek..
      kita generasi muda mesti menempatkan dalam konteks hari inilah..belajar dan belajar dari berbagai pihak.
      kembali pada jati diri kita, terlepas dari busana kebangsawanan, gelar yang bisa di bongkar pasang..yang terpenting adalah, kita mengetahui siapa diri kita yang sesungguhnya, sejarah dijadikan panutan bukan lagi sebagai cantelan, setuju gak Gek Ria?
      matur suksema

  7. jbunao says:

    Halo, article yang anda tulis benar benar informatif. Saya ada pertanyaan. Saya bekerja sebagai encoder dan analyst di satu perusahaan di filipina. Dan deskripsi kerja saya untuk mengenalisis dewan manajemen pada perseroan terbuka di indonesia. Masalah saya sekarang, ada kesulitan tuk mengenalisis nama-nama orang indonesia, kalo namanya itu masih bagian nama aslinya atau bagian gelarnya, seperti Gelar Kebangsawanan yang disebut semua di article di atas. Seandainya, dengan nama ini: Anak Agung Gde Arinta Kameswara, “Anak Agung Gde” itu iyalah gelar kebangsawanan, tapi dengan semua dokumen-dokumen resminya orang itu, seperti KTP, passport, SIM, ijazah, etc. dia masih menulis Anak Agung Gde? atau bagaimana. Terima kasi atas balasanya!

    • dayugayatri says:

      1. nama orang bali terdiri dari biasanya meletakkan nama gelar +nama urutan nya dalam keluarga + nama aslinya :
      Anak agung
      I Gusti
      Ni Gusti

      2. nama urutan dalam keluarga :
      anak I : Gede Putu, Wayan,
      anak II : Made, Nengah, Kadek
      anak III : Nyoman, Komang
      anak ke IV ; Ketut

      3. Nama aslinya

      Problemnya adalah ketika di paspor mereka bingung membuat nama surname;
      dari pada bingung mereka mereka memotong namanya menjadi dua : nama gelar+ Nama urutan———>baru namanya sendiri

      nama saya (ida ayu) (made) gayatri

      kami menulis nama kami dalam dokumen dalam keadaan lengkap.

  8. Teman saya mempunyai ajik IGusti Ngurah (asal tabanan) mempunyai 2 orang anak laki-laki.. anak pertama bernama sama seperti ayahnya yaitu IGst Ngurah sedangkan teman saya (anak kedua) bernama A.A. Ngurah.. setelah saya tanya memang budaya di keluarganya IGst dgn A.A. itu setara karena ada juga saudara ajiknya bernama A.A. mempunyai seorang anak yang diberi nama I Gusti.. lalu ada teman saya kakenya A.A. sedangkan dia dan ajiknya bernama Dewa Ngakan karena ayahnya lahir bukan dari istri pertamanya.. Hanya sekedar info saja, semoga bermanfaat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s